Susu Kotak Pertama dalam Genggaman Anak-anak di Tapal Batas Negara 
Alfons Nedabang February 28, 2026 01:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Lima orang anak berpakaian olahraga berlari kecil ke arah jalan raya ketika sopir sebuah mobil box mulai memperlambat laju kendaraan tepat di depan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tublopo 2. Hari itu, Jumat, 20 Februari 2026. Mega menggantung pekat di puncak langit. Pertanda rintik hujan bakal turun di wilayah itu.

Julio Vindi Sila (11) bersama seorang rekannya menjinjing dua ikat ompreng aluminium berisi makanan siap saji dari mobil tersebut ke dalam ruang guru. Beberapa saat kemudian, ompreng aluminium itu diambil dan disimpan di atas meja guru di depan ruang kelas itu.

Bocah yang akrab disapa Vindi ini dan 9 orang rekan lainnya merupakan siswa Kelas V. SDN Tublopo 2 ini terletak di Kampung Muken, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Sekolah tersebut berjarak sekira 25 kilometer dari pusat Kota Kefamenanu (Ibukota Kabupaten TTU). Kondisi jalan yang cukup sulit menyebabkan waktu tempuh bisa mencapai 1 jam untuk tiba di sekolah ini.

Semua ruang kelas di sekolah ini berdinding bebak (dinding yang terbuat dari pelepah daun gewang; salah satu pohon yang hidup di daratan Pulau Timor, NTT) dan atap terbuat dari seng bekas. Atap dari 5 ruang kelas terbuat dari seng bekas. Sedangkan satu ruang kelas lainnya beratapkan daun lontar.

Sekolah ini berada tepat di pinggir ruas jalan Kota Kefamenanu menuju Desa Maurisu. Para siswa terlihat menikmati fasilitas sekolah sederhana tersebut.

Suasana hening menyelimuti ruang kelas ini. Sebelum dibagikan kepada masing-masing siswa, Vindi memimpin doa makan di depan kelas.

Para siswa duduk rapi di atas kursi usang dengan meja berwarna cokelat nyaris kehitaman dimakan usia. Usai doa, mereka kemudian membagikan ompreng tersebut kepada rekan-rekannya.

Senyum merekah di wajah para bocah-bocah ini. Mereka menyantap menu hidangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan lahap.

Musim Hujan, Memakai Sepatu adalah Pilihan 

Sejak mengenyam pendidikan di SDN Tublopo 2, Vindi mengaku diinformasikan oleh para gurunya bahwa mereka tidak diwajibkan menggunakan sepatu ke sekolah pada musim hujan. Pasalnya, lantai tanah ruang kelas itu tidak menunjang anak-anak menggunakan sepatu.

Beberapa orang anak tetap menggunakan sepatu ke sekolah. Sedangkan, beberapa orang lainnya menggunakan alas kaki berupa sendal jepit ke sekolah.

Kondisi ini telah berlangsung lama. Musim hujan merupakan petaka terbesar bagi siswa-siswi di sekolah ini sejak direlokasi ke tempat ini pada tahun 2018 lalu.

Atap seng bekas berpadu atap daun lontar sangat mengganggu proses belajar mengajar di sekolah itu. Selama 7 tahun mereka menikmati kondisi dan fasilitas sederhana ini.

Pada kondisi tertentu, para guru meminta anak-anak untuk pulang terlebih dahulu dari waktu yang ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh banjir dan kondisi atap ruang kelas yang selalu bocor ketika dilanda hujan.

Susu Kotak Program MBG
SUSU KOTAK - Susu Kotak Program MBG yang disajikan SPPG Kefamenanu Sasi 1, Jumat (20/2/2026).

Terkadang, mereka mengikuti proses belajar mengajar dengan kondisi kaki direndam banjir. Persoalan menahun yang telah menjadi budaya di sekolah itu. 

Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di wilayah pedalaman NTT, Vindi merasa kondisi ini merupakan sesuatu yang biasa. Karena hakikat dari pendidikan itu adalah ilmu dan moral

Anak Seorang Petani

Setiap hari, Vindi dan beberapa orang rekannya berjalan kaki dari rumah tempat mereka berdomisili ke sekolah. Mereka menempuh perjalanan sejauh 1 kilometer.

Ia merupakan anak seorang petani di Desa Tublopo. Ayahnya bernama Gregorius Goris Sila dan Ibunya, Paulina Abi. Vindi memiliki seorang adik perempuan yang saat ini mengenyam pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Sebagai anak seorang petani, Vindi mengaku rajin ke sekolah. Pasalnya, pendidikan merupakan investasi masa depan bagi mereka merubah kondisi hidup.

Mengikuti proses belajar mengajar di ruang kelas yang tidak memadai bukan persoalan bagi mereka. Meskipun begitu, ia mengharapkan bangunan di sekolah tersebut bisa dibangun dengan lebih layak.

Ia bersyukur dilahirkan di tengah keluarga sederhana dengan cinta yang tak pernah habis. Meskipun orang tuanya bukan merupakan orang berkecukupan namun, mereka selalu diberikan motivasi untuk rajin ke sekolah.

Susu Minuman "Kaum Bangsawan"

Vindi mengaku senang menjadi penerima manfaat Program MBG. Ia mengakui bahwa masakan yang dihidangkan sangat enak. Setiap hari mereka mengkonsumsi daging ayam.

"Enak sekali. Kalau di rumah, jarang makan ayam," ujarnya dengan nada suara serak.

Selain mengonsumsi makanan yang disajikan dari Program MBG, Vindi mengaku senang minum susu. Susu biasanya disajikan pada Hari Jumat oleh Dapur SPPG.

Sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana, Vindi mengakui bahwa, minuman susu dalam benak mereka adalah minuman mahal yang hanya bisa dikonsumsi kaum bangsawan (yang dalam Bahasa Dawan disebut "Usif") atau mereka yang berekonomi mapan.

Bagi Vindi, susu merupakan minuman mahal yang disajikan ibunya pada Hari Raya Natal, Tahun Baru dan Hari Raya Paskah (Hari Raya Umat Kristen). Namun susu yang disajikan adalah susu kaleng dan susu dalam kemasan sachet.

Perspektif ini terbentuk di benak bocah ini sejak usia dini. Oleh karena itu, merupakan sebuah kehormatan bagi dia dan rekan-rekannya ketika menikmati susu dalam Program MBG.

Ia mengaku kaget ketika susu disajikan dalam kemasan kertas karton berbentuk kotak. Fenomena yang tidak biasa bagi seorang anak yang lahir dan dibesarkan di desa.

Sebelumnya, mereka tidak pernah mengonsumsi susu dalam kemasan berbentuk kotak. Mereka menyebutnya dengan nama Susu Kotak MGB.

"Biasanya susu buat dengan air panas dan gula," ujarnya sambil tersenyum kecil.

Saat ini, mereka mulai rajin ke sekolah untuk mengikuti proses belajar mengajar. Karena dengan rajin ke sekolah mereka bisa memperoleh banyak pengetahuan dan menikmati makanan yang disajikan setiap hari.  

Program MBG Sasar SDN Tublopo 2 

Kepala Sekolah SDN Tublopo 2 melalui Wali Kelas 4, Godefridus Manue Meko, S. Pd mengatakan, 70 orang siswa mengenyam pendidikan di SDN Tublopo 2. Meskipun kondisi sekolah tidak memungkinkan, hal ini tidak mengurangi semangat anak-anak datang ke sekolah walaupun saat musim hujan.

Ia menjelaskan, sekolah tersebut berdiri pada 20 Juli 1990. Namun, mereka baru direlokasi ke bangunan sederhana itu sejak 8 Agustus 2018 lalu. 

"Ketika di musim hujan kalau kami melihat kondisi cuaca kalau sudah mendung walaupun belum jam sekolah kami pulangkan mereka ke rumah masing-masing. Kondisi gedung juga sering kemasukan banjir dan air lewat atap yang bocor lantai tanah berlumpur sehingga ketika musim hujan siswa-siswi bisa memakai sendal ke sekolah," ungkapnya.

Sebanyak 9 orang guru dan operator sekolah mengabdikan diri di sekolah ini. Mereka dianugerahi berkat berlimpah karena bangunan yang sebelumnya merupakan Polindes Desa Tublopo dimanfaatkan untuk ruang guru, ruang kepala sekolah dan 1 ruang kelas.

Ia berharap, bangunan sekolah ini bisa mendapatkan perhatian agar siswa-siswi bisa mengenyam pendidikan dengan nyaman dan aman. Ruang kelas sekolah ini dibangun secara swadaya oleh orang tua/wali murid.

Menurutnya, SDN Tublopo 2 mulai menjadi sarana Program MBG pada Bulan Oktober tahun 2025 lalu. Kehadiran program ini merupakan angin segar bagi sekolah itu. 

Sebagai seorang guru, Godefridus menilai ada perubahan signifikan yang terjadi di sekolah itu. Sebelum program ini menyasar sekolah tersebut, siswa-siswi kurang aktif ke sekolah. Namun, sejak Program MBG menyasar sekolah ini, siswa-siswi aktif ke sekolah dan antusias mengikuti pelajaran.

Selain itu, siswa-siswi terlihat lebih ceria ke sekolah mereka juga lebih aktif mengikuti pelajaran di kelas. Suasana ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

Susu Jadi Salah Satu Menu Utama Program MBG 

Kepala Dapur SPPG Kefamenanu Sasi 1, Antonia Padua Seran Tori mengatakan, dalam Program MBG, mereka diwajibkan menyajikan menu yang memiliki kandungan protein hewani. Biasanya, Dapur SPPG menyajikan menu yang mengandung protein hewani sejak Hari Senin hingga Kamis dalam bentuk makanan basah atau makanan berat yakni ayam dan telur. Mengingat proses belajar mengajar hanya berlangsung hingga Hari Jumat maka, pendistribusian pada hari terakhir disajikan dalam dua jenis yakni makanan basah dan makanan kering.

"Makanan kering ini kami ganti protein hewani ini menggunakan susu," ujarnya.

Sesuai Juknis yang ditetapkan BGN, susu merupakan salah satu menu wajib yang harus diberikan kepada anak-anak, ibu hamil dan bayi-balita. Susu yang diberikan ini juga merupakan susu murni (susu segar yang tidak diberi perasa atau gula tambahan).

Terbaru, Dapur SPPG ini mulai memberikan susu merk Susu Sekolah kepada para penerima manfaat. Susu dengan kemasan aseptik ini merupakan standar yang ditetapkan BGN.

Susu itu harus disimpan di dalam ruangan ber-AC pada suhu 25° sampai 30°. Susu Sekolah ini mengandung protein 3 gram, serat 2 gram dan zat besi 10 gram.

Dapur SPPG Kefamenanu Sasi 1 melayani 2632 penerima manfaat. Selain anak-anak sekolah, mereka juga melayani, ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita. 

Sebanyak 19 sekolah dan 3 posyandu yang menjadi sasaran distribusi MBG dari dapur ini. Mereka melayani 8 sekolah jenjang PAUD, 7 SD, 2 SMP, 2 SMK/SMA. Sampai saat ini Program MBG telah mencakup 27.255 penerima manfaat. Saat ini 9 dapur telah beroperasi di Kabupaten TTU.

Kandungan Protein pada Susu dalam Penyajian Makanan Program MBG 

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, Pauyulia Alfira, SST mengatakan, 
kandungan susu sangat penting dalam perkembangan anak. Karena, susu mengandung protein yang membantu anak semakin tinggi dan menunjang pertumbuhan otak anak.

"Karena protein itu berperan penting dalam pertumbuhan anak yang membentuk anak menjadi tinggi dan termasuk pertumbuhan otak. Protein ini bisa saja protein nabati atau hewani," ujarnya.

Ia menjelaskan, pada usia 0-2 tahun anak wajib mengonsumsi ASI. Karena pada usia tersebut, pertumbuhan anak sangat cepat dan merupakan usia emas bagi pertumbuhan otak anak. Pada usia 5 tahun pertumbuhan otak anak menginjak fase sempurna.

Program MBG memberikan suplai gizi yang cukup untuk anak. Kendati usia emas anak adalah 1000 hari pertama namun, idealnya susu harus diberikan kepada anak sampai usia sekolah bahkan menginjak usia 21 tahun.

Pertumbuhan signifikan pada anak sejak 0 tahun sampai pada usia 16 tahun. Oleh karena itu, pada rentang waktu ini anak wajib mengonsumsi susu sehat agar menunjang pertumbuhan mereka.

Gedung Sekolah SDN Tublopo 2 di TTU
SEKOLAH DARURAT - SDN Tublopo 2 di Kampung Muken, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara. Tampak siswa-siswi bermain di halaman bangunan sekolah darurat, Jumat (20/2/2026).

"Usia 17 sampai 21 tahun juga masih masa pertumbuhan hanya mulai melambat dan batas pertumbuhan anak sampai usia 21 tahun," ungkapnya.

Seyogyanya, kemasan susu menjadi salah satu aspek penting dalam penyajian. Walaupun demikian, pada hakikatnya susu kemasan wajib memenuhi kriteria; kedap udara, kedap cahaya dan beberapa persyaratan lainn.

Saat ini banyak kemasan susu yang terbuat dari kertas karton yang dibungkus dengan aluminium foil. Aluminium foil ini penting untuk menjaga susu tidak terkontaminasi bakteri.

Sementara susu kemasan kaleng wajib dipanaskan (pasteurisasi) terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Susu kemasan ini harus tertutup rapat dan waktu dibuka berbunyi klik.

Susu yang beredar saat ini secara khusus susu yang disajikan dalam menu MBG sangat layak untuk dikonsumsi. Selain karena kemasan yang bagus dan praktis, kandungan lapisan aluminium foil menjadi faktor penentu mencegah susu dari kontaminasi bakteri.

"Karena selama ini juga rutin diperiksa oleh Balai POM," ujarnya.
 
Selain itu kemasan susu juga harus tersegel dengan rapi, dan rapat. Susu yang masuk standar sehat harus memiliki logo Balai POM dan halal serta tercantum tulisan dalam kemasan 100 persen susu segar.

Selama ini Dinas Kesehatan Kabupaten TTU melakukan pengecekan dan pemantauan di lapangan untuk memastikan penyajian makanan Program MBG sesuai standar yang ditetapkan BGN.

Pauyulia menyebut, MBG sangat membantu Kabupaten TTU keluar dari masalah stunting yang selalu menjadi persoalan utama di wilayah perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse ini. Saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten TTU terus berupaya mengedukasi masyarakat tentang manfaat mengonsumsi susu.

Wilayah Perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse 

Kabupaten TTU terdiri dari 24 kecamatan dan 193 desa/kelurahan. Luas wilayah kabupaten yang dijuluki "Bumi Biinmaffo" ini 2.669,70 kilometer ⊃2;.

Kabupaten TTU merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi NTT terletak di lokasi yang sangat strategis. Wilayah Kabupaten TTU berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Distrik Oecusse.

Distrik Oecusse merupakan sebuah wilayah enklave Negara Timor Leste yang terletak di antara Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTU.

Sebelum terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Distrik Oecusse merupakan provinsi ke 27 yakni Provinsi Timor Timur. Meskipun berbeda negara, masyarakat Oecusse dan masyarakat di wilayah Kabupaten TTU, NTT pada umumnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat.

