Laporkan Penceramah, Mahasiswi Ngaku Alami Tindakan Asusila di Hotel, Pelaku Tak Mau Tanggung Jawab
Murhan February 27, 2026 02:47 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID -  Seorang mahasiswi berinisial SU asal Malang melaporkan seorang dai atau penceramah berinisial MS ke Polres Pamekasan, Jawa Timur.

Laporan dilakukan SU pada polisi pada Senin, 23 Februari 2026.

SU adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Pamekasan. 

Sementara pelaku MS dikenal sering diundang sebagai dai di Kabupaten Pamekasan.

Kuasa hukum SU, Mansurrowi, mengatakan bahwa sudah melaporkan MS pada 23 Februari 2026.

"Lima hari lalu kami sudah melapor dan sudah terbit laporan Polisi," kata Mansurrowi, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Sering Meluber ke Jalan, Tumpukan Sampah di Rumah Pilah Kuin Utara Banjarmasin Dikeluhkan Warga

Mansurrowi mengungkapkan, SU dan MS sudah berkenalan sejak akhir tahun 2022. 

Pada April 2023, SU dijemput MS ke kampusnya dan dibawa ke salah satu home stay di Pamekasan.

"Di situlah terjadi tindakan asusila secara paksa kepada SU," ujarnya.

Pasca kejadian asusila, SU sempat meminta MS bertanggung jawab. 

Namun, upaya tekanan dan teror justru diterima oleh korban.

Akibat MS tidak bertanggungjawab, SU akhirnya memberi tahu pihak keluarga. 

Sehingga dilakukan komunikasi agar MS bertanggungjawab.

"Saat itu, MS berjanji akan menikahi korban dan menandatangani surat pernyataan," katanya.

Namun, Mansurrowi menyebut, MS tidak menepati janji untuk menikahi korban. 

Bahkan, teror semakin sering diterima oleh korban.

"Dua kali klien saya ditipu untuk dinikahi setelah mendapatkan tindakan asusila selama tiga tahun," ujarnya.

Mansurrowi berharap pihak Kepolisian bekerja profesional dalam kasus ini. Tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan.

"Klien saya butuh keadilan. Kami sangat berharap polisi profesional," katanya.

Kasatreskrim Polres Pamekasan, AKP Yoyok Hardianto, mengatakan bahwa laporan kasus tersebut baru diterima dan sudah ditangani penyidik.

"Kami sudah menerima laporannya sejak kemarin. Kami akan panggil sejumlah pihak," pungkasnya.

5 Cara Mencegah Pelecehan

Psikolog Meity Arianty memberikan sejumlah langkah agar perempuan dapat lebih waspada dan terhindar dari pelecehan seksual. Berikut ini langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan.

1. Tetap Waspada dengan lingkungan sekitar 

Menurut Meity, kewaspadaan adalah langkah pertama untuk menghindari pelecehan, bahkan ketika kita sedang bersama orang yang dikenal baik sekalipun.

“Hal sederhana yang harus dilakukan untuk menghindari pelecehan seksual apapun bentuknya. Harus waspada, dia teman atau bukan, Anda tidak boleh terlena,” ujar Meity kepada Kompas.com, Sabtu (24/5/2025).

Pelecehan bisa terjadi di lingkungan terdekat, termasuk dari orang-orang yang awalnya dianggap aman. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga kewaspadaan tanpa terkecuali.

2. Jaga batasan

Pelecehan seksual tidak selalu berawal dari niat pelaku. Meity menyebutkan, kejahatan sering terjadi karena adanya peluang yang terbuka.

“Terkadang kejahatan terjadi bukan karena pelaku memiliki niat, tapi karena ada kesempatan, sehingga pandai-pandailah menjaga diri dan melihat dengan siapa Anda bergaul,” jelas Meity.

Dengan menjaga jarak dan batasan dengan orang lain, terutama yang belum dikenal baik, perempuan bisa memperkecil risiko terjadinya pelecehan.

3. Waspada di tempat umum

Di ruang publik seperti jalanan, penting untuk tetap fokus pada sekitar. Kebiasaan berjalan sambil bermain ponsel bisa membuka celah bagi pelaku.

“Waspada dimana Anda berada, misalnya di jalan, jangan sambil bermain HP tapi fokus pada sekitar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Meity.

Kondisi jalanan yang sepi atau kurang penerangan bisa menambah risiko. Maka, tingkatkan kewaspadaan, khususnya saat bepergian sendirian.

4. Tetap berhati-hati meski di lingkungan yang dianggap aman

Bagi pelajar, lingkungan sekolah seharusnya jadi tempat yang aman. Namun, pelecehan bisa saja terjadi dari teman sebaya hingga tenaga pendidik, seperti beberapa kasus yang beredar.

“Begitu pula jika di sekolah, fokus agar terhindar dari siswa-siswa yang iseng,” kata Meity.

Apabila mendapatkan tanda-tanda yang mengarah ke pelecehan seksual, baik secara verbal maupun non verbal, jangan takut untuk segera lapor ke pihak sekolah ataupun orang yang bisa dipercaya.

Begitu pula dengan lingkungan sekitar, apabila melihat langsung teman ataupun orang sekitar menjadi target pelecehan seksual, beranikan diri untuk membantu korban.  

5. Percaya insting

Menurut Meity, insting sering kali bisa menjadi alarm awal ketika kita berada dalam situasi yang mencurigakan atau tidak aman.

“Biasanya insting akan membantu kita untuk menghindari situasi yang tidak nyaman atau ada hal yang kurang baik ke depannya, sehingga gunakan itu untuk lebih hati-hati,” jelas Meity.

Jika merasa tidak nyaman atau merasakan firasat buruk, segera tinggalkan situasi tersebut atau minta bantuan. Percayai naluri kamu sebagai langkah pencegahan pertama.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.