TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali melanjutkan program Satu RT Satu APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di 2026.
Langkah ini, sebagai bagian dari upaya Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) untuk memperkuat ketahanan kebakaran berbasis wilayah.
Kepala Dinas Damkarmat Kota Yogyakarta, Taokhid, menandaskan, sampai akhir 2025, capaian program tersebut baru mencapai sekira 210 unit atau 11 persen.
Dengan jumlah total 2.535 RT di Kota Yogyakarta, pihaknya mematok target meningkatkan realisasi alat pemadam ringan hingga 350 pada RT tahun ini.
Pemerataan dilakukan berdasar pemetaan yang disusun bersama Satgas Jaka (Satuan Tugas Jogja Aman Kebakaran), guna mengetahui RT mana yang sudah dan belum memiliki APAR.
Namun, karena keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, pendekatan yang dilangsungkan pun mendorong kemandirian masyarakat.
"Kami juga dorong RT untuk mengusahakan secara mandiri, bisa membeli sendiri, atau bermitra dengan pelaku usaha setempat. Pemerintah sifatnya memfasilitasi," katanya.
Lebih lanjut, Taokhid menyampaikan, secara umum konsep penguatan ketahanan kebakaran di 2026 masih melanjutkan strategi tahun sebelumnya.
Penekanan diberikan pada penguatan kelembagaan relawan kebakaran di masing-masing kelurahan supaya lebih terkonsolidasi secara matang.
"Penguatan kita fokus di wilayah. Program pencegahan seperti penyuluhan, edukasi, sosialisasi, simulasi, hingga konsolidasi dengan para pemangku kepentingan terus diintensifkan untuk membangun ekosistem ketahanan kebakaran," ujarnya.
Saat ini, kata Kadamkarmat, jumlah relawan kebakaran tercatat ada sekitar 750 orang, yang bakal dilakukan proses verifikasi lanjutan pada 2026.
Verifikasi dan validasi data dimaksud untuk memastikan jumlah Relawan Pemadan Kebakaran (Redkar) aktif, berkomitmen, serta potensi yang bisa dioptimalkan di tiap wilayah.
"Validasi ini penting untuk memetakan kekuatan riil di lapangan, serta menyinergikan dengan Satgas Jaka sebagai pembina kedamkaran di kelurahan," pungkasnya. (aka)