TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Berdiri lebih dari satu abad, Masjid Ringinagung di Desa Keling Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri tetap kokoh mempertahankan bentuk aslinya.
Bangunan bersejarah yang kini berdiri di area Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung ini menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan Islam di wilayah lereng Gunung Kelud.
Masjid Ringinagung diperkirakan dibangun antara tahun 1825 hingga 1870.
Hingga kini, estafet kepengurusan dan perawatan masjid telah diteruskan oleh generasi ke-6 dan ke-7 dari keluarga pendirinya.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung, Rofi’i Lukman menuturkan bahwa masjid tersebut masih mempertahankan struktur utama sejak awal berdiri.
"Masjid ini dibangun sekitar tahun 1800-an dan sampai sekarang bangunan intinya masih asli. Kami hanya melakukan penambahan di bagian luar untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah," jelas Rofi’i, Kamis (26/2/2026).
Masjid Ringinagung didirikan oleh Mbah Imam Nawawi, tokoh agama yang juga pendiri Pondok Pesantren Mahir Arriyadl di kawasan yang sama.
Sejak awal, masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan dakwah.
Secara arsitektur, masjid ini mengusung gaya joglo dengan atap berbentuk kerucut.
Ciri khas paling menonjol adalah empat soko guru atau tiang utama yang terbuat dari kayu jati.
Keempat tiang tersebut berbentuk persegi dengan sisi kayu sekitar 20 sentimeter dan tetap berdiri kokoh tanpa perubahan sejak pertama kali dibangun.
Struktur inilah yang menjadi penopang utama bangunan joglo di bagian tengah masjid.
Baca juga: Ngabuburit di Rel Berujung Bahaya, KAI Daop 7 Madiun Keluarkan Peringatan Keras
Di sisi lain, tembok khas bangunan jaman dahulu juga masih terlihat jelas. Sisi tembok dengan ketebalan bangunan di tambah dengan fentilasi udara di tiap sisi.
Di depan area masjid, masih terdapat pohon sawo kecik yang tegap berdiri. Pohon ini juga menjadi pintu gapura jika akan memasuki area masjid.
Untuk menampung jamaah yang terus bertambah, terutama para santri pondok pesantren, pengelola menambahkan serambi di bagian depan. N
amun ruang utama berbentuk joglo tetap dipertahankan keasliannya.
"Semua sama seperti dahulu, untuk renovasi seperti pengecetan," imbuh Rofi'i yang juga merupakan keturunan Mbah Imam Nawawi.
Di bagian dalam masjid terdapat delapan jendela dengan bentuk persegi panjang ukuran satu meter ala jaman dahulu dan ornamen setengah lingkaran di bagian atas.
Detail ini memperkuat kesan klasik dan tradisional yang masih terasa kental hingga sekarang.
Di sisi utara masjid, terdapat kentongan dan beduk yang diletakkan di ruang khusus berukuran sekitar empat meter persegi.
Hingga kini, keduanya masih digunakan sebagai penanda waktu salat dan kegiatan keagamaan.
Keunikan lainnya, masjid ini dahulu menggunakan kolam air sebagai tempat bersuci, dengan istilah Jawanya adalah qolah.
Tradisi tersebut masih diteruskan hingga sekarang dan menjadi daya tarik hidup masyarakat pada masa awal berdirinya masjid.
"Setiap beberapa hari, air kolam tersebut diberishkan agar tetap suci," jelas Rofi'i.
Seiring perkembangan zaman, Masjid Ringinagung terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.
Perluasan area dilakukan agar mampu menampung santri dan jamaah saat kegiatan besar keagamaan berlangsung.
Rofi'i menegaskan bahwa menjaga keaslian bangunan merupakan amanah yang diwariskan turun-temurun.
Menurutnya, masjid bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol sejarah dan spiritualitas masyarakat setempat.
"Ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga warisan sejarah. Tugas kami menjaga agar bentuk dan nilai yang ada tetap lestari," jelasnya.
Tak hanya bangunan masjid yang menyimpan nilai sejarah, di kawasan yang sama juga berdiri sejumlah peninggalan bersejarah lainnya.
Baca juga: 7 Pesantren Tertua di Jawa Tengah Berusia Satu Abad Lebih: dari Surakarta hingga Sarang
Di sisi barat masjid terdapat makam Imam Nawawi beserta para keturunannya.
Tak jauh dari sana, di bagian barat laut, masih berdiri rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal Imam Nawawi semasa hidupnya.
Di sisi selatan dan utara kompleks masjid juga terdapat bangunan asrama para santri Pondok Pesantren Ringinagung.
Deretan bangunan ini memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama sejak ratusan tahun lalu.
Salah satu peninggalan yang hingga kini masih difungsikan adalah gentong batu kuno milik Ponpes Ringinagung.
Artefak bersejarah ini memiliki inskripsi yang sarat makna tentang nilai-nilai kehidupan.
Kini, gentong batu tersebut ditempatkan di serambi bagian utara masjid pondok dan tetap digunakan sebagai penampung air minum bagi para santri serta peziarah yang datang ke makam Mbah Imam Nawawi.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik