Opini: Sorgum Manis
Dion DB Putra February 28, 2026 07:19 AM

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Sorgum manis (Sorghum bicolor) mengemuka kembali dalam diskursus pembangunan ketika Indonesia menghadapi tekanan ganda: ketahanan pangan yang belum kokoh dan transisi energi yang semakin mendesak. 

Ketergantungan pada impor gula, volatilitas harga energi fosil, serta keterbatasan ekspansi sawah memperlihatkan bahwa sistem produksi nasional masih rentan terhadap guncangan eksternal.

Perubahan iklim memperparah tantangan tersebut. Variabilitas curah hujan dan peningkatan suhu menuntut sistem pertanian yang lebih adaptif dan efisien dalam penggunaan air. 

Baca juga: Pemkab Rote Ndao Genjot Pengembangan Sorgum

Dalam konteks ini, lahan kering tidak lagi dapat diposisikan sebagai wilayah marjinal, melainkan sebagai ruang strategis yang harus dioptimalkan.

Diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk memperkuat resiliensi. Ketergantungan pada satu atau dua komoditas utama menciptakan risiko struktural. 

Perayaan panen di salah satu kebun menandai keberhasilan ini. Kelompok Tani Sorgum Ile Nogo Desa Wuakerong Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata kembali membuktikan mereka tidak salah memilih sorgum.
 Anggota Kelompok Tani Sorgum Ile Nogo Desa Wuakerong Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata memanen sorgum beberapa waktu lalu. (POS-KUPANG.COM/HO-YASPENSEL)

Tanaman yang mampu tumbuh pada kondisi cekaman sekaligus memiliki fungsi multiperan menjadi semakin relevan dalam desain kebijakan jangka panjang.

Sorgum manis menawarkan kombinasi tersebut. Batangnya menghasilkan nira untuk gula cair dan bioetanol, sementara bijinya dapat dimanfaatkan sebagai pangan maupun pakan. 

Karakter ini memungkinkan integrasi sektor pangan dan energi dalam satu sistem produksi yang efisien.

Namun, potensi agronomis saja tidak cukup. Tanaman ini perlu ditempatkan dalam kerangka industrialisasi dan tata kelola yang terintegrasi. 

Tanpa arah kebijakan yang jelas, setiap inovasi cenderung terfragmentasi dan gagal mencapai implementasi skala besar. Akibatnya, banyak ide yang berhenti pada tahap percontohan, hanya menjadi wacana atau simbol idealisme tanpa dampak nyata bagi pembangunan. 

Karena itu, pembahasan mengenai sorgum manis harus melampaui romantisme komoditas alternatif. Ia perlu dipandang sebagai elemen strategis dalam arsitektur ekonomi hijau nasional berbasis optimalisasi lahan kering.

Fondasi Biologis dan Keunggulan Adaptif

Sebagai tanaman dengan mekanisme fotosintesis C4, sorgum manis memiliki efisiensi tinggi dalam menyerap cahaya dan memanfaatkan air secara optimal. 

Keunggulan fisiologis ini membuatnya mampu tumbuh subur pada suhu tinggi dan kondisi kering, yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. 

Adaptabilitas ini memungkinkan sorgum manis tetap produktif di lahan marginal yang kurang ideal untuk tanaman lain. 

Produktivitas biomassa yang relatif tinggi memberikan peluang pemanfaatan multiproduk. Dalam satu musim tanam, petani dapat memanen batang untuk nira sekaligus biji untuk pangan atau pakan. Sistem ini meningkatkan efisiensi sumber daya dan meminimalkan limbah.

Siklus tanam yang singkat, sekitar tiga hingga empat bulan, memberi fleksibilitas rotasi dan adaptasi terhadap dinamika musim. Risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem dapat ditekan karena periode budidaya tidak terlalu panjang. 

Fleksibilitas ini penting dalam sistem pertanian lahan kering yang rentan ketidakpastian.

Sistem perakaran yang kuat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi erosi. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak harus mengorbankan keberlanjutan ekologis. Sorgum manis justru berpotensi mendukung rehabilitasi lahan terdegradasi.

Pengembangan varietas unggul dan praktik agronomi presisi dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Di sinilah peran riset dan inovasi menjadi sentral untuk memastikan keunggulan biologis terkonversi menjadi keuntungan ekonomi.

Dengan fondasi ilmiah yang kuat, sorgum manis memiliki prasyarat agronomis untuk menjadi komoditas strategis. Tantangannya terletak pada bagaimana keunggulan tersebut diintegrasikan dalam sistem produksi nasional.

