Dedi Mulyadi Sentil Warga yang Sering Minta Bantuan, Beri Pesan Menohok
Hilda Rubiah February 26, 2026 03:44 PM

TRIBUNJABAR.ID - Ada momen menarik saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menemui korban bencana banjir di Sukahurip, Ciamis.

Saat dialog dengan warga, Dedi Mulyadi memberikan pesan menohok dan menyentil warga yang sering minta bantuan.

Dalam momen tersebut, sebelumnya terjadi dialog emosional antara warga yang merasa layak menerima bantuan.

Lantas, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa bantuan diberikan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

“Kan kita memberikan bantuan itu kepada warga yang betul-betul membutuhkan,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari tayangan Youtube-nya, Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Kisah Nenek Resih di Bekasi Besarkan Anak-Cucu Yatim, Sujud Syukur Dapat Bantuan dari Dedi Mulyadi

Dedi menjelaskan penerima bantuan itu harus yang masuk kategori miskin dan kehilangan mata pencaharian atau akses pendidikan akibat banjir.

Gubernur Jawa Barat itu menegaskan soal kriteria penerima bantuan dan pentingnya skala prioritas bagi warga paling tidak mampu.

“Kalau yang masih mapan, masih mampu, jangan lah mengkondisikan diri menjadi miskin ya,” imbuhnya.

Dari data penerima bantuan, terungkap bahwa terdapat 250 KK yang diajukan oleh Bupati Ciamis, awalnya hanya 170 KK yang memenuhi syarat verifikasi.

Namun, untuk menghindari perselisihan, Dedi Mulyadi mengambil kebijakan untuk memenuhi seluruh 250 KK tersebut, termasuk sisa 80 KK yang akan diproses dalam waktu dekat.

Meski sudah menjelaskan secara data, tampak warga khususnya ibu-ibu terus berbicara dan mengeluh tak kebagian bantuan tersebut.

Untuk meredam, Dedi Mulyadi menyentil warga yang sering ngotot soal penerimaan bantuan.

“Kalau giliran bantuan semua orang kan ngotot, tapi giliran kerja bakti semua orang mundur,” ujar Dedi Mulyadi menyindir.

Tak sampai di sana, di tengah kerumunan itu warga seolah tak henti mengadu hingga ada warga yang menangis-nangis meminta bantuan Dedi Mulyadi.

Warga tersebut meminta bantuan biaya sekolah anaknya, dan menyebut Dedi Mulyadi orang yang selalu bantu.

Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi langsung tegas menyentil dan memberikan pesan menohok kepada warga yang sering meminta-minta bantuan.

Dedi menegaskan bahwa dirinya memang sering membantu namun ia tak suka diminta.

“Dengerin, Pak Dedi ini orang yang suka membantu, tapi Pak Dedi ini orang yang tidak suka diminta,” ujar Dedi Mulyadi.

Dedi pun menjelaskan seandainya ia terus melayani orang yang meminta-minta, maka dirinya akan sibuk mengurus orang-orang tersebut.

“Jadi Pak Dedi senang membantu orang yang tak meminta,” tegasnya.

Kemudian Dedi memberikan pesan menohok bahwa tangisan tidak akan melahirkan bantuan.

Dedi juga berpesan kepada warga Jawa Barat bahwa bantuan tidak akan memperkaya, tapi kekayaan hanya bisa diraih melalui kerja keras.

Gubernur Jabar itu juga berpesan agar tidak iri ketika orang yang lain mendapat bantuan.

Baca juga: Viral, Warga Tangerang Protes Jalan Rusak Minta Tolong ke Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

Tantangan Dedi Mulyadi Membangun Pola Perilaku Masyarakat

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sempat menyinggung soal tantangannya membangun pola perilaku masyarakat di Jawa Barat.

Hal ini disampaikan Dedi Mulyadi saat menyoroti maraknya pencurian motor di Jawa Barat dalam kegiatan pengembalian barang bukti motor di Mapolda Jawa Barat, Rabu (18/2/2026).

Dedi Mulyadi menyinggung soal eksistensi kejahatan bagian dari pola perilaku masyarakat yang jadi tantangan baginya.

Dedi menjelaskan setahun dirinya memimpin Jawa Barat, baginya membangun infrastruktur jalan, sekolah dan fasilitas publik lebih mudah.

Namun, baginya hal yang tersulit adalah mengubah dan membangun pola perilaku masyarakat, khususnya Jawa Barat.

“Saya sebagai Gubernur, kalau hanya membangun infrastruktur daerah, membangun jalan, sekolah, aliran air irigasi, bagi saya itu mudah asal ada uangnya. Tetapi berulang-ulang yang terberat di Jawa Barat itu adalah berubah perilaku hidup masyarakat,” papar Dedi Mulyadi.

Kemudian, Dedi menjelaskan karakteristik masyarakat Jawa Barat yang sangat terbuka.

Seperti mudah menerima informasi, menelannya dan mudah bereaksi.

Hal tersebut menurut Dedi membuat masyarakat Jawa Barat seolah tampak tak memiliki ideologi kuat seperti di daerah lain.

Kemudian Dedi juga menilai masyarakat Jawa Barat yang punya tingkat hedonisme (gaya hidup) tinggi.

“Jadi ini semua berimplikasi terhadap perilaku sosial,” ujar Dedi Mulyadi.

Lantas Dedi mengatakan perilaku sosial masyarakat itu juga perlu menjadi perhatian kepala daerahnya.

Jika tidak ada upaya pembatasan terhadap perilaku sosial yang menimbulkan kerugian bagi orang lain, ia khawatir masyarakat Jawa Barat kebablasan. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.