Peringatan Putra Mahkota Iran ke Pendukung Khamenei dan Pujian untuk Trump
Darwin Sijabat March 01, 2026 04:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Tak lama setelah debu reruntuhan kompleks kepresidenan di Teheran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei, tokoh oposisi utama Iran, Reza Pahlavi, muncul dengan pernyataan keras namun penuh harapan. 

Melalui akun resminya di X (dahulu Twitter), putra mahkota terakhir Iran ini memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden AS Donald Trump atas operasi militer "Epic Fury" yang disebutnya sebagai jawaban atas doa rakyat Iran selama puluhan tahun.

Pahlavi menegaskan bahwa intervensi militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar aksi tempur biasa, melainkan sebuah fajar baru. 

Ia memuji keberanian Trump yang memberikan dukungan nyata bagi rakyat yang selama ini tertindas di bawah rezim teokrasi.

"Langkah Presiden Trump bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan titik balik sejarah. Saat kebebasan kalian telah tiba," ujar Pahlavi mengutip pesan Trump sebagai panggilan bagi rakyat Iran untuk bangkit.

Pahlavi menyuarakan keyakinannya bahwa upaya sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei akan sia-sia karena hilangnya legitimasi total. 

Ia melabeli mendiang Khamenei sebagai "diktator haus darah" yang bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu putra-putri terbaik bangsa.

Ultimatum untuk Pasukan Keamanan

Menyadari posisi genting militer Iran pasca-kematian sang Rahbar, Pahlavi mengeluarkan peringatan sekaligus tawaran jalan keluar bagi mereka yang masih memegang senjata demi rezim. 

Ia mendesak militer, penegak hukum, dan pasukan keamanan untuk segera membelot dan bergabung dengan rakyat.

Baca juga: Iran Akan Balas Kematian Ayatollah Khamenei dan Buat AS-Israel Menyesal

Baca juga: 53 KM Tol Fungsional Siap Manjakan Pemudik Jambi, Solusi Macet Betung

"Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bergabung dengan bangsa... dan mengambil bagian dalam membangun masa depan tersebut," tegas Pahlavi dalam pernyataan resminya.

Instruksi Aksi Massa di Jalanan

Meskipun menyambut kematian Khamenei sebagai "obat penawar" bagi keluarga korban Revolusi Nasional Singa dan Matahari, Pahlavi mengingatkan pendukungnya bahwa kemenangan belum sepenuhnya diraih. 

Ia menginstruksikan seluruh elemen oposisi untuk tetap waspada dan bersiap memenuhi jalanan dalam waktu dekat guna memastikan transisi kekuasaan yang stabil menuju Iran yang makmur.

"Waktu untuk kehadiran yang luas dan menentukan di jalan-jalan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mewujudkan kemenangan akhir," pungkas Pahlavi dengan nada optimis.

Kematian Khamenei yang dikonfirmasi melalui bukti visual yang diterima Trump dan Netanyahu kini menjadi katalisator bagi Pahlavi untuk memimpin gerakan persatuan nasional guna merebut kembali tanah air Iran dari puing-puing kekuasaan lama.

Berikut adalah pesan lengkap Reza Pahlavi bagi warga Iran di seluruh dunia yang dibagikannya melalui X pada Minggu (1/3/2026):

Rekan-rekan senegaraku sekalian,

Ali Khamenei, diktator haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri terbaik Iran, telah dihapuskan dari muka sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam pada hakikatnya telah mencapai ajalnya dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah.

Setiap upaya oleh sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei dipastikan akan gagal sejak awal. Siapa pun yang mereka tempatkan sebagai penggantinya tidak akan memiliki legitimasi maupun daya tahan, dan niscaya akan turut terlibat dalam kejahatan rezim ini juga.

Kepada militer, aparat penegak hukum, dan pasukan keamanan: setiap upaya untuk mempertahankan rezim yang sedang runtuh akan gagal. Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bergabung dengan bangsa, membantu memastikan transisi Iran yang stabil menuju masa depan yang bebas dan makmur, serta ikut serta dalam membangun masa depan tersebut.

Kematian penjahat Khamenei, meskipun tidak dapat membalaskan darah yang telah tumpah, kiranya dapat menjadi obat penawar bagi hati yang terluka dari para ayah dan ibu yang berduka, suami dan istri, putra dan putri, serta keluarga dari mereka yang telah memberikan nyawa dalam Revolusi Nasional Singa dan Matahari Iran.

Rakyat Iran yang terhormat dan pemberani,

Ini mungkin menjadi awal dari perayaan nasional besar kita, namun ini bukanlah akhir dari perjalanan. Tetaplah waspada dan bersiap. Waktu untuk kehadiran yang luas dan menentukan di jalan-jalan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mewujudkan kemenangan akhir, dan kita akan merayakan kebebasan Iran di seluruh tanah air tercinta.