Karena letak geografisnya yang berada di wilayah perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse, Kabupaten TTU sering disebut sebagai kabupaten perbatasan atau masuk kategori wilayah 3T.

Hal ini tidak menjadi penghalang ataupun kendala bagi masyarakat di wilayah ini untuk berinovasi dan berkreasi menghapus stigma negatif terhadap tanah kelahiran mereka

Susu Kotak Pertama dalam Genggaman Anak-anak di Tapal Batas Negara  

Berdasarkan data, pada tahun 2022 angka stunting di Kabupaten TTU 38,7 % . Sementara pada tahun 2023 angka stunting di Kabupaten TTU meningkat menjadi 42,7 % . Sementara angka prevalensi stunting Kabupaten TTU tahun 2024 meningkat menjadi 47,3 % . 

Angka prevalensi stunting ini menjadi salah satu indikator bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan ke depan. Program MBG merupakan salah satu upaya pemerintah menekan angka stunting.

Menurut data terbaru tahun 2025/2026, tingkat konsumsi susu masyarakat indonesia baru mencapai sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Apabila dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, angka ini tertinggal jauh dari Malaysia (42,7 liter), Vietnam (37,2 liter), dan Singapura (46,1 liter).

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan, saat ini sebanyak 9 dapur SPPG telah beroperasi di Kabupaten TTU. Secara akumulasi dibutuhkan sekitar 77 Dapur SPPG untuk melayani 87.000 penerima manfaat di Kabupaten TTU.

Falentinus mengatakan, berdasarkan data terkini, total sebanyak 33 Dapur SPPG yang bakal dibangun di Kabupaten TTU. Sementara Dapur SPPG wilayah 3 T di Kabupaten TTU sebanyak 44 titik dengan rincian; sebanyak 20 titik sudah diminati oleh investor lokal, 15 titik bakal dibangun Polres TTU. Sedangkan 9 titik lainnya sudah diminta oleh investor lokal.

Falentinus mengaku terharu ketika pertama kali mendengar kisah yang disampaikan Siswa SD Negeri Tublopo 2 bernama Julio Vindi Sila. Kisah ini merupakan fakta dan cambuk sekaligus motivasi bagi pemerintah daerah untuk memberikan yang terbaik bagi generasi muda.

Mengingat susu kotak pertama kali dinikmati siswa-siswi SDN Tublopo 2 ketika menjadi sasaran Program MBG maka, Pemda TTU berupaya menambah jumlah dapur demi mendorong cakupan konsumsi susu yang lebih baik. Pasalnya, kandungan protein pada susu manjur menekan angka prevalensi stunting.

Pemda TTU berikhtiar meningkatkan cakupan konsumsi susu melalui edukasi, sosialisasi dan membangkitkan geliat ekonomi masyarakat akar rumput yang lebih baik. Selain itu, Pemda TTU menempuh langkah strategis dengan menggandeng investor asal Iran untuk pengembangan peternakan modern di Kabupaten TTU sekaligus pembangunan pabrik susu terkonsentrasi di Kabupaten TTU.

"Langkah-langkah ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dan menekan harga susu sekaligus mendorong minat konsumsi susu yang tinggi di kalangan masyarakat khususnya anak-anak dan generasi muda demi menekan angka stunting," ujarnya.

Pada tahun 2025 lalu, angka stunting di Kabupaten TTU turun menjadi 30,27 % . Angka ini turun 17?ri tahun sebelumnya. Kisah susu kotak pertama dalam genggaman siswa-siswi sekolah dasar di perbatasan RI-RDTL dari Program MBG membawa dampak besar bagi perkembangan generasi dan menekan angka stunting. (bbr)

POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON 
Siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri Tublopo 2 bermain di halaman bangunan sekolah darurat, Jumat (20/2/2026).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.