Setelah Gagal, Peserta YPMAK Paham Faktor Penghambat Produksi VCO Standar
Marius Frisson Yewun March 01, 2026 09:26 AM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA – Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia menggelar Pelatihan Produksi Minyak Goreng Kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO) berbasis potensi lokal, teknologi tepat guna dan berkelanjutan.

Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, Rabu (25/2/2026) hingga Sabtu (28/2/2026).

Memasuki hari ketiga, peserta tampak antusias mengikuti proses pembuatan minyak goreng dan VCO yang digelar di Hotel Grand Tembaga, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Jumat (27/2/2026).

Dari pantauan Tribun-Papua.com pukul 10.00 WIT, peserta dengan saksama memperhatikan tahapan pembuatan VCO.

Baca juga: BBM Nelayan Biak Disalahgunakan, Bupati Sidak Langsung SPBUN Samber Binyeri

Proses ini membutuhkan ketelitian, terutama saat memisahkan ampas kelapa dari minyak murni agar tidak tercampur.

Setelah pelatih memberikan arahan serta mempraktikkan cara memisahkan kandungan minyak murni dan ampasnya, peserta turut dilibatkan secara langsung. Mereka mencoba setiap tahapan proses pembuatan hingga menghasilkan minyak kelapa murni berkualitas.

Direktur PT Dorei Kelapa Mandiri sekaligus pelatih, Diah Miryam Mamoribo memastikan dalam pelatihan tersebut peserta diajarkan teknik pembuatan VCO serta faktor-faktor yang menentukan keberhasilan produksi.

“Hal yang penting dari memproduksi VCO adalah pemilihan buah kelapa, yakni kelapa tua yang segar. Jika kualitas buah kelapa tidak bagus, itu akan menentukan kualitas dari bau dan juga kemungkinan tidak terbentuk minyak kelapa murni atau VCO,” ujarnya.

Baca juga: Link Live Streaming Kendal Tornado FC vs Persipura Jayapura Minggu 1 Maret 2026, Kick-Off 22.30 WIT

Ia menambahkan, pada tahap inkubasi atau fermentasi diperlukan kondisi temperatur yang tepat, yakni 35 - 40 derajat celsius untuk menghasilkan Virgin Coconut Oil.

“Pada hari pertama pelatihan kami tidak mendapat VCO. Dari situ kami belajar bahwa pemilihan buah kelapa sangat penting. Tercampur satu buah kelapa muda saja bisa memengaruhi seluruh produksi,” jelasnya.

Menurutnya, faktor cuaca juga berpengaruh terhadap proses produksi. Saat praktik hari pertama, cuaca hujan sehingga memengaruhi suhu fermentasi. 

Pada hari kedua dilakukan percobaan kembali dengan memperbaiki kualitas kelapa dan menjaga temperatur, hingga akhirnya berhasil menghasilkan dua wadah VCO.

“Artinya, dengan memperbaiki kualitas kelapa tua dan temperatur, hasilnya bisa maksimal,” katanya.

Diah berharap peserta dapat memahami bahwa dalam proses produksi terkadang terjadi kegagalan, namun hal tersebut menjadi bagian dari pembelajaran untuk melakukan evaluasi.

Baca juga: Tanpa Pelatihan, Dana Kampung di Papua Pegunungan Bakal Picu Masalah Baru

Selain itu, peserta juga diajarkan proses filtrasi atau penyaringan untuk menjernihkan minyak.

Ia menekankan bahwa standar pasar mengharuskan VCO memiliki aroma yang baik dan warna yang bening agar dapat memenuhi permintaan pasar.

Sementara itu, salah satu peserta dari Kampung Apuri, Distrik Mimika Barat, yang juga Ketua Pokja, Benediktus Sikora mengaku bersyukur dapat mengikuti pelatihan tersebut.

Ia berharap ke depan masyarakat di kampungnya mampu memproduksi minyak goreng dan VCO untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun dipasarkan.

“Minyak VCO bisa kami pasarkan, sedangkan ampas atau sisanya bisa kami gunakan untuk minyak goreng,” ujarnya.

Baca juga: PSBS Biak Terancam Degradasi, Tuan Rumah Ditumbangkan PSIM Yogyakarta 4-2

Benediktus mengatakan, proses pembuatan VCO tidak terlalu sulit dan dapat dipraktikkan di kampung. Sebelum mengikuti pelatihan, kelapa di kampung mereka dijual dalam bentuk buah utuh kepada pengusaha dengan harga Rp1.500 per buah.

“Kalau kami jual per buah hanya Rp1.500. Kami berharap kalau diolah menjadi VCO, nilainya bisa jauh lebih tinggi,” harapnya.

Ia juga berharap YPMAK dapat memfasilitasi peralatan dan bahan pendukung agar masyarakat bisa mengembangkan produksi VCO secara mandiri.

“Terima kasih kepada tim dari PT Dorei Kelapa Mandiri yang sudah memberikan pelatihan, juga kepada YPMAK. Kami Ketua dan Anggota Pokja Kampung Apuri menyampaikan banyak terima kasih,” tutupnya.

Baca juga: Kapan THR Karyawan Swasta Cair? Ini Kata Menaker soal Tenggat Waktu Resminya

Sekadar informasi, dalam kegiatan ini YPMAK menggandeng PT Dorei Kelapa Mandiri untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat wilayah pesisir kampung binaan YPMAK di Kabupaten Mimika.

Program VCO ini dirancang khusus bagi warga Kamoro di Kampung Uta dan wilayah Kokonao, serta sebagian Kota Timika yang selama ini hidup berdampingan dengan sumber daya kelapa di sepanjang pesisir.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.