TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA — Bagi Voni Blesia (36), gelar doktor di bidang Biomedical Science dari University of Westminster, London, bukanlah sekadar pencapaian akademik pribadi.
Gelar tersebut adalah mandat untuk pulang dan membangun tanah kelahirannya, Papua.
Alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini memutuskan kembali ke Papua dengan kesadaran penuh.
Meski memiliki latar belakang keilmuan kesehatan yang kuat, Voni kini memilih mengabdi di sektor pendidikan melalui Papua Hope Language Institute (PHLI).
"Saat kita bicara mengenai Papua, banyak sektor yang perlu dibenahi, tapi dua yang utama adalah pendidikan dan kesehatan," ujar Voni, dikutip dari laman resmi LPDP, Jumat (27/2/2026).
PHLI adalah Lembaga Pendidikan yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua untuk membekali pemuda Papua guna melanjutkan studi ke luar negeri.
Baca juga: Kisah Medelky Anouw: Melepas Karier di Amerika demi Mengabdi di Papua Tengah
Tumbuh dari ketrbatasan
Lahir di Sorong pada 1990, Voni tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang pendidikan formal yang terbatas.
Ayahnya tidak bersekolah, bahkan untuk membaca pun tidak terlalu lancar. Sementara ibunya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD).
Namun, lingkungan kerja sang ayah di sektor pertambangan asing membuka cakrawala bahwa pendidikan adalah kunci perubahan nasib.
Dengan modal sumber daya yang terbatas itu, ayah Voni bisa bekerja di lingkungan pertambangan asing dan mengembangkan diri di sana.
Dia bertemu dengan orang-orang dengan latar pendidikan tinggi baik dari dalam dan luar negeri membuat pemikiran sang ayah menjadi terbuka.
"Jadi pemikiran terbuka yang dipengaruhi dari lingkungan pekerjaan serta lingkungan keluarga yang baik, berharap agar anak-anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang tinggi meskipun dia tidak sekolah," ungkap Voni.
"Selain itu, biarlah bapa yang berasal dari dusun dan tinggal dengan kulit kayu ini dapat menghasilkan anak-anak yang jauh lebih baik," imbuhnya.
Hasilnya, kakak tertuanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Timika, kedua di sektor kesehatan di Kabupaten Biak, ketiga, dirinya sendiri, bekerja di New Zealand dan juga merampungkan studi PhD.
Namun, perjalanan akademik Voni penuh pengorbanan. Pada saat masih duduk di bangku AS, ibunya meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal.
Voni bercerita, kala itu akses terhadap pelayanan Kesehatan di Papua memang buruk sekali.
Inilah yang memantik Voni untuk memilih jurusan kesehatan sejak S1 sampai terus bertahan di S3.
“Mungkin tidak harus menjadi dokter, tapi bahkan orang-orang yang bisa membuat kebijakan itu pun sangat membantu sekali,” katanya.
Untuk mewujudkan mimpinya itu, Voni hijrah ke Timika, Provinsi Papua Tengah untuk menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)-nya.
Melanjutkan S1 ke luar negeri
Voni memang dikenal sebagai siswa yang cerdas. Dia terpilih menjadi peserta angkatan pertama program “1.000 Doktor” yang dicanangkan oleh Gubernur Barnabas Suebu kala itu.
Seperti namanya, program ini bertujuan untuk mencetak banyak anak-anak Papua yang mengenyam pendidikan tinggi hingga doktor.
Mereka yang lolos proses seleksi dan rekrutmen kemudian dikirim mengikuti training persiapan di bawah asuhan langsung Yohanes Surya yang dikenal sebagai tokoh pendidikan peduli anak-anak Papua.
Di Karawaci, Jawa Barat itulah Voni bersama rekan-rekan Papua lainnya mendapatkan bekal pendidikan hingga akhirnya berangkat ke Coban University mengambil Ilmu Kesehatan pada tahun 2009 untuk gelar Sarjananya.
