TRIBUNNEWS.COM - Legenda sepak bola Italia dan Juventus, Alessandro Del Piero menguliti apa yang menjadi penyebab terpuruknya wakil Serie A di Liga Champions 2025/2026. Del Piero bahkan ingin menangis.
Serie A memang aneh.
Sang juara bertahan musim lalu, Napoli hanya mampu finis di peringkat ke-30 klasemen league phase Liga Champions musim ini.
Dan pemimpin klasemen musim ini, Inter Milan, tersingkir secara nahas di hadapan Bodo/Glimt.
Italia memang punya identitas sepak bola yang kental, tapi entah mengapa laju mereka di Liga Champions sangat buruk musim ini.
Kegagalan klub-klub Italia seolah dijadikan cermin kondisi nasional menjelang play-off timnas.
Musim ini ada empat wakil Italia yang memulai perjuangan di Liga Champions. Napoli langsung tersingkir di fase liga. Inter dan Juventus gagal di play-off fase gugur. Dan kini hanya tersisa Atalanta.
Situasi ini memantik banyak kalangan berkomentar. Satu di antaranya ialah salah satu ikon sepak bola di Negeri Pizza, Del Piero.
Alessandro Del Piero, ikut angkat bicara mengenai kemunduran terbaru sepak bola Italia. Dia mengungkapkan alasan di balik fenomena tersebut.
“Bolehkah saya menangis? Ini situasi yang sulit,” kata legenda tersebut kepada CBS Sports.
“Tidak semuanya seburuk yang terlihat, tapi mungkin 90 atau 95 persen memang begitu. Ini adalah hasil dari apa yang terjadi di Italia dalam beberapa tahun terakhir," imbuh dia.
Del Piero kemudian menyebut faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran sepak bola Italia, di antaranya finansial, stadion, serta pembinaan pemain muda.
“Tingkat investasi rendah. Pasar lain telah menjadi jauh, jauh lebih besar daripada kami," tutur Del Piero.
“Masalah? Stadion. Kita tahu bahwa untuk berkembang, kita harus tampil lebih baik di luar lapangan."
“Sistem pembinaan usia muda? Kita akan melihat Borussia Dortmund bermain melawan Atalanta dengan dua pemain Italia kelahiran 2008. Maaf? Apa yang terjadi? Mengapa kita tidak memiliki pemain Italia seperti ini, mengapa mereka bermain untuk Dortmund?” imbuh dia.
Baca juga: Dari Finalis Jadi Pupuk Bawang, Pahitnya Kejatuhan Juventus di Liga Champions Eropa
Del Piero merasa ada sesuatu yang hilang di banyak aspek. Namun, dia menyebut Italia harus menyatukan banyak potongan untuk mendapatkan solusinya.
“Kami tidak ingin mencetak sejarah dengan memutus rekor 41 tahun ini. Terutama menjelang akhir bulan bersama tim nasional," ujar pria yang dulu berjulukan Pinturicchio tersebut.
“Saya percaya bahwa secara finansial, tim-tim kami harus lebih teratur. Tidak memiliki begitu banyak utang. Tidak semua dari kami memiliki pemilik seperti Juventus yang bisa menulis cek besar di akhir musim."
“Kita perlu menemukan kembali kecintaan pada permainan, bukan hanya di lapangan. Kita harus lebih bertanggung jawab terhadap apa yang kita tampilkan kepada publik, karena terkadang terlalu banyak kontroversi. Kita perlu menemukan kembali tradisi, bukan hanya untuk para pemain muda," sambung pria berusia 51 tahun tersebut.
Del Piero juga menegaskan klub-klub besar Serie A harus mengakhiri budaya saling bertukar pemain satu sama lain.
“Kita memiliki begitu banyak transfer antara tim-tim besar, Inter-Juve, Milan-Inter, Fiorentina-Juve, Inter-Napoli,” ujarnya.
“Hal seperti ini tidak terjadi di liga lain. Saya tidak mengatakan ini salah. Namun hubungan-hubungan seperti inilah yang membawa kita ke situasi sekarang. Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ‘Apa yang sebenarnya kita butuhkan?’” imbuh dia.
Musim ini, dua wakil Italia tersingkir di babak play-off Liga Champions. Musim lalu, jumlahnya bahkan tiga. Sebelumnya, klub-klub Italia juga pernah tersingkir oleh wakil Belgia dan Belanda, kini oleh klub Norwegia dan Turki.
Nama-nama seperti Ivan Perisic, Noa Lang, Victor Osimhen, hingga Jens Petter Hauge, pemain yang pernah dianggap surplus, kembali menghantui liga lamanya.
Reaksi publik pun berlebihan. Ada klaim sensasional yang membandingkan struktur gaji Bodo/Glimt dengan klub-klub divisi ketiga Italia.
Hasil buruk ini lalu dikaitkan dengan kecemasan lama, yaitu bayang-bayang timnas yang terancam absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
(Tribunnews.com/Giri)