(Penulis: Putri Salsabilah, Mahasiswa Bahasa Indonesia UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Abdul Gias Tomayahu, pemuda asal Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, mengukir prestasi gemilang.
Abdul telah menerbitkan lima buah buku dan meraih rentetan medali emas di tingkat nasional sepanjang tahun 2025.
Buku yang ditulis Abdul antara lain Pelan-Pelan Pulang, Luka yang Ditulis Langit, Ngerti Bahasa Paham Budaya, serta 26 Hari Menemukan Kekuatan Diri.
Lantas, siapa Abdul Gias Tomayahu?
Abdul Gias Tomayahu merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Warga Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, ini tumbuh dalam asuhan kakek dan neneknya.
Ia memulai pendidikan dari PAUD di Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara.
Setelah itu, ia melanjutkan ke TK Teratai, kemudian bersekolah di SDN 1 Leboto yang kini bernama SDN 10 Kwandang.
Pendidikan menengah pertama ia tempuh di SMP Negeri 2 Kwandang, lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Gorontalo Utara.
Saat ini ia merupakan mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Gorontalo dan sedang berada di semester 4.
Awal mula jadi penulis
Kehidupan masa kecilnya jauh dari kemewahan, bahkan ia tidak memiliki ponsel maupun akses internet di rumahnya.
Namun, dari kesederhanaan itulah tumbuh ketekunan dan daya juang yang membawanya menjadi sosok literat yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Kegelisahan terhadap maraknya kesalahan berbahasa di media sosial menjadi pemantik utama lahirnya karya perdana Gias yang berjudul Ngomong Jangan Asal: Panduan Bahasa Indonesia yang Nggak Bikin Pusing.
Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Putra Adi Dharma (YPAD) Yogyakarta ini telah memiliki ISBN resmi dan ditulis dengan gaya bahasa yang komunikatif.
"Menulis bagi saya bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling konsisten dan bertanggung jawab terhadap gagasannya," ungkap Gias saat diwawancarai mengenai prinsip kepenulisannya.
Tahun 2025 menjadi "tahun emas" bagi Gias. Ia berhasil menyabet berbagai penghargaan bergengsi di tingkat nasional.
Prestasi tertingginya adalah medali emas dengan Predikat A+ pada Olimpiade Sains Hari Kebangkitan Nasional (OSHKN) Bidang Bahasa Indonesia.
Tak berhenti sampai di situ, ia kembali memperoleh medali emas (Predikat A+) pada Kompetisi Sains Hardiknas Nasional (KSHN) Bidang Bahasa Indonesia.
Tidak berhenti di situ, Gias kembali meraih Medali Emas (Predikat A+) dalam ajang Brilliant Science Competition (NSSC) Bidang Bahasa Indonesia.
Abdul juga mengoleksi Medali Emas (Predikat A-) pada Ajang Sains & Matematika Indonesia (ASMI) Bidang Sejarah.
Selain prestasi akademik yang mentereng, Abdul Gias Tomayahu aktif dalam kegiatan organisasi dan pengembangan diri.
Ia pernah menjadi Winner Duta Budaya Fakultas Sastra dan Budaya UNG Tahun 2024.
Puncak pencapaiannya di bidang kebudayaan adalah terpilih sebagai Duta Ragam Nusantara Provinsi Gorontalo Tahun 2025.
Di kancah nasional, Gias konsisten mempromosikan nilai-nilai filosofis dan kebudayaan Gorontalo kepada khalayak luas.
Ia percaya bahwa bahasa dan budaya adalah identitas yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Tidak hanya piawai menulis populer, Gias juga mendalami dunia riset melalui kajian psikolinguistik yang mendalam.
Penelitiannya tentang analisis mengenai Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dan Implikasinya terhadap Pemrosesan Bahasa Mahasiswa dalam Pembelajaran Menulis Akademik.
Kompetensinya pun diakui secara profesional melalui sertifikasi Certified Basic Educator (C.BE) yang diakui oleh Kemnaker RI dan Kominfo.
Ia juga meraih sertifikasi Certified Book Reference Writer (C.BRW) untuk kepenulisan buku referensi akademik tingkat nasional.
Baca juga: Sosok Suci Priyanti Kartika Chanda Sari, Satu-satunya Anggota Perempuan KPID Gorontalo
Dalam lima tahun ke depan, Gias menargetkan untuk menyelesaikan pendidikan sarjana dengan hasil terbaik.
Ia memiliki rencana matang untuk melanjutkan studi ke jenjang magister guna mendalami ilmu linguistik.
Cita-citanya sangat mulia: menjadi akademisi sekaligus budayawan yang mampu membangun ruang literasi di daerah.
Ia ingin melahirkan generasi muda Gorontalo yang kritis, berkarakter, dan mencintai budayanya sendiri.
Gias berharap, kisahnya dapat memotivasi anak-anak desa di seluruh Indonesia untuk berani bermimpi besar.
"Latar belakang bukanlah batas masa depan," tegas Gias dengan penuh keyakinan.
Prestasi, menurutnya, tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian melawan takut dan lelah.
"Kita tidak harus menjadi hebat untuk memulai, tetapi kita harus berani memulai untuk menjadi hebat," tutup Abdul Gias Tomayahu. (*)