Baginya, kesempatan berkuliah di luar negeri sejak S1 adalah sebuah tanda akan prestasi dan privilese yang gemilang.
Tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu termasuk bahkan untuk rata-rata anak di Pulau Jawa.
Namun, hampir empat tahun di negeri jauh bukanlah waktu yang terlalu menyenangkan bagi Voni.
Sebab, persiapan yang cuma beberapa bulan itu tak cukup membuatnya mampu berbahasa Inggris dengan lancar.
“Melihat kemampuan bahasa Inggris yang menurut saya seharusnya saya tidak bisa berangkat. Tapi ya dengan kerja keras kemudian akhirnya bisa mendapatkan hasil (bahasa) yang sangat baik,” kenang Voni.
Kepintaran Voni itu akhirnya bisa tetap bersinar di tempat yang jauh sekalipun. Dia terus berlatih dan beradaptasi hingga mahir berbahasa Inggris.
Namun kini tercatat database Coban University dengan predikat cumlaude di bidang Ilmu Kesehatan saat diwisuda pada Mei 2013.
Bagi Voni, mengakses pendidikan tinggi sebagai perempuan Papua juga punya makna mendalam.
Baca juga: Kisah Merlins Waromi, Perempuan Papua Lulusan Tercepat Dokter Spesialis UGM Yogyakarta
Dia ingin menjadi bagian dari inspirasi anak-anak Papua agar melihat sosok perempuan yang bisa berkuliah tinggi sampai ke negeri jauh.
“Bahwa kata orang kita (perempuan) selalu kembalinya di dapur, ya itu kan role kita yang lain gitu. Tapi hal itu tidak membatasi kita untuk menggapai impian kita,” kata Voni.
Melanjutkan S2 di luar negeri
Setelah lulus, Voni sebenarnya ingin langsung melanjutkan ke jenjang S2 lagi. Namun terkendala peraturan pemerintah daerah yang belum memberi kesempatan lagi.
Setelah berhasil meyakinkan pihak-pihak pemerintah daerah terkait bahwa S2 yang ingin ia tempuh akan punya dampak kontribusi bagi perkembangan Papua, lampu hijau kembali ke Inggris menyala.
Voni resmi berangkat ke London lagi dengan mengambil Biopharmaceuticals di King's College London pada 2013.
Tantangan baru kembali dihadapinya lagi. Dia dituntut cepat belajar aksen British sementara sebelumnya telah mati-matian belajar Inggris aksen Amerika.
Belum lagi lingkungannya yang bagaimanapun harus perlu ada adaptasi segera dalam waktu cepat mengingat kuliah S2 di Inggris hanya setahun saja.
“Jadi memang berkuliah itu sendiri susah, tapi kalau kita punya komunitas yang tepat itu pasti sangat baik untuk membantu kita survive dan berkembang,” ujar Voni.
Beasiswa S3 dengan LPDP
Mudah bagi Voni untuk mengetahui adanya beasiswa LPDP yang mampu mewujudkan keinginannya untuk merampungkan jenjang studi S3.
Dia bercerita, kala itu Voni mendengar pendaftaran LPDP dari beberapa rekan dan orang-orang lainnya.
“Saya dengar dari percakapan-percakapan orang seperti itu, kemudian cari-cari di internet dan kemudian apply sendiri,” ungkapnya.
Pada 2016, alumni SMA Negeri 1 Timika ini kembali ke London. Di sana dia mengambil gelar PhD bidang Biomedical Science dari University of Westminster.
Gelar S3-nya itu berhasil tercapai melalui disertasinya tentang kelebihan glukosa dan zat besi yang bisa memicu diabetes tipe-2.
Penelitian disertasi Voni juga terbit dalam jurnal PubMed berjudul “Excessive Iron Induces Oxidative Stress Promoting Cellular Perturbations and Insulin Secretory Dysfunction in MIN6 Beta Cells” pada Mei 2021.
