SURYA.co.id, Surabaya - Teheran menghadapi masa depan politik yang tidak pasti setelah pemerintah Iran mengonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di ibu kota Teheran menjadi titik balik besar dalam konflik regional. Chatham House Britannica
Dikutip SURYA.co.id dari berbagai sumber konstitusi Iran menyebut pemimpin tertinggi baru tidak dipilih melalui pemilu langsung, melainkan ditentukan oleh Majelis Pakar, badan beranggotakan 88 ulama senior.
Majelis ini memiliki kewenangan penuh menunjuk pemimpin tertinggi baru.
Berdasarkan itu muncul 2 skenario suksesi muncul:
Baca juga: Imbas Pemimpin Iran Ali Khamenei Tewas Akibat Serangan Israel-AS, IRGC Mulai Operasi Paling Dahsyat
Dewan ini akan menjalankan pemerintahan sampai Majelis Pakar menetapkan pemimpin baru.
Konflik AS-Israel dengan Iran telah meningkat sejak pertengahan 2025, dipicu oleh serangkaian serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran dan balasan rudal ke pangkalan AS di Timur Tengah.
Eskalasi berlanjut hingga Februari 2026, ketika serangan gabungan menewaskan Khamenei.
Kini beberapa nama mulai disebut sebagai kandidat pengganti Khamenei:
Situasi semakin kompleks dengan munculnya tokoh oposisi. Maryam Rajavi, pemimpin NCRI berbasis di Paris, menyerukan rakyat Iran menggulingkan rezim ulama.
Sementara Reza Pahlavi, putra mahkota Iran dalam pengasingan, menyerukan perubahan politik melalui media sosial.
Para analis memperingatkan perebutan kekuasaan internal berpotensi terjadi. IRGC diprediksi memainkan peran besar menentukan arah politik Iran
Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim mengetahui siapa kandidat kuat pengganti Khamenei, meski enggan menyebutkan nama.
Pengamat internasional menilai gugurnya Khamenei di tengah konflik militer berpotensi membuka babak baru ketegangan di Timur Tengah, dengan risiko berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar.