SURYA.co.id SURABAYA – Memasuki puasa hari ke-10 pada Ramadan 2026, harga bahan pokok (bapok) di Pasar Wonokromo Surabaya terpantau cenderung stabil, Sabtu (28/2/26).
Namun, kondisi pasar tradisional terbesar di Kota Pahlawan itu terlihat lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi.
Pantauan SURYA.co.id di lapangan menunjukkan aktivitas jual beli tidak seramai biasanya. Sejumlah lorong pasar tampak sepi, bahkan beberapa stan terlihat tutup dan tidak berpenghuni.
Di beberapa sudut pasar, kondisi juga terlihat kurang terawat dengan area yang kumuh dan kotor.
Ayu, salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Wonokromo, mengaku kondisi seperti saat ini, terutama pada momen ramadan, memang sudah berlangsung sejak tahun lalu.
Baca juga: Jadwal Pasar Murah Pemkot Surabaya Ada Di 93 Titik, Harga Lebih Murah Dari Pasar
“Kalau harga sendiri cenderung normal dan stabil. Tapi pembeli tidak seramai dulu, tepatnya di tahun sebelum ada pandemi mas,” ujar Ayu.
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu faktor utama turunnya jumlah pembeli di pasar tradisional.
Banyak konsumen kini memilih berbelanja secara online melalui media sosial.
“Mungkin sekarang banyak orang beli bapok via online. Biasanya cari barang lewat Facebook, lalu dikirim,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ardo, pedagang lainnya.
Ardo menegaskan bahwa pasar memang tidak sepenuhnya tanpa pembeli, namun omzet yang didapat jauh menurun dibandingkan masa sebelum pandemi Covid-19.
Baca juga: Cara Cepat dan Mudah Cek THR Pensiunan 2026 Sudah Cair atau Belum, Tak Perlu Datang ke Bank
“Sepinya bukan tidak ada pembeli sama sekali. Pembeli itu ada, tapi tidak ramai. Terus terang, jauh beda saat sebelum pandemi dulu. Omzet pun ikut menurun,” kata Ardo.
Berikut daftar harga bahan pokok per kilogram di Pasar Wonokromo per puasa hari ke-10:
Secara umum, harga bapok di Pasar Wonokromo masih tergolong stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan menjelang pertengahan Ramadan.
Cabai kecil tercatat sebagai komoditas dengan harga tertinggi, namun masih dalam kisaran wajar dibandingkan fluktuasi pada momen-momen besar sebelumnya.
Meski harga relatif aman, tantangan utama para pedagang kini bukan lagi soal pasokan atau kenaikan harga, melainkan perubahan perilaku konsumen.
Digitalisasi dan kemudahan belanja online membuat pasar tradisional harus beradaptasi agar tetap bertahan di tengah persaingan.
Pedagang berharap ada upaya pembenahan fasilitas pasar, termasuk kebersihan dan penataan stan, agar minat masyarakat untuk kembali berbelanja langsung ke pasar tradisional bisa meningkat, terutama di momen Ramadan yang biasanya identik dengan lonjakan kebutuhan bahan pokok.
"Harapan kami ya tentu itu. Pemerintah bisa bantu, agar minat belanja ke pasar itu dilakukan masyarakat lagi. Entah dibenahi dari mekanisme kebersihannya atau penataan lapaknya, terserah, yang penting kami jangan sampai sepi pembeli," harap Ayu.