UAJY Dorong Peran Perempuan Adat Sumba Timur dalam Perumusan Kebijakan Berkelanjutan
Yoseph Hary W February 27, 2026 08:01 PM

 

UNIVERSITAS Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bekerja sama dengan University of Huddersfield, UK, The Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC), serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) Sumba menyelenggarakan “Workshop Penguatan Keterlibatan Perempuan Desa dalam Perumusan Kebijakan Ekonomi Berkelanjutan” pada 11–12 Februari 2026 di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi perempuan adat untuk menyuarakan masalah, tantangan, serta gagasan mereka secara langsung kepada pemerintah daerah dalam konteks perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Bagian dari penelitian

Workshop ini merupakan bagian dari penelitian berjudul “Her Land, Her Voice: Co-Creating Inclusive Climate Policies and Capacity Pathways with Indigenous Women in East Sumba, Indonesia”.

Penelitian sosial ini didukung hibah dari The University of Huddersfield Policy Support Fund dengan tim peneliti dari UK: Dr. Jialin Wu (University of Huddersfield), dari Indonesia: Prof. Gregoria Arum Yudarwati, S.I.P., M.Mktg. Comm., Ph.D., bersama Pupung Arifin, M.Si. dari UAJY, Dr. Dominggus Elcid Li, Director of IRGSC (The Institute of Resource Governance and Social Change), dan tim dari SOPAN, dengan pendampingan dari Prof. Emeritus Anne Gregory dari University of Huddersfield, UK.

Prof. Arum menegaskan bahwa perempuan adat memiliki posisi yang sangat penting karena mereka mengalami

“Perempuan adat, mereka yang pertama merasakan dampak krisis iklim dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, ekonomi, pertanian dan pangan. Tetapi sering kali mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan kebijakan,” ujar Prof. Arum. 

Suara perempuan

Dalam pelaksanaannya, perempuan adat menyampaikan berbagai persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan akses air bersih akibat musim hujan yang semakin pendek, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan keluarga, pertanian, peternakan, hingga beban kerja domestik. 

“Isu utama yang paling banyak disampaikan perempuan adat adalah persoalan air. Akses air semakin sulit karena kualitas dan intensitas hujan hanya berlangsung sekitar tiga bulan dalam setahun. Air menjadi kebutuhan paling mendasar dan dampaknya sangat luas, mulai dari kesehatan, pertanian, peternakan, hingga kebutuhan rumah tangga,” ujar Pupung.

Persoalan lain yang mengemuka adalah tantangan pertanian berkelanjutan. “Upaya pertanian sering kali rusak karena tanaman dimakan ternak. Perempuan adat menekankan pentingnya ketersediaan jenis bibit yang sesuai dengan kondisi mikro iklim di wilayah mereka,” tambah Prof. Arum.

Terkait aspek ekonomi, Pupung menyampaikan bahwa perempuan adat sebenarnya memiliki banyak gagasan.

“Pengembangan ekonomi lokal masih terbatas. Meskipun ada potensi seperti kacang-kacangan, pengembangannya belum optimal. Padahal, perempuan adat memiliki ide-ide ekonomi yang kuat dan kontekstual dengan kondisi lokal,” tuturnya.

Komitmen Pemkab Sumba

Komitmen pemerintah daerah terhadap hasil penelitian ini ditunjukkan melalui tindak lanjut konkret. Kepala Bappeda Sumba Timur, Zainal Abidin Abbas, S.Sos, M.Si., menyampaikan bahwa perencanaan pembangunan daerah harus berbasis riset dan data. 

“Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mendukung penuh upaya penguatan kapasitas perempuan adat agar dapat terlibat aktif dalam proses perencanaan  dan pengambilan kebijakan pembangunan daerah,” ujarnya.

Bahkan, perwakilan perempuan adat dan komunitas lokal diundang secara resmi untuk terlibat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal, penelitian dan workshop ini diharapkan dapat memperkuat posisi perempuan adat sebagai aktor penting dalam perumusan kebijakan iklim dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

UAJY berharap inisiatif ini dapat menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang memastikan suara perempuan adat tidak hanya didengar, tetapi juga diintegrasikan secara nyata dalam kebijakan publik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.