TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Polemik terkait alumni beasiswa LPDP kembali menjadi perhatian publik setelah pengakuan seorang wanita bernama Dwi Sasetyaningtyas viral di media sosial.
Isu tersebut memicu perdebatan luas, terutama setelah ia memperlihatkan bahwa anak-anaknya telah memperoleh kewarganegaraan Inggris, yang kemudian dikaitkan dengan statusnya sebagai alumni program beasiswa negara.
Di tengah perbincangan yang semakin ramai, artis sekaligus presenter Sabrina Chairunnisa turut memberikan tanggapan.
Mantan istri dari Deddy Corbuzier itu menyoroti sistem pengawasan negara terhadap penerima beasiswa yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
Melalui akun Instagram pribadinya, Sabrina mengaku heran dengan mekanisme pengawasan terhadap alumni beasiswa LPDP, terutama terkait kewajiban penerima untuk kembali dan mengabdi setelah menyelesaikan studi.
• Santet Dosa di Atas Dosa, Luna Maya Totalitas Film Suzanna Rela Makeup Prostetik Berjam-Jam
Ia mempertanyakan mengapa masih ada alumni yang dinilai tidak kembali ke Indonesia meskipun telah menandatangani kontrak dengan negara.
Menurut Sabrina, negara seharusnya memiliki sistem monitoring yang lebih ketat agar program beasiswa benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan nasional.
Ia juga menyinggung fenomena sebagian penerima beasiswa yang dinilai memiliki latar belakang finansial cukup mapan, sehingga menurutnya perlu evaluasi dalam penentuan prioritas penerima.
Selain itu, Sabrina turut mengkritik perilaku sebagian oknum penerima beasiswa yang dianggap kurang bijak dalam menggunakan media sosial.
Ia menilai, memamerkan kemewahan atau mengeluhkan kehidupan studi secara berlebihan saat dibiayai oleh dana negara dapat menimbulkan kesan tidak empati di mata publik.
Pernyataan Sabrina tersebut pun menambah panjang diskusi publik tentang transparansi, akuntabilitas, dan etika penerima beasiswa LPDP.
Hingga kini, isu mengenai alumni LPDP masih menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial, sekaligus menjadi momentum evaluasi bagi program beasiswa pemerintah agar semakin tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
"Enggak semua-semua di sosmed itu kudu diposting. Kenapa? Bisa fire back (menyerang balik)."
"Apalagi ini yang sudah menyalahi aturan, pamer dan sombong pula," tulisnya.
Terbaru, Sabrina kembali menyoroti hal yang tengah ramai tersebut. Menurutnya, tidak pantas untuk membanding-bandingkan hidup di Indonesia maupun di luar negeri, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.
• Benarkan Tidur di Bulan Puasa Ibadah ? Penjelasan Tentang Tidur Puasa Agar Bernilai Ibadah
"Last but not least, menurutku, mbaknya udah dapet kok konsekuensinya. Jadi udahlah kita jg gausah terlalu bitter, terus sampe jadi bu*l1 kemana2 sampe ke anaknya dll dll."
"Apalagi begitu pembahasan semakin liar. Contoh saat banding2 in enak mana indo apa luar. Yes, di luar rasis banyak. Tapi jgn lupa.. banyak dari kita pun RASIS lho, sam beda suku kita aja bisa rasis, belum tradisi meng agung2 an bule di sini.
Jadi sebenernya, namanya tinggal di manapun pasti ada plus minus, kedua kalau ada sesuatu yg kontroversi fokus aja sama masalahnya. Gausah melebar kemana-mana," tambahnya.
Menanggapi polemik alumni LPDP yang tengah ramai dibahas, Sabrina Chairunnisa pun memberikan tanggapannya.
Ia menilai apa yang dilakukan Dwi Sasetyaningtyas memang salah, namun tidak perlu melebar kemana-mana karena semuanya bisa diambil sebagai pembelajaran.
"Yg di lakuin mbaknya mmg salah, 100 persen krn dia adalah penerima LPDP tapi kalau jd jelek2 in negara lain, aku kurang setuju. Jujur aja. Karena balik lagi semua tergantung. Ya kaya aku bahas tadi. Kita aja rasis sama sodara sebangsa sendiri.
Makanya paling bener jadiin kasus ini pembelajaran bagi kita semua. Gak semua hal harus diposting. Bahkan kebahagiaan aja bisa salah. Bijaklah menanggapi sebuah hal yg kontroversial," tulis Sabrina. (*)