Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana kehangatan, kebersamaan, semangat berbagi, dan kuatnya nilai silaturahmi terasa semakin kental di tengah masyarakat.
Momentum istimewa inilah yang kembali dimanfaatkan Coklat Kita untuk menyapa kalangan pesantren melalui program “Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026.”
Pada Ramadan 1447 Hijriah ini, Coklat Kita menghadirkan rangkaian kegiatan yang tidak hanya berbagi takjil dan buka puasa bersama, tetapi juga ruang dialog dan berbagi wawasan bagi mahasantri, santri, dan masyarakat.
Program ini menjadi kelanjutan dari Silatusantren yang telah digelar sepanjang 2025 hingga awal 2026 di berbagai pondok pesantren di Jawa Barat.
Tahun ini, kegiatan akan digelar di tiga titik, di mana Pondok Pesantren Darussalam Ciamis menjadi lokasi pertama acara Silatusantren yang digelar pada Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: Santri di Ponpes Darussalam Ciamis Biasa Tarawih Jam 2 Pagi
Baca juga: Festival Liwet Nusantara Meriahkan Tarhib Ramadan 1447 H di Ponpes Darussalam Ciamis
Sejumlah tokoh hadir sebagai bintang tamu dalam rangkaian Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026 ini, di antaranya budayawan Zastrouw Al Ngatawi, Budi Dalton, serta pimpinan Pondok Pesantren Darussalam KH. Fadlil Yani Anusyamsi.
Kegiatan ini juga dipandu oleh Prima Ramadhan sebagai MC dan Ki Dalang Bhatara Sena Sunandar, dan di tutup dengan lantunan salawat bersama oleh Ai Khodijah and Friend.
Melalui momentum Ramadan ini, Coklat Kita berharap silaturahmi yang terjalin dapat memperkuat ukhuwah, menumbuhkan empati, serta menghadirkan ruang inspiratif bagi generasi muda pesantren dalam mengisi bulan suci dengan kegiatan yang penuh makna.
Sebagai salah satu narasumber, Budi Dalton mengungkapkan, konsep silaturahmi pesantren (Silatusantren) sejatinya tak jauh berbeda dengan silaturahmi budaya yang selama ini ia jalani.
Namun, ada pendekatan baru yang membuatnya terasa lebih kaya.
“Waktu di Gunung Puntang itu ada pendalaman tentang ekologi. Kita camping, berdiskusi, tapi juga belajar tentang alam, tentang sampah, tentang bagaimana membangun relasi dengan lingkungan,” ujar Budi.
Menurutnya, forum seperti ini tak sekadar diskusi standar antar santri, melainkan ruang menemukan perspektif baru.
Para santri tidak hanya diajak bersosialisasi, tetapi juga memahami pengetahuan tentang alam dan kesadaran ekologis.
Sementara itu, budayawan Zastrouw Al Ngatawi menilai Silaturahmi Pesantren memiliki makna lebih dalam, yakni sebagai upaya reaktivasi genetika kultural pesantren.
“Pesantren itu mata air kebudayaan, mata air peradaban. Di dalamnya ada tradisi, nilai, norma yang bisa menjadi vaksin kultural menghadapi berbagai virus budaya hari ini,” ujarnya.
Ia menyebut pesantren sebagai inkubator nilai dan sistem budaya yang dapat membangun imunitas kultural generasi muda.
Melalui forum silaturahmi ini, nilai-nilai tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dieksplorasi dan direkonstruksi agar relevan dengan zaman.
“Datang ke pesantren bukan sekadar bikin event. Tapi menggali, mengeksplorasi, mereaktivasi sistem nilai dan tradisi itu. Itu yang paling penting,” tegasnya.
Untuk pertemuan kali ini, materi yang diangkat berkisar pada tema kesadaran diri.
Dalam tradisi pesantren, konsep tersebut sering dirujuk pada ungkapan man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu yakni siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Zastrouw menjelaskan, materi pengenalan diri tersebut akan dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya generasi muda saat ini.
