3 Maret 2026 Gerhana Bulan Total, Berikut Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Beserta Dalilnya
Amirullah February 26, 2026 12:35 PM

SERAMBINEWS.COM – Fenomena gerhana bulan total akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026.

Peristiwa langit ini bisa disaksikan dari Indonesia, dan seperti biasa, umat Islam dianjurkan untuk tidak sekadar melihatnya, tetapi juga menghidupkan malam itu dengan ibadah.

Dalam ajaran Islam, ketika terjadi gerhana baik bulan maupun matahari umat muslim dianjurkan menunaikan shalat sunnah.

Untuk gerhana bulan, ibadah ini dikenal sebagai shalat khusuf. Hukumnya sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan.

Anjuran ini bukan tanpa dasar. Praktiknya bersandar pada hadis-hadis sahih yang menggambarkan langsung bagaimana Rasulullah SAW melaksanakannya.

Baca juga: Gerhana Bulan Total akan Segera Menghiasi Langit Aceh, Ini Waktu Terbaik Shalat Gerhana

Dalil Sholat Gerhana Bulan

Penjelasan mengenai dalil sholat gerhana pernah dipaparkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Disebutkan, terdapat sejumlah riwayat sahih dari para sahabat dan istri Nabi yang menjadi landasan pelaksanaan shalat gerhana.

Salah satunya riwayat dari Aisyah r.a.:

“Pada shalat gerhana, Nabi Muhammad SAW menjaharkan bacaannya. Beliau melaksanakan empat kali rukuk dalam dua rakaat serta empat kali sujud.”
(HR al-Bukhari dan Muslim, lafaz Muslim dari Aisyah r.a.)

Ada pula riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a. yang menceritakan bahwa gerhana matahari pernah terjadi bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Saat itu, sebagian orang mengaitkannya dengan kematian Ibrahim. Rasulullah SAW kemudian meluruskan:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah salat sampai gerhana itu selesai.”
(HR al-Bukhari)

Riwayat lain dari Abu Mas’ud r.a. juga menegaskan hal serupa:

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang. Akan tetapi keduanya adalah tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat keduanya, berdirilah dan kerjakan salat.”
(HR al-Bukhari dan Muslim)

Hadis dari Aisyah tergolong sunnah fi’liyyah (contoh perbuatan Nabi), sementara dua riwayat lainnya termasuk sunnah qauliyyah (sabda Nabi). Keduanya sama-sama menegaskan bahwa shalat gerhana adalah ibadah khusus yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Lalu bagaimana pelaksanaan sholat gerhana bulan tersebut?

Baca juga: 5 Tips Berhasil War Tukar Uang Baru di pintar.bi.go.id, Siapkan Data hingga Bersihkan Cache Browser

Tata cara sholat gerhana bulan

Berikut ini adalah tata cara sholat gerhana bulan sebagaimana tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

1. Seruan Awal

Shalat gerhana tidak diawali azan maupun iqamah, tetapi dengan seruan:
“Ash-shalātu jāmi‘ah” (marilah kita shalat berjamaah).

2. Rukun dan Urutan Shalat

  • Shalat gerhana dikerjakan dua rakaat, dengan ciri khusus:
  • Setiap rakaat memiliki dua kali rukuk dan dua kali sujud.
  • Total ada 4 rukuk dan 4 sujud dalam 2 rakaat.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Takbiratul ihram, doa iftitah, lalu membaca al-Fatihah.
  • Membaca surat panjang dengan jahr (nyaring).
  • Rukuk panjang.
  • I’tidal (sami‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal-hamd).
  • Berdiri kembali, membaca al-Fatihah dan surat panjang (lebih pendek dari yang pertama).
  • Rukuk panjang (lebih pendek dari sebelumnya).
  • I’tidal, lalu sujud dua kali.
  • Rakaat kedua dilakukan dengan pola yang sama.
  • Salam.

Dasarnya adalah hadis dari Aisyah r.a.: “Nabi SAW menjaharkan bacaan dalam shalat khusuf, beliau melaksanakan dua rakaat dengan empat rukuk dan empat sujud.”

(HR al-Bukhari dan Muslim)

3. Bacaan dalam Shalat

Nabi SAW membaca surat panjang, seperti al-Baqarah atau setara.

Pada berdiri kedua, bacaan lebih pendek daripada bacaan pertama.

Hal ini menunjukkan shalat gerhana memakan waktu lama, sesuai durasi gerhana.

4. Khutbah Setelah Shalat

Setelah salam, imam berdiri menyampaikan khutbah sekali.
Isi khutbah:

  • Pujian kepada Allah.
  • Penegasan bahwa gerhana bukan karena kelahiran atau kematian seseorang.
  • Seruan memperbanyak doa, istighfar, dzikir, dan sedekah.

Pendapat Para Ulama Tentang Bacaan

Imam asy-Syafi‘i dalam al-Umm

Beliau menegaskan bahwa setiap kali berdiri dalam shalat gerhana harus membaca al-Fatihah dan surat panjang. Jika salah satunya tertinggal, shalat tetap sah dengan syarat al-Fatihah tidak ditinggalkan.

