Update Vina Cirebon Korban Pengantin pesanan: 3 WNI Diduga Berperan hingga Korban Berangkat ke China
Seli Andina Miranti February 28, 2026 08:11 AM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Nama-nama warga negara Indonesia (WNI) mencuat dalam kasus yang menimpa Vina, warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

Mereka diduga berperan sebagai penghubung hingga membantu proses administrasi keberangkatan Vina ke China.

Kuasa hukum keluarga Vina dari YLBHI Garuda Sakti, Asep Maulana Hasanudin, secara terbuka menyebut sejumlah nama yang disebut memiliki peran dalam rangkaian perkenalan hingga pemberangkatan tersebut.

Baca juga: Fakta-fakta Kasus Vina Cirebon Korban Pengantin Pesanan di China: Dijebak Nikahi Pria Tak Normal

“Ada yang mengakui sebagai agen, iya,” ujar Asep saat ditemui di Desa Gombang, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, peran awal penghubung dilakukan oleh warga negara asing bernama Zhang Haibo.

“Yang pertama kali menghubungkan adalah yang namanya Zhang Haibo. Orang Cina asli, bahasanya juga bahasa Mandarin,” ucapnya.

Namun, ia menegaskan, ada peran aktif dari WNI dalam proses tersebut.

“Nah, orang Indonesianya ya ini nih, si N, S… terutama S ya,” jelas dia.

Disebut Paling Berperan

Asep menyebut, dari beberapa nama yang muncul, S diduga memiliki peran cukup dominan karena memiliki pengalaman bolak-balik ke China dan mampu berbahasa Mandarin.

“S itu punya track record orang yang sudah bolak-balik ke Cina dan spesialis kayak TKI gitu. Dan dia juga bisa berbahasa Mandarin, sehingga jasanya itu digunakan,” katanya.

Menurut dia, peran tersebut bukan sekadar memperkenalkan.

“Jasanya digunakan itu jadi untuk memperlancar secara administratif apa saja yang diperlukan. Kemudian dia juga berperan sebagai orang yang mengaku sebagai saudaranya Wang Jun,” ujarnya.

Baca juga: Vina, Warga Cirebon Disekap di China, Korban Pengantin Pesanan Minta Tolong ke Dedi Mulyadi

Pengakuan sebagai saudara itu, lanjut Asep, disampaikan kepada pihak Vina.

“Iya, ngaku masih paman dan bibi gitu. Nah, ketahuannya setelah Vina di sana, ternyata nggak ada tuh mereka. Paman dan bibi nggak ada pas sampai di sana,” ucap Asep.

Selain S dan N, Asep juga menyebut nama H serta satu nama lain, meski disebut tidak terlalu dominan perannya.

“Tapi yang paling berperan, maksudnya yang sering itu S, H, N. Kalau Amey nggak begitu berperan,” jelas dia.

Saat ditanya apakah ada dugaan keuntungan yang diperoleh, Asep menjawab lugas.

“Iyalah. Kalau bicara kan begini, saya orang Cina, mas orang Indonesia, saya nggak kenal, saya minta bantuan. Nggak mungkin tanpa embel-embel,” katanya.

Empat Kali Datang ke Gombang

Asep menjelaskan, rombongan warga negara asing bersama sejumlah WNI itu tercatat empat kali datang ke Desa Gombang untuk menemui keluarga Vina.

KORBAN TPPO - Tangkapan layar sebuah video seorang perempuan yang mengatasnamakan Vina, warga Kabupaten Cirebon yang menangis meminta pertolongan karena mengaku menjadi korban praktik 'pengantin pesanan' dan kini berada di China.
KORBAN TPPO - Tangkapan layar sebuah video seorang perempuan yang mengatasnamakan Vina, warga Kabupaten Cirebon yang menangis meminta pertolongan karena mengaku menjadi korban praktik 'pengantin pesanan' dan kini berada di China. (Tangkapan Layar)

“Lalu orang Tiongkok itu datang ke Cirebon. Salah satunya Liu Guanggun, Zhang Haibo, kemudian Wang Jun, dengan ditemani orang Indonesia namanya N, H, S. Mereka datang ke Gombang dengan maksud silaturahmi,” ujarnya.

Pada kedatangan keempat, rombongan tersebut menyerahkan mahar.

Dua hari kemudian, tepatnya 7 Agustus 2025, Vina diberangkatkan ke China.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Vina Cirebon: Dijebak Tanda Tangan, Buku Nikah Terbit Tanpa Sadar

“Kedatangan mereka yang keempat ini tujuannya untuk memberikan mahar,” ucap Asep.Sadar Setelah di China

Menurut Asep, kliennya baru menyadari kondisi sebenarnya setelah berada di luar negeri.

“Vina baru sadar ternyata calon suaminya ini, yang awalnya dianggap normal, ternyata memiliki kelainan secara mental. Jadi Vina merasa dibohongi,” jelas dia.

Ia juga mengungkap adanya dugaan penjebakan tanda tangan dokumen.

“Vina diarahkan untuk menandatangani berkas-berkas dokumen. Setelah disadari, ternyata itu persetujuan pernikahan dan terbitlah buku nikah. Jadi Vina dikelabui,” katanya.

Tak hanya itu, Vina disebut sempat meminta pulang namun diminta mengembalikan mahar hingga empat kali lipat.

“Kalau kamu mau kembali ke Indonesia, kamu harus mengembalikan uang mahar empat kali lipat, sekitar Rp 500 juta. Itu kan bentuk pemerasan,” ujarnya.

Keluarga kini telah melaporkan kasus tersebut ke sejumlah pihak dan berharap Vina dapat segera dipulangkan.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Vina Cirebon: Dijebak Tanda Tangan, Buku Nikah Terbit Tanpa Sadar

Viral Minta Tolong Lewat Video

Sebelumnya, video yang memperlihatkan Vina menangis meminta pertolongan sempat viral di media sosial.

Dalam video tersebut, ia mengaku menjadi korban pengantin pesanan dan dokumennya ditahan di China.

Dalam rekaman itu, Vina memohon bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

“Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan, nama saya Fitna, saya dari Cirebon. Saya sedang berada di China saat ini,” ucap Vina, dalam video tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.