SURYAMALANG.COM, - Menjalani ibadah puasa di hari ketujuh Ramadhan 1447 H, ketepatan waktu berbuka menjadi informasi yang paling dinanti oleh umat Muslim di wilayah Jawa Timur, khususnya Malang Raya dan Surabaya.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini, azan Maghrib dijadwalkan berkumandang mulai pukul 17:52 WIB di Surabaya hingga 17:57 WIB di wilayah Kota Batu.
Namun, di balik rutinitas menanti waktu berbuka, Ramadhan kali ini membawa pesan reflektif bagi kita semua.
Melalui tausiyah singkatnya, Ustadz Achmad Saifullah Syahid mengingatkan puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum penting untuk merebut kembali kendali atas waktu dan otonomi diri di tengah padatnya tuntutan hidup dan pekerjaan.
Berikut jadwal buka puasa di Malang Raya dan wilayah sekitarnya Sabtu 28 Februari 2026:
1. Kota Malang : 17:54 WIB
2. Kabupaten Malang : 17:54 WIB
3. Kota Batu : 17:57 WIB
4. Kota Surabaya : 17:52 WIB
5. Kabupaten Sidoarjo : 17:52 WIB
6. Kota Blitar: 17:55 WIB
7. Selengkapnya untuk wilayah lain bisa dilihat di sini : LINK
Melalui situs tersebut, masyarakat di seluruh Indonesia bisa mendapatkan informasi jadwal buka puasa di wilayahnya dari 1 Ramadhan hingga 30 Ramadhan.
Jika ingin mengetahui informasi jadwal buka puasa di wilayah Anda, ada pilihan "Provinsi", kemudian "Kabupaten/Kota".
Berikut jadwal salat di Malang Raya dan wilayah sekitarnya Sabtu 28 Februari 2026:
Kota Malang
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:46 14:46 17:54 19:04
Kabupaten Malang
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:46 14:46 17:54 19:04
Kota Batu
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:09 04:19 05:27 05:59 11:46 14:47 17:57 19:03
Kota Surabaya
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:45 14:47 17:52 19:02
Kabupaten Sidoarjo
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:45 14:47 17:52 19:02
Kota Blitar
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:09 04:20 05:33 06:00 11:47 14:48 17:55 19:05
Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum refleksi untuk mengoreksi pola hidup dan sistem sosial yang membentuknya.
Pesan itu disampaikan Ustadz Achmad Saifullah Syahid saat mengisi Majelis Ilmu Ngaji Bareng pada bulan Ramadan 1447 H di Mushola Al-Fath, Jagalan, Kepatihan, Kecamatan Jombang pada Sabtu (28/2/2026) sore.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Achmad menyoroti kecenderungan ceramah dan kampanye keagamaan yang lebih banyak menekankan perubahan individu.
Umat, kata dia, kerap diajak mengurangi porsi makan, tidak boros, menahan hawa nafsu, serta memperbanyak sedekah.
"Pendekatan itu tidak salah, tetapi sering berhenti pada diri pribadi. Beban perubahan seolah hanya ada di individu," ucapnya di hadapan jamaah.
Ia mengingatkan bahwa kritik serupa pernah disampaikan oleh pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, yang menilai pendidikan tak cukup hanya menanamkan nilai tanpa menyentuh struktur yang melahirkan persoalan.
Dalam konteks Ramadan, menurutnya, semangat spiritual perlu diperluas hingga menyasar sistem sosial-ekonomi yang memengaruhi perilaku konsumsi.
Ustadz Achmad menjelaskan, lonjakan konsumsi saat berbuka puasa bukan semata-mata persoalan lemahnya pengendalian diri. Ia melihatnya sebagai gejala dari arsitektur sosial yang membuat rasa 'cukup' sulit dicapai.
Sistem distribusi pangan yang timpang, industri makanan yang bertumpu pada perputaran limbah, hingga budaya kerja yang menyita hampir seluruh waktu produktif manusia, dinilai turut berkontribusi terhadap pola konsumsi berlebihan.
"Banyak orang berbuka sambil tetap terhubung dengan pekerjaan di sela rapat daring, di jalan, atau sambil membalas pesan atasan. Waktu magrib menjadi satu-satunya momen yang terasa milik pribadi," tuturnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadikan waktu berbuka sebagai katarsis emosional setelah seharian berada dalam tekanan target dan deadline. Ledakan konsumsi pun kerap menjadi pelampiasan psikologis akibat kurangnya ruang jeda dan otonomi dalam keseharian.
Padahal, secara substantif, puasa merupakan latihan mengelola waktu dan hasrat. Ia mengajarkan penundaan kepuasan serta pengaturan ulang ritme hidup.
"Ramadan seharusnya menjadi momentum merebut kembali kendali atas waktu, bukan sekadar menahan lapar," katanya.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada kritik moral individu. Kesalehan personal tetap penting, tetapi perlu berkembang menjadi kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem.
Ia mencontohkan, zakat tidak hanya dipahami sebagai bantuan musiman, melainkan dapat diarahkan menjadi program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
Pembagian takjil pun bisa dirancang berdasarkan pemetaan kebutuhan riil masyarakat serta upaya mengurangi limbah makanan.
"Buka puasa bersama jangan hanya menjadi festival konsumsi, tetapi juga ruang refleksi tentang keadilan sosial dan kebijakan pangan," ungkapnya.
Di akhir pengajian, Ustadz Achmad menegaskan bahwa tantangan Ramadan bukan hanya melawan godaan pasar atau hawa nafsu, tetapi juga melawan cara pandang yang memaknai persoalan sosial sebagai semata-mata masalah moral pribadi.
Menurutnya, Ramadan menyimpan energi solidaritas dan redistribusi ekonomi dalam skala besar. Jika energi itu hanya dihabiskan untuk perbaikan diri tanpa menyentuh struktur, maka Ramadan akan terus berulang sebagai ritual tahunan tanpa perubahan signifikan.
"Ramadan memiliki potensi revolusioner. Ia bisa menjadi prototipe masyarakat alternatif yang lebih adil, jika kita mau melangkah lebih jauh," pungkas Ustadz Achmad.
(Reporter suryamalang.com/Anggit Pujie Widodo)