Panggilan Keimanan di Bulan Ramadhan
Muliadi Gani February 28, 2026 02:48 PM

Oleh: K.H. Sabaruddin, Lc.

PROHABA.CO - Berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, jika kita melihat ayat yang diturunkan, itu adalah panggilan keimanan: “Wahai orang-orang yang beriman.”

Artinya, yang dipanggil bukan fisiknya, melainkan jiwanya.

Keimanan berada di dalam jiwa. Maka, yang terpanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah jiwa dan keimanan.

Ada seorang ulama yang memberi ilustrasi menarik.

Ketika datang bulan suci Ramadhan, beliau membaca Surah Al-Fil.

Surah ini menceritakan pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Abrahah disimbolkan sebagai kesombongan dan keangkuhan.

Sedangkan Ka’bah dipertahankan oleh Abdul Muthalib sebagai simbol ketekunan dan ketakwaan.

Burung Ababil yang melemparkan batu menjadi simbol keadilan Allah dalam menghancurkan kesombongan tersebut.

Dari sini kita belajar bahwa dalam diri manusia juga ada “Baitullah”, yaitu hati.

Hati adalah pusat spiritualitas dan niat.

Memasuki Ramadhan, banyak orang lebih menjaga fi siknya, tetapi kurang menjaga hatinya.

Padahal, yang paling penting ditingkatkan adalah spiritualitas dan keimanan.

Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar

Intelektualitas juga penting, dengan memperbanyak membaca dan menghadiri kajian.

Hati adalah sumber niat. Dalam puasa, niat menjadi dasar. Ulama berbeda pendapat tentang niat puasa. 

Ada yang membolehkan satu kali niat untuk sebulan penuh, ada pula yang mewajibkan niat setiap malam.

Menggabungkan keduanya adalah sikap yang baik: berniat di awal Ramadhan untuk sebulan penuh dan tetap memperbarui niat setiap malam.

Hati juga menjadi sumber aktivitas, baik maupun buruk. Jika seseorang berkata kasar, masalahnya bukan pada lisannya, tetapi pada hatinya.

Jika seseorang mencela atau menyakiti orang lain, sumbernya adalah hati.

Karena itu, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga.

Jika hanya itu, di luar Ramadhan pun kita bisa melakukannya.

Ramadhan harus menjadi momentum spiritual, bukan sekadar rutinitas.

Manusia terdiri atas jasad dan jiwa.

Jasad diberi makan dan minum.

Jiwa pun memiliki tingkatan: ada nafsul mutmainnah yang cenderung pada kebaikan, nafsul amarah yang cenderung pada keburukan, nafsul lawwamah yang menyesal setelah berbuat dosa, dan jiwa yang bimbang.

Pikiran, pendengaran, dan penglihatan juga bisa menjadi sumber dosa jika tidak dijaga.

Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus dan dahaga karena tidak menjaga mata, telinga, dan pikirannya.

Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia

Karena itu, keimanan dan pikiran harus selaras agar ibadah Ramadhan maksimal.

Pertama, luruskan niat hanya karena Allah.

Jangan menjadi hamba Ramadhan, tetapi jadilah hamba Allah. 

Kedua, ketika semangat menurun, jangan tinggalkan yang wajib.

Jika kondisi iman naik, sempurnakan dengan amalan sunah.

Ketiga, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.

Keempat, perbanyak bermajelis dan berinteraksi dengan orang-orang saleh. Lingkungan sangat memengaruhi kualitas ibadah. 

Terakhir, yakini bahwa tidak semua orang bisa bertemu Ramadhan.

Bisa jadi, ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka maksimalkanlah.

Rasulullah senantiasa memotivasi sahabat sebelum Ramadhan tiba.

Ramadhan adalah bulan ampunan, rahmat, dan magfirah.

Untuk mendapatkannya, tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga. Ada ibadah malam seperti shalat Tarawih dan qiyamul lail, ada puasa di siang hari, dan banyak amalan lainnya.

Di samping itu, penting mempelajari fikih Ramadhan sebelum memasuki bulan suci, agar ibadah kita benar dan maksimal.

Ramadhan harus menjadi momentum meningkatkan spiritualitas dan intelektualitas.

Jangan sampai Ramadhan hanya diisi dengan tidur tanpa menjaga shalat. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kita maksimalkan 

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke-11 Ramadhan, Diampuni Dosa Seperti Bayi Baru Lahir

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Abi Yusuf Ahmad : Berburu Pahala di Bulan yang Penuh Berkah

Baca juga: Khutbah jumat di Masjid Agung Ruhama - Tgk Ihsan Harun, MA Uraikan Hikmah Isra’ dan Mikraj

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.