TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Waktu Sore, seketika angin laut berembus pelan menyapu pucuk-pucuk ilalang di atas Bukit Cinta, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang.
Langit perlahan berubah jingga. Dari kejauhan, suara gemuruh kereta api memecah hening, melintas di rel yang membelah lanskap pesisir utara Jawa.
Bagi sebagian orang, momen seperti ini adalah cara sederhana merayakan waktu jelang berbuka puasa menikmati senja, laut, dan sensasi kereta melintas dari ketinggian.
Bukit Cinta kini menjadi satu di antara destinasi favorit warga Gringsing dan sekitarnya.
Baca juga: Satpol PP Batang Berikan Peringatan ke 5 Tempat Karaoke yang Nekat Buka Saat Ramadan
Lokasinya berada di sisi barat Pantai Jodo, menawarkan panorama laut utara sekaligus rel kereta api aktif yang membentang di bawahnya.
Dengan tiket masuk sekira Rp 2.000 per orang untuk biaya parkir, tempat ini menjadi alternatif wisata murah meriah untuk keluarga maupun anak muda yang ingin ngabuburit dengan suasana berbeda.
Warga Kecamatan Gringsing, Ayit (38) mengatakan baru pertama kali datang ke Bukit Cinta.
Awalnya, ia berniat menuju pantai, namun informasi dari warga sekitar mengubah rencananya.
“Baru pertama kali ke sini. Awalnya mau ke pantai, tapi diberi tahu orang sini kalau ada bukit. Jadi penasaran dan akhirnya ke sini,” kata Ayit kepada Tribunjateng, Jumat (27/2/2027).
Momentum libur kerja dimanfaatkannya untuk menghabiskan waktu menunggu azan magrib.
Duduk santai di atas bukit bersama temannya, ia bisa menyaksikan matahari perlahan tenggelam sekaligus melihat kereta api melintas tepat di bawahnya.
“Di sini bisa menikmati sunset dan melihat kereta api dari atas bukit. Jarang ada tempat seperti ini,” ucapnya.
Namun di balik keindahan itu, Ayit menyadari risiko yang ada.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati rel kereta api aktif tanpa pembatas atau palang pintu.
“Sebenarnya berbahaya karena melewati rel kereta api tanpa ada pembatas. Kalau mau ke sini ya harus benar-benar hati-hati dan waspada,” ungkapnya.
Meski ada larangan beraktivitas di sekitar rel dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Ayit berharap ada solusi yang lebih aman.
“Harapannya bisa diberikan jalan yang lebih aman dan nyaman kalau memang tempat ini mau terus dikunjungi,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ana (39), warga Kecamatan Subah.
Ia datang karena penasaran setelah melihat Bukit Cinta viral di media sosial.
“Saya ke sini karena penasaran, sempat viral. Setelah sampai, ternyata memang cukup bagus,” kata Ana.
Menurutnya, kombinasi laut, senja, dan kereta api menciptakan pengalaman visual yang unik.
Namun ia tak menampik rasa waswas saat harus melintasi rel aktif.
“Kalau ke sini harus benar-benar hati-hati, karena melewati rel kereta api yang masih aktif,” ujarnya.
Ana berharap ada perhatian lebih terhadap akses keselamatan.
Baginya, potensi wisata Bukit Cinta sangat besar.
“Harapannya ada jalan yang lebih aman dan baik. Soalnya tempat seperti ini jarang ada. Semoga bisa lebih aman dan bagus,” ucapnya
Bukit Cinta bukan hanya soal pemandangan.
Ia adalah ruang pertemuan antara alam, aktivitas transportasi, dan gaya hidup masyarakat.
Di bulan Ramadan, tempat ini menjadi titik temu warga yang ingin ngabuburit dengan nuansa berbeda lebih tenang, lebih dekat dengan alam.
Hamparan laut utara yang luas, cahaya matahari yang memantul di permukaan air, serta siluet kereta yang melintas menciptakan komposisi visual yang memikat.
Banyak pengunjung mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel, membagikannya di media sosial, hingga menjadikannya latar foto keluarga.
Namun di balik romantika itu, ada tanggung jawab bersama untuk menjaga keselamatan.
Keindahan Bukit Cinta menjadi pengingat bahwa destinasi wisata alam yang tumbuh dari antusiasme warga tetap membutuhkan perhatian terhadap aspek keamanan.
Bagi Ayit dan Ana, Bukit Cinta adalah tentang pengalaman sederhana, duduk, menunggu azan, berbagi cerita, dan menyaksikan senja.
Tapi lebih dari itu, mereka menyimpan harapan yang sama agar keindahan ini bisa dinikmati dengan rasa aman dan nyaman oleh siapa pun yang datang. (Ito)