“Materinya bisa sama, tapi rasa dan penerimaannya berbeda tergantung pola, cara, dan gaya penyampaiannya. Itu yang kita lakukan,” katanya.
Tak hanya soal refleksi diri, pembahasan juga dikaitkan dengan konsep eko-teologi atau kesadaran lingkungan berbasis nilai spiritual dan keimanan.
“Kesadaran membangun relasi yang baik dengan alam itu bagian dari kesadaran diri juga. Itu ekspresi spiritual yang konkret,” pungkasnya.
Melalui pendekatan budaya, spiritualitas, dan ekologi, Silatusantren ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan inovasi, sekaligus memperkuat identitas kultural santri agar mampu bertahan dan berkembang di tengah arus perubahan zaman.
Pondok Pesantren Darussalam Cijeungjing, Ciamis menjadi titik pertama kegiatan “Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026” yang digelar Coklat Kita.
Pemilihan pesantren besar di Jawa Barat ini bukan tanpa alasan.
Perwakilan Coklat Kita, H. Yudi Wate Angin, menjelaskan bahwa Darussalam dipilih karena pengaruh dan reputasinya yang luas.
“Terpilihnya Pondok Pesantren Darussalam Cijengjing, Ciamis ini berdasarkan keterpengaruhannya dan besarnya pesantren. Ini salah satu pesantren besar di Jawa Barat. Tokohnya juga luar biasa dan sangat kami kagumi,” ujar Yudi.
Selain menjadi tuan rumah, kegiatan ini juga melibatkan sejumlah kampus yang berada di lingkungan pesantren, termasuk Sekolah formal mulai dari MI hingga Universitas Islam Darussalam.
Bahkan, undangan turut diberikan kepada kampus-kampus dari Garut, Tasikmalaya, Sumedang hingga Majalengka.
Untuk Ramadan 2026 ini, konsep kegiatan dirancang lebih komprehensif. Ada unsur kebersamaan, sosial, edukasi, hingga hiburan.
“Di Darussalam ini ada berbagi takjil, buka puasa bersama, berbagi ilmu dari pangersa ulama tuan rumah, juga bersama Kang Budi Dalton dan Pak Zastrouw. Jadi berbagi kebersamaan, berbagi ilmu, dan berbagi rasa dalam mengisi bulan suci Ramadan,” jelas Yudi.
Program ini merupakan kelanjutan dari silaturahmi sebelumnya, termasuk kegiatan tadabur alam dan silaturahmi budaya yang telah digelar beberapa tahun terakhir.
Tahun ini, konsepnya lebih difokuskan pada kebersamaan dan kepedulian sosial di bulan suci.
Setelah Ciamis, agenda “Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026” akan berlanjut ke dua lokasi lainnya, yakni Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah Cipulus Purwakarta pada 5 Maret dan Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur pada 7 Maret 2026.
Kemudian, Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Dr. Fadlil Yani Anusyamsi, MBA, M.Ag, yang akrab disapa Kang Icep, menyambut positif kolaborasi ini.
Menurutnya, generasi muda saat ini sangat dekat dengan dua hal utama yakni seni dan budaya. Di luar itu, olahraga juga menjadi faktor penting, meski di bulan Ramadan ini lebih difokuskan pada kegiatan spiritual dan kebudayaan.
“Pesantren Darussalam terbuka dengan berbagai event seni dan budaya. Dan Coklat Kita sudah sering berkolaborasi dengan kami,” katanya.
Ia menyebut, kolaborasi sebelumnya menghadirkan grup band Wali dalam acara ngabuburit spektakuler di Ciamis.
Bahkan, menurutnya, Darussalam menjadi salah satu pesantren pertama yang memulai kolaborasi event besar bersama Coklat Kita di Ciamis.
“Coklat Kita sahabat kami dalam nuansa seni dan budaya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kang Icep memaparkan bahwa Pondok Pesantren Darussalam ini berdiri sejak 1929 oleh KH. Ahmad Fadil.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh KH. Irfan Hielmy hingga 2010. Saat ini, estafet kepemimpinan berada di generasi ketiga, termasuk KH. Fadlil Yani sebagai pimpinan harian.