Ulama Maliki dan Hanbali

Al-‘Abdari dan al-Maziri menegaskan setelah bangkit dari rukuk tetap dibaca al-Fatihah lalu surat.

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menegaskan hal serupa: al-Fatihah selalu dibaca di setiap berdiri.

Pendapat ini menunjukkan kesepakatan bahwa shalat gerhana berbeda dengan shalat sunnah biasa karena ada dua kali berdiri dan dua kali bacaan per rakaat.

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana

Shalat gerhana dikerjakan sejak awal gerhana hingga selesai.

  • Jika gerhana selesai saat shalat masih berlangsung, shalat tetap diteruskan dengan memperpendek bacaan.
  • Tidak ada qadha setelah gerhana berakhir.

Penegasan Para Ulama

  • Ibnu Qudamah: Waktu shalat gerhana hanya saat gerhana berlangsung.
  • Imam ar-Rafi‘i: Shalat tidak dilakukan setelah gerhana berakhir.
  • Imam an-Nawawi: Waktu shalat berakhir jika seluruh piringan matahari/bulan telah kembali normal.

Siapa yang Disyariatkan Shalat Gerhana?

  • Hanya orang yang menyaksikan gerhana atau tinggal di wilayah yang dilintasi gerhana.
  • Orang yang tidak melihat gerhana tidak dituntunkan shalat gerhana.
  • Hal ini sesuai sabda Nabi: “Apabila kamu melihatnya, maka shalatlah.”

Bahkan Ibn Taimiyyah menegaskan:

Laki-laki dan perempuan semuanya dianjurkan menghadiri shalat gerhana.

Fenomena gerhana bulan total 3 Maret 2026

Dikutip dari Kompas.com, Pelaksana Harian Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Dr. A. Fachri Radjab menyebutkan waktu terbaik untuk menyaksikan Gerhana Bulan Total.

Momen terbaik itu terjadi saat fase total hingga puncak gerhana.

"Waktu terbaik menyaksikan fase gerhana bulan total dari jam 18:03:56 WIB sampai dengan jam 19:03:23 WIB pada saat langit cerah," terang Fachri, Rabu (25/2/2026). 

Untuk wilayah WIB, momen terbaik berlangsung sekitar pukul 18.03 hingga 19.03 WIB.

Pada rentang waktu tersebut, Bulan berada sepenuhnya di dalam bayangan inti Bumi atau umbra sehingga warna merahnya terlihat paling jelas.

Rincian fase Gerhana Bulan Total di seluruh Indonesia

Berdasarkan data BMKG, berikut waktu lengkap setiap fase Gerhana Bulan Total 3 Maret mendatang:

Gerhana Penumbra Mulai (P1)

  1. WIB: 15.42.44
  2. WITA: 16.42.44
  3. WIT: 17.42.44

Gerhana Sebagian Mulai (U1)

  1. WIB: 16.49.46
  2. WITA: 17.49.46
  3. WIT: 18.49.46

Gerhana Total Mulai (U2)

  1. WIB: 18.03.56
  2. WITA: 19.03.56
  3. WIT: 20.03.56

Puncak Gerhana

  1. WIB: 18.33.39
  2. WITA: 19.33.39
  3. WIT: 20.33.39

Gerhana Total Berakhir (U3)

  1. WIB: 19.03.23
  2. WITA: 20.03.23
  3. WIT: 21.03.23

Gerhana Sebagian Berakhir (U4)

  1. WIB: 20.17.33
  2. WITA: 21.17.33
  3. WIT: 22.17.33

Gerhana Penumbra Berakhir (P4)

  1. WIB: 21.24.35
  2. WITA: 22.24.35
  3. WIT: 23.24.35.

Indonesia Timur dapat fase penuh

Fachri mejelaskan, gerhana kali ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.

“Gerhana Bulan Total tanggal 3 Maret 2026 dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Fachri.

Selanjutnya, Fachri memaparkan bahwa wilayah Indonesia Timur berpeluang menyaksikan seluruh rangkaian fase gerhana.

Masyarakat Indonesia Timur dapat menyaksikan mulai dari gerhana penumbra, gerhana sebagian, gerhana total, puncak gerhana, hingga berakhirnya kembali fase penumbra.

Wilayah Indonesia Tengah dan sebagian kecil Indonesia Barat dapat mengamati gerhana mulai fase sebagian hingga penumbra berakhir.

Sementara sebagian besar wilayah Indonesia Barat baru dapat menyaksikan fenomena ini ketika Bulan memasuki fase gerhana total.

Mengapa bulan tampak merah?

Gerhana Bulan terjadi saat cahaya Matahari ke Bulan terhalang oleh Bumi pada fase purnama.

Ketika Matahari - Bumi - Bulan berada dalam satu garis lurus, Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi sehingga terjadilah Gerhana Bulan Total.

Saat puncaknya dan langit cerah, Bulan akan terlihat merah. Warna tersebut muncul karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami hamburan.

Cahaya biru lebih banyak tersebar, sementara cahaya merah tetap lolos dan mencapai permukaan Bulan. Akibatnya, Bulan tampak kemerahan.(ray/tribun-medan.com)

(Serambinews.com/Tribun-Medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.