Memilih untuk pulang ke Papua
Setelah lulus S3, Voni memutuskan untuk pulang ke Papua. Dia merasa, sebagai orang yang mengenyam pendidikan di luar negeri, dia harus memberikan kontribusi ke tanah airnya.
Papua menjadi tempatnya mengabdi karena menurutnya wilayah ini harus berkembang dan terus memproduksi orang-orang kritis untuk pembangunan sumber daya manusia guna meraih kemajuan.
Namun, Voni memilih untuk mengabdi di bidang pendidikan.
Menurut Voni, pendidikan adalah pintu masuk bagi masyarakat Papua untuk berkembang pesat. Hal ini karena pendidikan mampu memunculkan pemikiran kritis dan itu yang dibutuhkan Papua saat ini, termasuk dengan adanya beasiswa LPDP.
“Kita punya banyak ide-ide, tapi apakah itu kritis dengan mengambil semua pertimbangan, semua faktor, karena kita biasanya berpikir hanya pertimbangan satu ini saja, gitu,” ungkap Voni.
Baginya, pendidikan adalah salah satu yang menjawab kebutuhan tidak hanya mendapat knowledge tetapi proses pendidikan itu sendiri akan amat membantu untuk mengasah proses berpikir.
“Tinggalkan kenyamanan karena kita di daerah sendiri, berhenti punya sikap kegengsi-gengsian. Harus embrace dengan kehidupan modern dan siap berkompetisi agar tidak tertinggal," tuturnya.
Pengabdiannya itu berlabuh ke Papua Hope Language Institute (PHLI). Sejak 2020, dia menjadi pengajar sekaligus kepala student life di kelas matrikulasi dan membantu pengurusan pemerintah.
Kelas matrikulasi adalah kelas khusus yang berisi anak-anak asli Papua lulusan SMA untuk disiapkan dalam melanjutkan pendidikan sarjana ke luar negeri.
“Kami membuka recruitment bagi setiap anak Papua mulai yang bersekolah di kota maupun yang di kampung. Kami mempost link di social media platform dan siapa saja bisa mengaksesnya,” terang Voni.
Di sini, para murid yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah daerah ini nantinya akan digembleng dengan berbagai materi pembekalan terutama kemampuan bahasa Inggris dengan berjenjang.
Mereka juga diajarkan tentang pembentukan rohani, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan penekanan identitas sebagai orang Papua.
Setelah melewati program persiapan universitas ini, mereka yang mampu mendapatkan standar skor Duolingo & baik secara akademik dinyatakan layak melanjutkan pengenalan materi kuliah langsung yang diampu oleh George Fox University sebagai partner.
Kuliah yang seharusnya membutuhkan 4 tahun di luar negeri menjadi 3 tahun dikarenakan 1 tahun berkuliah secara daring di Papua dengan SKS di Amerika.
Yayasan tersebut juga bekerja sama dengan kampus-kampus lain seperti Coban University, California Baptist University dan lainnya.
Alasan pindah haluan dari kesehatan ke pendidikan
Kegiatan di tempat kerja Voni nampaknya memang jauh dari dunia kesehatan seperti yang ditekuni dari S1 hingga S3 terakhir. Dia kini justru berkecimpung di dunia pendidikan.
“Saya melihat seperti gelar saya ini sudah berpindah dari kesehatan ke pendidikan, yang mana pendidikan juga sangat penting sekali di Papua,” ucap Voni.
Dengan perannya sebagai pengajar sains dan kesehatan inilah segala materi dan wacana pengetahuannya hingga PhD ini menjadi punya arti yang mendalam saat disampaikan kepada anak-anak didiknya di sana.
Menurut Voni, melalui kualitas sumber daya yang tinggi, bisa sangat membantu dalam proses pekerjaan pendidikan saat ini.
"Lagipula proses selama S1 sampai S3 juga bagian dari pendidikan itu sendiri sehingga semuanya satu kesatuan yang melengkapi," imbuhnya. (*)
Sumber: kompas.com