TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan sekadar pertempuran fisik di jantung Kota Yogyakarta, melainkan simbol kejelian Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam mengambil keputusan strategis.
Nilai keberanian dan ketepatan momentum inilah yang kini harus diteladani bagi pelajar di DIY untuk membentuk generasi penerus bangsa yang unggul, berkarakter, dan paham akan sejarah perjuangan kemerdekaannya.
Hal itu ditekankan Sekretaris Paniradya Kaistimewaan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini dalam talkshow 'Sinau Sejarah' mengambil tema 1 Maret Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Talkshow yang digelar di SMK 2 Depok, Sleman, Yogyakarta, pada Kamis (26/2/2026) ini mengupas bagaimana peran rakyat Yogyakarta mempertahankan kedaulatan negara.
Di hadapan para siswa, Ariyanti bercerita bagaimana Sri Sultan HB IX memiliki kepemimpinan yang luar biasa. Saat itu, Belanda melancarkan propaganda kepada dunia internasional dengan mengeklaim Republik Indonesia sudah tidak ada.
Kebetulan saat itu Sultan rutin menyimak informasi perkembangan dunia melalui siaran radio dan mengetahui Dewan Keamanan PBB akan bersidang. Berangkat dari situ, Sultan menemukan celah untuk mengabarkan dunia bahwa Republik Indonesia masih ada, dengan menginisiasi terjadinya serangan umum 1 Maret 1949.
"Itu salah satu karakter kejelian. Mengambil keputusan serangan dengan waktu yang tepat. Akhir Februari dewan Keamanan PBB akan sidang. Sehingga Sultan mengambil kejelian untuk menyusun serangan. Serangan ini betul-betul hanya untuk membuktikan Indonesia masih ada. Efeknya dunia mengakui, oh Indonesia masih ada," kata Ariyanti.
"Itu yang adik-adik harus tahu. Melihat kejelian, agar bisa mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Itu salah satu karakter Yogyakarta. Karakter keberanian dan kejelian, yang hari ini sangat dibutuhkan," imbuh dia.
Talkshow Sinau Sejarah yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewaan DIY ini turut mengundang narasumber dari Sejarawan UGM DR. Julianto Ibrahim, S.S., M.HUM dan M. Fatih Abdulbari, S.HUM., MA selaku Dosen dan Penulis dari ISI Yogyakarta. Keduanya banyak mengupas seputar sejarah dan perjuangan rakyat Yogyakarta dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Peristiwa perang enam jam yang berhasil mempertahankan kedaulatan negara.
Julianto menceritakan, peristiwa sejarah ini bermula 19 Desember 1948, ketika Belanda melakukan agresi militer II dengan melakukan penyerangan besar-besaran ke Yogyakarta, yang baru menjadi Ibukota Indonesia. Belanda saat itu menangkap para pemimpin nasional, termasuk Soekarno- Hatta. Di sisi lain, Jenderal Soedirman sebagai Panglima TNI terus berjuang memimpim perang Gerilya dari Jateng sampai Jatim sepanjang seribu kilometer.
"Sultan kirim surat lewat kurir, usul kepada Jenderal Soedirman meminta agar diadakan serangan pada siang hari dan serentak. Usul itu disetujui, Jenderal Soedirman meminta Sultan berkomunikasi dengan letkol setempat," kata Julianto.
Letkol setempat saat itu adalah Letkol Soeharto. Rencana kemudian disusun. Dua minggu setelah rapat akan diadakan serangan serentak. Namun Kompi Komarudin justru melakukan serangan di hari yang salah, yaitu tanggal 28 Februari. Serangan kecil ini dengan mudah ditangkis Belanda. Keesokan harinya, tepat 1 Maret, Belanda lengah. Lebih kurang dua ribu tentara Indonesia menyerang serentak dari beberapa penjuru dan berhasil menguasai kota Yogyakarta selama 6 jam. Serangan ini berdampak penting yang menimbulkan tekanan Internasional terhadap Belanda.
"Pukul 11 siang bantuan Belanda dari Semarang datang. Pasukan Indonesia ada yang berlari bersembunyi masuk kedalam Keraton. Sultan mengatakan, siapa yang berani masuk ke dalam Keraton langkahi dulu mayat saya. Saat itu tidak ada pasukan Belanda yang berani masuk ke Keraton," kata Julianto, sembari menekankan sikap keberanian Raja Keraton Yogyakarta itu.
Serangan agresi militer kedua Belanda di Yogyakarta yang bergejolak memperjuangkan kedaulatan negara bukan hanya militer namun juga Seniman. Hal ini diungkapkan Dosen dan Penulis ISI Yogyakarta, M. Fatih Abdulbari. Ia mengatakan, dalam riset yang dilakukan, seniman revolusi di masa itu memang tidak berjuang angkat senjata. Melainkan melukis masa perang sekaligus bertugas menjadi kurir. Menurutnya, ada seniman revolusi bernama Dullah yang saat itu mengajak serta murid-muridnya untuk melukis peristiwa demi peristiwa yang terjadi selama masa perang. Jumlahnya terkumpul sekitar 150 lukisan.
"Menariknya, lukisan ini menjadi sumber visual yang sangat penting, menggambarkan perspektif orang Indonesia selama agresi militer kedua Belanda ini," kata dia.(*)