Kultum Ramadan tema: Takwa Tidak Hanya Spiritual, tetapi Juga Sosial oleh Ustad Muhammad Soim, M.Ag., Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Wassalatu wassalamu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Saudara-saudara di manapun berada yang dirahmati Allah SWT, alhamdulillah kita sudah sekian hari menjalani ibadah puasa Ramadan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita, memberikan taufik, hidayah, serta inayah-Nya agar kita bisa melaksanakan ibadah puasa ini sampai selesai, dengan harapan diterima oleh Allah SWT.
Kita tahu bahwa perintah puasa sudah termaktub di dalam Al-Qur’an yang ditutup dengan kalimat la’allakum tattaqun, agar kalian semua bertakwa. Tentu yang menjadi pertanyaannya, ketika kita menelusuri Al-Qur’an, ada beberapa ayat yang juga diakhiri dengan kata takwa. Takwa di sini menjadi tujuan dari puasa itu sendiri.
Termasuk dalam pembahasan takwa, terdapat ayat dalam Surat Al-An’am ayat 153. Ayat ini juga ditutup dengan kata la’allakum tattaqun. Jika kita membuka tafsir, misalnya tafsir Abu Zahrah, dijelaskan bahwa ayat ini merupakan penutup dari rangkaian ayat sebelumnya, yakni Surat Al-An’am ayat 151 sampai 153.
Ayat-ayat tersebut menjelaskan wasiat-wasiat Allah SWT. Ada sepuluh wasiat di dalamnya. Disebutkan bahwa wasiat tersebut bertujuan membangun masyarakat insani yang sempurna, yang berdiri di atas asas ta’awun insani—saling tolong-menolong dalam kemanusiaan—serta mawaddah, sikap lemah lembut, mencegah keburukan, dan menjaga masyarakat, termasuk orang-orang yang lemah.
Allah tidak hanya menjadikan hamba itu bertakwa melalui ibadah spiritual seperti puasa saja, tetapi juga melalui ibadah sosial. Membangun masyarakat yang manusiawi dan sempurna, serta membangun sikap saling tolong-menolong antarmanusia, termasuk dalam kategori takwa. Artinya, Allah tidak hanya berbicara tentang agama, tetapi juga tentang kemanusiaan, bahkan dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan.
Selanjutnya, ada kitab yang bernama Hifdzul Wathan yang dikarang oleh Romo Kiai Muhammad Said, salah satu dzurriyah dari Pondok Lirboyo. Beliau mengklasifikasikan empat fondasi dalam menjaga keharmonisan umat dan bangsa agar menjadi bangsa yang lebih baik.
Pertama, menguatkan persatuan umat, saling menolong di tengah masyarakat dan bangsa. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika berada di Kota Madinah. Beliau membuat perjanjian di antara masyarakatnya, melakukan ta’awun tanpa memandang suku maupun agama, serta menyatukan kelompok-kelompok yang ada pada masa itu.
Kedua, memelihara ketenteraman dan keamanan umat, bangsa, dan masyarakat, serta mengaplikasikan maslahat yang lima, yaitu menjaga agama (hifdzud din), menjaga jiwa (hifdzun nafs), menjaga harta (hifdzul mal), dan seterusnya. Maka sebagai umat yang telah diberikan contoh oleh Rasulullah SAW, kita sebagai umat yang berbangsa dan bernegara harus menjaga satu sama lain. Tidak perlu menyinggung, menyakiti, ataupun mencampuradukkan urusan keimanan satu dengan yang lain.
Ketiga, melaksanakan secara terus-menerus hal-hal yang lebih utama, lebih baik, dan lebih penting bagi umat, serta lebih menyeluruh dalam kemaslahatan di segala aspek kehidupan. Bagaimana melakukan pembaruan yang lebih baik, lebih penting, dan lebih menyeluruh untuk umat. Hal ini perlu dijaga dalam bidang ekonomi, pendidikan, terutama dalam mendidik dan mencetak umat Islam. Itu sangat penting.
Keempat, gharsul mahabbatil wathan, menanamkan cinta tanah air dalam setiap jiwa masyarakat dengan makna yang benar, tentunya sesuai tuntunan Islam yang benar. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh ulama kontemporer Yusuf al-Qardawi. Beliau mengatakan bahwa hubbul wathan syai’un maghrusun bin nufus, mencintai tanah air adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa.
Cinta tanah air tidak hanya dimiliki oleh orang Islam saja. Ia adalah fitrah manusia yang dimiliki seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir, Arab maupun non-Arab, putih maupun hitam. Apa pun warna kulit seseorang, ia memiliki fitrah kemanusiaan untuk mencintai tanah kelahirannya.
Oleh karena itu, masyhur sebuah pepatah atau syair: engkau boleh berpindah-pindah cinta, engkau boleh memindahkan hatimu kepada siapa pun yang engkau inginkan, tetapi ingat, cinta sejati adalah milik yang pertama. Begitu pula betapa banyak bumi yang engkau pijak dan tempati, tetapi kerinduanmu akan tetap milik tanah airmu, tanah kelahiranmu.
Saudara-saudara di manapun berada yang dirahmati Allah, dari ayat ini salah satu pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa untuk menjadi orang yang bertakwa tidak hanya melalui ibadah spiritual, tetapi juga ibadah sosial. Ketika ibadah sosial itu dibentuk dan dimusyawarahkan dengan baik hingga menjadi sistem dalam kehidupan kenegaraan, maka itu menjadi tujuan yang mulia demi kemakmuran masyarakat, umat, dan bangsa.
Ini adalah salah satu nilai besar dalam Islam. Oleh karena itu, mari kita jaga persatuan, mari kita jaga momen-momen penting, serta saling menjaga satu sama lain. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Indonesia ke depan menjadi negara yang lebih baik, lebih damai, dan sentosa.
Mungkin itu dari kami. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: Kultum Ramadan: Akhlak Mulia sebagai Buah dari Puasa di Bulan Suci