Diversifikasi Gula dan Ketahanan Pasokan

Defisit produksi gula domestik masih menjadi persoalan struktural. Ketergantungan pada impor menciptakan tekanan terhadap neraca perdagangan dan menimbulkan kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Diversifikasi bahan baku menjadi agenda mendesak.

Sorgum manis menyediakan sumber gula cair melalui ekstraksi nira yang relatif cepat. Kemampuan tumbuh di lahan kering memperluas basis produksi tanpa bersaing langsung dengan sawah padi. Hal ini membuka peluang peningkatan kapasitas gula nasional secara bertahap.

Fleksibilitas waktu tanam memungkinkan pengaturan suplai yang lebih adaptif. Produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri, mengurangi ketergantungan pada musim tertentu. Keunggulan ini penting dalam menjaga stabilitas pasokan.

Pengolahan nira menjadi sirup atau gula cair dapat dikembangkan pada skala kecil hingga menengah. Model ini mendukung tumbuhnya industri berbasis desa dan memperpendek rantai distribusi. Nilai tambah dapat dinikmati lebih dekat dengan sumber produksi.

Namun, keberhasilan sangat ditentukan oleh stabilitas volume dan standardisasi mutu. Industri memerlukan kepastian kualitas agar dapat mengintegrasikan bahan baku baru dalam proses produksinya.

Karena itu, dukungan kebijakan harga, akses pembiayaan, dan pembangunan fasilitas pengolahan menjadi prasyarat. Tanpa ekosistem industri yang matang, diversifikasi gula berbasis sorgum akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

Bioetanol dan Integrasi Energi Terbarukan

Selain gula, nira sorgum manis dapat difermentasi menjadi bioetanol. Integrasi ini menciptakan model pangan–energi yang efisien: biji untuk konsumsi, batang dan residu untuk energi. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Bioetanol berbasis sorgum relevan untuk mendukung bauran energi terbarukan. Pengembangannya dapat difokuskan pada wilayah non-sentra tebu, sehingga memperluas basis bahan baku tanpa memicu konflik lahan.

Model klaster produksi regional memungkinkan efisiensi logistik dan jaminan pasokan. Dengan integrasi hulu–hilir, biaya transportasi dan kehilangan bahan baku dapat ditekan. Pendekatan ini memperkuat daya saing industri.

Namun, pengembangan bioetanol tidak hanya persoalan teknis. Regulasi harga, mandat pencampuran bahan bakar, dan insentif fiskal menentukan minat investasi. Tanpa kepastian kebijakan, industri cenderung menunda ekspansi.

Koordinasi lintas sektor pertanian dan energi menjadi krusial. Fragmentasi kebijakan dapat menghambat integrasi produksi dan distribusi. Perencanaan terpadu menjadi syarat keberhasilan.

Jika dirancang secara konsisten, sorgum manis dapat berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekaligus memperkuat kemandirian energi. Integrasi ini menegaskan nilai strategisnya dalam agenda transisi nasional.

Ekonomi Desa dan Tata Kelola Terpadu

Pengembangan sorgum manis berbasis klaster berpotensi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan. Dari budidaya hingga hilirisasi, setiap mata rantai membuka lapangan kerja dan meningkatkan perputaran uang lokal.

Nilai tambah terbesar berada pada tahap pengolahan. Industrialisasi hilir menjadi kunci agar keuntungan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Produk olahan seperti sirup, gula cair, dan bioetanol menawarkan margin lebih tinggi.

Kemitraan dengan koperasi desa dapat memperkuat tata kelola di tingkat lokal. Transparansi harga dan kontrak jangka panjang memberi kepastian bagi petani. Model ini mendukung pertumbuhan inklusif berbasis komunitas.

Namun, setiap komoditas strategis memerlukan peta jalan terpadu. Fragmentasi kebijakan antara sektor pangan dan energi harus diatasi melalui koordinasi lintas kementerian. Integrasi program dari hulu hingga hilir menjadi kebutuhan mendesak.

Standar mutu, sertifikasi, dan basis data produksi yang akurat harus dibangun sejak awal. Akses pembiayaan, termasuk skema kredit hijau, dapat mempercepat investasi dan memperluas skala usaha.

Pada akhirnya, keberhasilan sorgum manis bergantung pada keberanian merumuskan arah pembangunan yang konsisten. 

Dengan dukungan riset, insentif industri, dan tata kelola terpadu, komoditas ini dapat bertransformasi menjadi pilar ekonomi hijau berbasis lahan kering—menguatkan kedaulatan pangan dan mempercepat kemandirian energi Indonesia. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.