Kronologi Balita Hanyut di Kali Narmda Usai Ditinggal Memutar Antena TV
Idham Khalid February 28, 2026 12:19 PM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Seorang balita berinisial WS (1 tahun 3 bulan) ditemukan hanyut di aliran Kali Seganteng, Desa Nyiur Lembang, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (27/2/2026).

Korban dinyatakan meninggal dunia sebelum tiba di fasilitas kesehatan.

Peristiwa ini pertama kali dilaporkan warga kepada pihak kepolisian sekitar pukul 14.00 WITA.

Personel Perwira Samapta (Pamapta) Polresta Mataram bersama Unit Identifikasi Satreskrim dan personel Polsek Narmada segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kasi Humas Polresta Mataram, Iptu Subhan, menjelaskan bahwa laporan masyarakat diterima setelah ditemukan sosok balita hanyut di aliran kali tersebut.

“Petugas medis menyampaikan bahwa korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa saat tiba di klinik,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, peristiwa bermula sekitar pukul 11.00 WITA. Saat itu, korban sedang bermain di gundukan pasir yang berjarak sekitar 10 meter dari aliran kali.

Korban diketahui diasuh oleh neneknya karena kedua orang tuanya telah berpisah, sementara ibu korban mengalami gangguan psikologis.

Menurut penuturan keluarga, nenek korban sempat meninggalkan balita tersebut untuk memutar antena televisi di depan rumah atas permintaan ibu kandung korban. Namun ketika kembali, korban sudah tidak berada di lokasi semula.

Pencarian segera dilakukan oleh keluarga bersama warga sekitar. Tidak lama kemudian, seorang warga bernama Susan Hadi yang hendak menuju pancuran melihat benda mencurigakan hanyut dari arah hulu sungai.

Baca juga: Balita Hanyut di Selong Belum Ditemukan hingga Hari Ketiga Pencarian

Setelah didekati, benda tersebut ternyata tubuh korban. Warga kemudian berteriak meminta bantuan dan bersama-sama mengevakuasi korban untuk dibawa ke Klinik Asoka.

Namun, hasil pemeriksaan medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di klinik.

Keluarga yang tiba di lokasi tampak terpukul atas kejadian tersebut. Meski demikian, mereka menyatakan menerima peristiwa ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi.

“Keluarga menerima kejadian ini dengan ikhlas dan menolak dilakukan autopsi,” tambah Iptu Subhan.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, khususnya balita, terutama saat berada di dekat area berisiko seperti sungai atau aliran air, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.