Jumlah santri dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi mencapai sekitar 6.665 orang. Namun, yang mukim di asrama sekitar 1.700 hingga 1.800 santri, menyesuaikan kapasitas.
Alumni Darussalam tersebar juga di berbagai bidang, secara akademik, tercatat hampir 20 guru besar merupakan alumni, mengajar di UIN, UPI, UNJ, UNY, dan berbagai perguruan tinggi lainnya di Indonesia.
Di bidang seni, sejumlah nama publik juga merupakan alumni, termasuk Faank Wali.
Melalui kolaborasi “Nikmatnya Ramadan 2026”, Kang Icep berharap pesantren tidak lagi dipandang semata sebagai tempat belajar kitab klasik, tetapi juga ruang tumbuh seni, budaya, dan penguatan sosial keumatan.
Salah seorang santri sekaligus mahasiswa Universitas Islam Darussalam Ciamis, Doni Rizwanto (22), mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Pondok Pesantren Darussalam.
“Saya sudah sekitar tujuh tahun mondok di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis. Sekarang alhamdulillah mengabdi sebagai pembimbing santri sekaligus mahasiswa di Universitas Islam Darussalam,” ujarnya.
Santri asal Kecamatan Rancah, Ciamis itu mengungkapkan alasannya memilih Darussalam karena memiliki ciri khas tersendiri dan reputasi panjang sebagai salah satu pesantren tertua di Kabupaten Ciamis.
“Darussalam ini punya kekhasan sendiri. Selain termasuk pesantren tertua di Ciamis, santrinya ribuan, bahkan ada yang dari luar daerah hingga luar negeri. Alumni-alumninya juga sudah banyak yang berkiprah di berbagai bidang, bahkan sampai mancanegara,” katanya.
Terkait kegiatan Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026, Doni menilai acara tersebut menjadi warna tersendiri bagi pesantren.
“Menurut saya kegiatan ini positif sekali. Darussalam memang terbuka terhadap kebudayaan. Apalagi Kang Icep juga seorang musisi sekaligus kiai, jadi cocok antara konsep kesenian dari Coklat Kita dengan karakter Darussalam,” ucapnya.
Ia menambahkan, di lingkungan pesantren sendiri seni dan budaya memang menjadi bagian dari pembinaan santri, seperti marawis, tari saman, hingga musikalisasi puisi.
Hal senada disampaikan Kayla Azka Nadhifah (15), santriwati yang kini duduk di Kelas X Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Darussalam.
Ia mengaku telah empat tahun mondok dan sebelumnya merupakan alumni MTs Darussalam.
“Saya sudah empat tahun di sini. Tahu Darussalam dari saudara, karena banyak keluarga saya juga mondok di sini,” katanya.
Menurutnya, Darussalam dikenal memiliki kualitas pendidikan yang baik dengan banyak alumni berprestasi.
“Lulusannya banyak yang jadi doktor, tokoh, dan punya reputasi baik,” ujarnya.
Terkait kegiatan Coklat Kita, Kayla menilai acara tersebut selalu dipersiapkan dengan serius dan menarik perhatian santri.
“Ini bukan pertama kali Coklat Kita ke sini. Persiapannya sangat effort dan acaranya menarik,” ucapnya.
Ia juga menyebut dakwah di Darussalam memiliki pendekatan yang unik, salah satunya melalui musik religi yang dibawakan pimpinan pesantren.
“Kang Icep itu berdakwah juga lewat musik religi. Di lagu-lagunya ada makna yang mendalam,” katanya.
Kehadiran program Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026 pun menjadi momentum kebersamaan yang memadukan nilai religius dan kebudayaan di lingkungan pesantren.
Selain dihadiri oleh para budayawan dan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Ciamis, Andang Firman Triyadi, Ketua DPRD Ciamis, Nanang Permana, unsur Forkopimda hingga para tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ciamis.(*)