Keputusan Presiden RI Prabowo Subianto gabung Board of Peace (BoP), disebutnya sejalan dengan satu di antara prinsip emas "Dasasila Bandung".
Hal ini diutarakan oleh Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa dalam pernyataan terbarunya.
Mengutip Tribunnews pada (28/2), Teguh menjelaskan BoP adalah instrumen resmi hasil Resolusi DK Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 2803 (2025).
Di mana, yang bertujuan mendorong reformasi Palestina, rekonstruksi Gaza, dan dialog damai Israel–Palestina.
Lebih tepatnya, Teguh menyatakan bahwa jika Resolusi 2803 dibaca secara teliti, akan terlihat bahwa dokumen tersebut dijiwai oleh berbagai proposal perdamaian dari sejumlah negara.
Di mana dengan tujuan tidak hanya menciptakan perdamaian di Gaza, tetapi juga memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.
“Bila kita baca dengan teliti Resolusi 2803 itu, maka menjadi jelas bagi kita bahwa BoP dijiwai oleh proposal perdamaian yang disampaikan berbagai negara. Tujuannya tidak hanya menciptakan perdamaian di Gaza, tetapi juga memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina,” ujar Teguh Santosa, Jumat (27/2/2026).
Ia juga menambahkan bahwa poin tersebut selaras dengan satu prinsip Dasasila Bandung, yakni hidup berdampingan secara damai.
“Poin ini sangat sejalan dengan salah satu prinsip emas Dasasila Bandung, yakni peaceful coexistence, atau hidup berdampingan secara damai,” kata Teguh.
Teguh juga menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak perlu diragukan.
Serta menyebut pihak Palestina memahami dan sangat menghormati posisi serta strategi perjuangan Indonesia.
“Dukungan Indonesia untuk Palestina tidak perlu diragukan. Pihak Palestina pun tahu dan sangat menghormati posisi serta strategi perjuangan Indonesia,” tegasnya.
Sebatas informasi saja, Dasasila Bandung merupakan warisan diplomasi bersejarah dari Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada tahun 1955 di Bandung, Indonesia.