Kiai Kisahkan Detik-detik Tanah Gerak Robohkan Bangunan Ponpes di Padasari Tegal
khoirul muzaki February 28, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Senin (2/2/2026) lalu menyisakan kesedihan bagi warga tak terkecuali pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Adalah.


Selain permukiman warga, akses jalan desa, fasilitas umum, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, dan bangunan sekolah yang terdampak tanah bergerak, Ponpes Al-Adalah satu juga mengalami kerusakan sangat parah bahkan detik-detik saat bangunan ambruk beberapa waktu lalu sempat terekam dan viral di media sosial. 


Akibat bencana alam tersebut, ratusan santri harus mengungsi ke bangunan Ponpes Al-Adalah dua karena lokasinya aman dan jauh dari titik tanah bergerak. 


Tribunjateng.com, berkesempatan bertemu dengan Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Adalah Muhammad Tasrifin Salim, di kediamannya yang beralamat di Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. 


Kediaman kyai Tasrifin Salim, berada persis di sebelah Ponpes Al-Adalah dua dan tidak jauh dari lahan yang dijadikan sebagai lokasi hunian sementara atau Huntara warga terdampak tanah bergerak. 


Pada kesempatan itu, Kyai Tasrifin Salim bercerita sedikit mengenai peristiwa tanah bergerak yang meluluhlantakkan bangunan Ponpes. 


Diceritakan, saat kejadian ada suara seperti bangunan retak dan kemudian langsung ambruk. 


Menurut kyai Tasrifin Salim pergerakan tanah tidak terasa hanya ada suara retakan. 


Anak-anak atau santri sudah dievakuasi saat siang hari sekitar pukul 11.00 WIB sebelum bangunan ambruk. 


"Karena sudah ada feeling sehingga anak-anak langsung kami evakuasi ke tempat lebih aman agar tidak melihat bangunan Ponpes ambruk. Khawatirnya ketika anak-anak melihat bisa menimbulkan trauma," cerita kyai Tasrifin Salim, pada Tribunjateng.com. 


Setidaknya ada 13 gedung yang terdampak tanah bergerak dan semuanya hancur. 


Gedung pondok pesantren Al-Adalah satu yang berdiri sejak tahun 2008 itu kini tinggal kenangan. 


Sementara bangunan tingkat yang ambruk dan videonya viral merupakan kamar santri. 
 
"Total kerugian diprediksi mencapai Rp12 miliar," ujar kyai Tasrifin Salim. 

Baca juga: Dua Pemuda di Jepara Dikeroyok Sekelompok Orang di Jalan Raya Jepara-Bangsri


Selain berasal dari wilayah Tegal dan sekitarnya, santri Ponpes Al-Adalah juga ada yang berasal dari luar pulau seperti Riau, Palembang, Medan dan yang paling banyak dari Sumatera. 


"Jumlah santri 526 anak putra dan putri. Semuanya dievakuasi dan tidak ada korban jiwa," tuturnya. 

 


Kegiatan selama Ramadan 1447 H/2026 


Diterangkan kyai Tasrifin Salim, setengah dari total jumlah santri sebanyak 526 anak saat ini dipulangkan ke rumah masing-masing sampai kondisi memungkinkan. 


Adapun kegiatan selama bulan suci Ramadan, santri melakukan khatam kitab kuning selama 20 hari. 


Biasanya ketika program reguler satu kitab khatam dalam kurun waktu satu tahun, sedangkan saat momen Ramadan dipersingkat jadi 20 hari. 


Kegiatan pembacaan kitab kuning berlangsung setelah shalat Ashar sampai Maghrib atau menjelang buka puasa dan dilanjut setelah tarawih. 


Jika biasanya kegiatan berlangsung terpisah di kelas masing-masing, namun karena saat ini sedang dalam kondisi darurat maka dilakukan bersama-sama di aula ataupun tempat lainnya yang memungkinkan. 


"Tiap kegiatan ada pendamping yang ikut," pungkasnya. (dta) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.