TRIBUNNEWS.COM - Akhir pekan ini akan ditutup dengan Derbi London antara Arsenal vs Chelsea dalam matchday 28 Liga Inggris di Emirates Stadium, Minggu (1/3/2026) pukul 23.30 WIB.
Duel yang beda kepentingan, duel yang penuh dengan motivasi, dan duel dengan level permainan yang yang menarik.
Mengapa demikian? Liga Inggris musim ini menyisakan 10 pertandingan, Arsenal butuh kemenangan untuk menjaga asa juara, sementara Chelsea tengah berjuang untuk finis di 5 besar klasemen atau zona Liga Champions.
Arsenal dibayangi Man City yang hanya selisih 5 poin dengan satu pertandingan lebih banyak.
Sedangkan Chelsea setidaknya memiliki 4 pesaing untuk posisi tersebut, yakni Aston Vila, Man United, Liverpool, dan Brentford.
Menariknya, Chelsea belum pernah menang dalam delapan pertandingan Liga Inggris terakhir mereka melawan Arsenal, rinciannya adalah 3 hasil seri dan 5 kekalahan.
Mampukah Chelsea menghentikan dominasi The Gunners, atau sebaliknya Arsenal meraih kemenangan kandang keempat secara berturut-turut?
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta punya rekor mencolok saat berlaga menghadapi tim London, termasuk Chelsea dari London Barat.
Laga besok akan menjadi laga ke-70 bagi Arteta melawan tim London sejak menjabat pelatih Arsenal pada tahun 2019 lalu.
Arteta telah memenangkan 42 pertandingan dengan rasio keberhasilan 60,9 persen di derbi London.
Angka itu menjadi yang terbaik dalam sejarah Premier League di antara para pelatih yang telah memimpin 50 pertandingan atau lebih dalam derbi London, menurut Opta.
Berikut adalah statistiknya:
Arsenal hanya kalah satu kali dalam 25 laga derbi London Liga Inggris terakhir mereka. Rinciannya adalah 18 kemenangan dan 6 kali imbang.
Satu-satunya kekalahan diterima oleh West Ham pada Februari tahun lalu.
Arteta kalah 2-1 dari Chelsea di Emirates pada Desember 2019. Setelah itu, The gunners hanya kalah satu kali dari 15 pertemuan melawan Chelsea di semua kompetisi (10 menang, 4 seri).
Termasuk saat melawan pelatih baru Chelsea yang kini ditangan Liam Rosenior dua kali di semifinal Carabao Cup.
Chelsea kehilangan 19 poin dari posisi unggul dalam 27 pertandingan Liga Inggris musim ini.
Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dalam tiga musim terakhir. Chelsea pernah kehilangan poin lebih banyak dari itu, yakni pada musim 2021/2022 yakni 20 poin tapi hingga akhir musim.
Oleh karena itu, jumlah tersebut berpeluang bertambah hingga akhir musim dan menjadi catatan terburuk dalam lima tahun terakhir.
Termasuk laga kandang melwan Arsenal pada November lalu di Stamford Bridge. The Blues mampu unggul lebih dulu sebelum disamakan The Gunners yang memaksa laga berakhir imbang.
Apa yang terjadi pada Chelsea? Lini pertahanan yang lengah, lini tengah yang kurang solid, atau dari performa tim yang tidak stabil?
Chelsea hanya selisih satu poin dengan West Ham, selaku tim yang kehilangan poin lebih banyak saat sudah mampu unggul atas lawannya.
Lalu ada Newcastle (19 poin), Bournemouth (18), Leeds (17).
Jika dibandingkan tim papan atas saat ini mereka berada di sisi tengah yang berkisar antara 9 sampai 14 poin.
Chelsea adalah tim yang paling buruk di Liga Inggris musim ini dalam hal perolehan kartu merah.
Sebanyak 6 kartu merah telah dikoleksi Enzo Fernandez dan kolega, jumlah tersebut dua lebih banyak daripada tim lainnya di Liga Inggris.
Tapi ternyata, itu bukanlah hal baru bagi Chelsea. Jumlahnya memang meningkat namun dalam beberapa musim terakhir Chelsea adalah salah satu tim dengan penghasilan kartu kuning tertinggi di Liga Inggris.
Pada musim 2023/2024 Chelsea mengoleksi 109 kartu, 104 di antaranya kuning, dan 4 lainnya merah.
Musim berikutnya juga masih menyentuh angka seratus (101), 99 kartu kuning dan dua merah, menjadikan mereka yang terbanyak keempat di Liga Inggris.
Selama ini, ada dua tim yang paling buruk dalam hal kedisiplinan yang meraih kartu merah paling banyak dalam satu musim.
Yakni Queens Park Rangers (QPR) musim 2011/2012 dan Sunderland (2009/2010) dengan koleksi 9 kartu merah, terpaut 3 kartu dengan Chelsea yang masih menyisakan 11 laga musim ini.
(Tribunnews.com/Sina)