Kesehatan Mental Orang Papua Menjadi Masalah Serius, Arianto Kogoya: Seribu Warga Berobat di RSJ
M Choiruman February 27, 2026 10:29 AM

Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA- Keprihatinan menyelimuti perasaan Anggota Komite III DPD RI asal Papua Pegunungan, Arianto Kogoya saat berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura, Kota Jayapura, Jumat (27/2/2026). 

Dia prihatin sekaligus bersedih lantaran ada seribu warga Papua tercatat datang berobat ke RSJ Abepura. Hal ini menunjukkan persoalan Kesehatan mental menjadi permasalahan serius di Bumi Cenderawasih. 

Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Jayapura Lindungi Pekerja Rentan RSJ Abepura, Jamin Pedagang hingga Nelayan

“Kami melihat langsung pasien di RSJ Abepura ini rata-rata Orang Asli Papua. Masalah kesehatan mental ini sangat serius. Dari penjelasan dokter, hampir seribu orang tercatat datang berobat di rumah sakit ini,” ujar Arianto Kogoya kepada Tribun-Papua.com.

Oleh karena itu, perlu perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah, mengingat pelayanan Kesehatan mental di Papua berada dalam siatusi yang sangat memprihatinkan. 

Apalagi RSJ Abepura, Kota Jayapura ini merupakan satu-satunya rumah sakit jiwa yang melayani seluruh masyarakat di wilayah Tanah Papua, sehingga beban pelayanan yang ditanggung sangat besar.

 “Ini satu-satunya rumah sakit jiwa di Papua. Pasien dari berbagai provinsi datang ke sini untuk mendapatkan pelayanan,” tegasnya. 

Dari hasil peninjauan itu, Arianto menilai kondisi fisik RSJ Abepura sudah tidak layak, karena ada beberapa bagian bangunan yang mulai rusak. 

Baca juga: Tindak Lanjut Kerja Sama Pemkab Sarmi dengan RSJ Abepura, Kadis Kesehatan Dorlina Haay Bilang Begini

Selain itu, juga keterbatasan lahan, minimnya fasilitas penunjang, serta tidak tersedianya ruang terbuka hijau menjadi persoalan serius dalam proses pemulihan pasien gangguan jiwa.

“Lingkungannya padat penduduk, tidak ada ruang pengembangan, dan fasilitas penunjang sangat terbatas. Padahal rumah sakit jiwa membutuhkan ruang terbuka agar pasien bisa bersosialisasi dan menjalani terapi dengan baik,” tegasnya.

Selain infrastruktur, Arianto juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga medis yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental.

“Tenaga kesehatan juga masih kurang. Rumah sakit jiwa tidak bisa disamakan dengan rumah sakit umum karena penanganannya khusus dan membutuhkan SDM yang benar-benar memadai,” tambah Arianto.

Ia mengungkapkan bahwa pihak manajemen RSJ Abepura telah mengusulkan relokasi rumah sakit ke lokasi yang lebih luas sejak dua tahun terakhir. 

Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga terealisasi, karena ini rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Papua, maka dibutuhkan kebijakan dan keberpihakan serius dari pemerintah daerah.

Baca juga: Pemkab Jayapura akan Gandeng RSJ Abepura Tangani Orang Dalam Gangguan Jiwa

Arianto menegaskan, persoalan kesehatan mental harus menjadi perhatian bersama, termasuk pemerintah pusat. 

Ia berharap ke depan setiap provinsi di Tanah Papua memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa sendiri agar tidak seluruh beban pelayanan terpusat di Jayapura.

 “Kami juga berharap ada kerja sama dan kolaborasi antarprovinsi. Saat ini pasien dari enam provinsi datang ke sini, bahkan banyak yang hanya datang untuk mengambil obat karena keterbatasan layanan di daerah masing-masing,” ujarnya.

Baca juga: RSJ Abepura Gelar Bimtek Pengelolaan Keuangan, Daniel: Semua ASN Harus Paham Laporan

Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma. Para senator melihat langsung ruang perawatan pasien serta mendengar pemaparan dari pihak manajemen dan tenaga medis rumah sakit.

Filep Wamafma mengatakan, persoalan kesehatan mental di Papua merupakan masalah serius, terbukti tingkat kunjungan ke RSJ mencapai seribu warga. 

Angka tersebut belum mencerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Sebab, masih banyak masyarakat di wilayah pesisir, pegunungan, hingga perkotaan yang mengalami gangguan kesehatan mental namun belum tersentuh layanan medis.

Baca juga: Idap Gangguan Jiwa, Tersangka Perusakan Patung Bunda Maria di Timika Dikirim ke RSJ Abepura

“Yang datang berobat ini baru sebagian kecil. Masih banyak yang berada di luar sana dan belum kita tangani karena keterbatasan fasilitas, tenaga medis, dan kurangnya kesadaran bersama tentang pentingnya kesehatan jiwa,” katanya.

Keberadaan RSJ Abepura memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya rumah sakit jiwa di Tanah Papua. 

Oleh sebab itu, diperlukan langkah serius berupa pemetaan ulang, penataan fasilitas, serta peningkatan jumlah dan kualitas tenaga medis, khususnya dokter spesialis kejiwaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.