Hidup Iran,
Reza Pahlavi

Posisi Jasad Ayatollah Ali Khamenei

Kabar duka menyelimuti Teheran, Iran sementara sorak-sorai pecah di Tel Aviv, Israel dan Washington, Amerika Serikat. 

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dipastikan tewas dalam operasi militer udara paling masif abad ini. 

Baca juga: Israel Klaim 7 Pejabat Tinggi Iran Tewas, Ada Ali Shamkhani dan Ayatollah Khamenei 

Baca juga: Petrus Sebut Jokowi Lakukan Tipu Muslihat soal UU KPK, Beberkan 7 Fakta

Jasad sang Rahbar dilaporkan ditemukan dalam kondisi tragis di bawah reruntuhan kompleks kepemimpinannya di Teheran, tak lama setelah gelombang pengeboman dahsyat pada Sabtu (28/2/2026) siang.

"Operation Epic Fury": 12 Jam yang Menghancurkan
Kematian Khamenei merupakan puncak dari operasi militer bertajuk "Operation Epic Fury". 

Dalam kurun waktu hanya 12 jam, aliansi Amerika Serikat dan Israel meluncurkan sedikitnya 900 serangan udara yang menyasar fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga gedung pemerintahan.

Kompleks kediaman Khamenei menjadi target pembuka yang dihancurkan secara presisi. 

Tim penyelamat menemukan jasad pria berusia 86 tahun tersebut dengan luka akibat pecahan proyektil di antara puing bangunan yang telah rata dengan tanah.

Bukti Visual di Meja Donald Trump dan Netanyahu

Momen jatuhnya sang pemimpin tertinggi diperkuat dengan laporan bahwa foto-foto jasad Khamenei telah diperlihatkan langsung kepada Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai bukti konfirmasi intelijen.

Melalui platform Truth Social, Presiden Trump mengumumkan kabar tersebut dengan nada provokatif:

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, sudah mati. Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," tulis Trump.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut serangan ini sebagai pencapaian militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Ia menegaskan bahwa AS tidak akan berhenti sampai ancaman terhadap warga Amerika benar-benar sirna.

"Ini adalah operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah. Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun... kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda," tegas Hegseth.

Kematian Khamenei ini menyusul tewasnya tujuh pejabat tinggi Iran lainnya, termasuk Ali Shamkhani, yang semakin melumpuhkan rantai komando Teheran di tengah ancaman balasan intens dari Garda Revolusi Iran (IRGC).

Pukulan terberat sejak 1979

Kematian Khamenei disebut sebagai pukulan paling berat terhadap rezim Iran sejak Revolusi 1979 yang membawa para Ayatollah berkuasa.

Selain dirinya, sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan tewas, termasuk kepala Garda Revolusi dan menteri pertahanan, bersama puluhan pemimpin rezim lainnya. 

Di dalam negeri, ribuan orang dilaporkan turun ke jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya pada Sabtu malam menuntut perubahan.

Di Galleh Dar, Provinsi Fars, patung Khamenei ditumbangkan dan dibakar. 

Dalam sebuah video yang beredar, terdengar seseorang berkata, “Apakah aku sedang bermimpi? Selamat datang di dunia baru.” 

Di luar Iran, perayaan juga terjadi di sejumlah lokasi, termasuk di London utara yang dikenal sebagai “Little Tehran”, ketika warga Iran di pengasingan turun ke jalan merayakan kabar kematian tersebut.

Tak lama setelah serangan, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan rudal dan drone ke pangkalan AS dan target sipil di lima negara Teluk.

Rudal Iran dilaporkan menembus sistem pertahanan Iron Dome Israel dan menghantam Tel Aviv, menewaskan satu perempuan dan melukai 20 orang. 

Presiden Trump menyatakan operasi militer akan terus berlanjut. 

Dalam pidato video, ia berkata, “Saya katakan malam ini bahwa kebebasan Anda sudah di depan mata.”

Ia kemudian menambahkan bahwa pengeboman “yang berat dan presisi akan terus berlanjut tanpa gangguan sepanjang pekan ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kami, PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN DUNIA!” 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengatakan, serangan gabungan itu akan berlangsung “selama diperlukan”.

Baca juga: Bupati Anwar Sadat Isi Tausiah Ramadan di Masjid Istiqlal

Baca juga: Seskab Teddy Beberkan Kenaikan Insentif Guru Honorer, Pertama dalam 20 Tahun

Baca juga: 53 KM Tol Fungsional Siap Manjakan Pemudik Jambi, Solusi Macet Betung

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.