Soal Adik Bunuh Kakak di Kelapa Gading, sang Ibu Bantah Pilih Kasih
Bobby Wiratama February 26, 2026 09:33 PM

TRIBUNNEWS.COM - Seorang remaja berinisial MAH (16) tega memukul kakak kandungnya MAE (22) dengan palu hingga tewas di rumah mereka di kawasan Kelapa Gading Timur, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Ibu korban Nurul Arifah mengatakan, kejadian berlangsung sangat cepat dan dipicu persoalan keluarga yang telah berlangsung lama.

Menurutnya, konflik rumah tangga akibat perselingkuhan sang ayah membuat kedua anaknya menyimpan tekanan emosional selama bertahun-tahun.

"Sudah tiga tahun rumah tangga kami cekcok karena perselingkuhan ayahnya. Anak-anak sakit hati dan kesal, jadi emosinya sering meluap," ujar Nurul di lokasi, Kamis (26/2/2026).

Ia menyebut, kemarahan kedua anak itu sering dilampiaskan di dalam rumah karena mereka tidak lagi memiliki komunikasi dengan ayahnya.

Nurul mengungkapkan, selama tujuh bulan terakhir anak-anaknya tidak dapat berkomunikasi maupun bertemu dengan sang ayah.

Ia pun membantah anggapan adanya perlakuan pilih kasih yang disebut-sebut menjadi pemicu pertengkaran.

Nurul justru berujar bahwa perhatian lebih banyak diberikan kepada pelaku karena kondisi kesehatan adiknya yang kerap sakit lambung dan menjalani pengobatan.

"Kalau dikatakan pilih kasih itu tidak benar. Saya justru lebih fokus ke adiknya karena sakit-sakitan," tuturnya.

Ia menekankan, kedua anaknya dikenal sebagai pribadi baik dan mempunyai latar belakang pendidikan agama yang kuat.

Nurul menyatakan, keduanya rajin beribadah dan tumbuh dalam lingkungan pesantren.

Baca juga: Handuk Jadi Pemicu, Adik Bunuh Kakak Pakai Palu di Kelapa Gading

"Kedua-duanya anak baik. Rajin salat, mengaji, dan puasa. Ini murni karena emosi dan miskomunikasi yang terjadi sangat cepat," ucapnya.

Pada hari kejadian, pertengkaran disebut terjadi secara tiba-tiba hingga berujung kekerasan yang menyebabkan korban tewas.

Nurul mengaku sempat berusaha meminta pertolongan warga, tetapi situasi berlangsung terlalu cepat sehingga tidak dapat dicegah.

Ia berharap tragedi yang menimpa keluarganya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar konflik rumah tangga tidak berdampak pada kondisi psikologis anak.

Nurul menekankan pentingnya peran kedua orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak meskipun terjadi perpisahan dalam keluarga.

Motif dan Latar Belakang

Kepada penyelidik, MAH mengaku aksi brutal tersebut merupakan luapan emosi yang telah lama terpendam akibat konflik berulang dengan korban.

Pihak kepolisian menemukan adanya masalah komunikasi dalam keluarga.

Pelaku diketahui memiliki sifat pendiam dan menyimpan persoalan pribadi tanpa disampaikan secara terbuka.

Selain itu, pelaku disebut menyimpan rasa cemburu karena merasa orang tuanya lebih memperhatikan sang kakak.

Faktor psikologis ini kini menjadi salah satu fokus pendalaman penyidik.

Kejiwaan Pelaku Diperiksa

Untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku, polisi berencana melakukan pemeriksaan psikiatrikum.

Saat ini, penyelidikan masih terus berlangsung.

Penyidik Satres PPA Polres Metro Jakarta Utara masih memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan barang bukti guna mengungkap secara menyeluruh motif di balik peristiwa tragis tersebut.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa konflik sepele bisa berujung maut ketika emosi tak terkendali.

(Tribunnews.com/Deni)(TribunJakarta.com/Gerald Leonardo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.