TRIBUNMANADO.CO.ID - Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari perlu dilakukan.
Agar kita bisa mengetahui kehendak Tuhan.
Berikut rekomendasi renungan harian Kristen berjudul Sang Penjunan yang Maha Agung.
Baca juga: Renungan Harian Kristen Markus 12:13-17, Munafik
Bacaan Alkitab diambil dalam Yeremia 18:1-4
Yeremia melaksanakan tugas sebagai nabi selama 40 tahun, yakni sekitar tahun 627 hingga 586 SM (Sebelum Masehi).
Dia menjadi nabi di zaman Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia sebagai raja terakhir Yehuda, hingga bangsa Yehuda hancur dan dibuang ke Babel.
Sementara Kerajaan Israel (Utara) ketika itu, sudah lama runtuh dengan Hosea sebagai raja ke 19 atau raja terakhirnya sejak Yerobeam menjadi raja setelah pecahnya 2 kerajaan itu.
Israel hancur ketika Hizkia baru memasuki tahun ke 9 sebagai raja Yehuda (Israel Selatan), mereka dikalahkan dan ditawan penduduknya diangkut ke Asyur. Hizkia sendiri 29 tahun menjadi raja.
Setelah Hizkia, raja berikutnya yang adalah anak cucunya berturut-turut, Manasye (55 tahun), Amon (2 tahun) dan kemudian Yosia (31 tahun).
Firman Tuhan kepada Yeremia mengenai pelajaran tentang tukang Periuk, terjadi dalam pemerintahan Yoyakim sebagai raja Yehuda, menggantikan Yoahas yang hanya 3 bulan menjadi raja Yehuda.
Dia ditangkap dan dibawa ke Mesir hingga mati di sana.
Fir'aun mengganti dia dengan pamannya Elyakim sebagai raja.
Dan Fir'aun mengubah nama Elyakim menjadi Yoyakim, yang memerintah Yehuda selama 11 tahun.
Baik Yoahas, Yoyakim maupun Yoyakhin hingga Zedekia sebagai raja-raja terakhir di Yehuda, semua sama kelakuannya. Berlaku jahat di hadapan Tuhan.
Sama seperti raja-raja Israel, yang sudah puluhan tahun lebih dahulu hancur karena kejahatannya.
Itulah sebabnya, mereka dihukum Tuhan.
Karena kedegilan hati mereka, kejahatan menyembah berhala dan lebih mengandalkan kekuatan bangsa Asyur, Mesir hingga Babel, maka Allah membuang mereka.
Mereka telah melawan Allah dengan berbuat jahat terhadap sesamanya dan juga berkhianat kepada Allah yang telah mengistimewakan mereka di antara segala bangsa.
Mereka akhirnya dibuang baik ke Asyur (Israel Utara) maupun ke Babel Yehuda (Israel Selatan).
Sebenarnya, bangsa Israel maupun Yehuda tidak akan sampai binasa dan dibuang sebegitu menderitanya, andaikata mereka menuruti segala teguran Tuhan lewat para hamba-Nya, para nabi termasuk nabi Yeremia.
Tuhan sudah tidak dianggap.
Merekapun sangat menderita sengsara.
Akan tetapi, Tuhan tetap berbelas kasihan kepada mereka. Itulah sebabnya, Dia mengutus lagi nabi Yeremia untuk menegur dan memperingatkan mereka, agar bertobat.
Sebab, Tuhan adalah Pencipta. Dialah Sang Penjunan, manusia tidak berdaya karena hanya buatan tangan-Nya saja.
Nasib dan hidup kita ada dalam tangan-Nya.
Karena kasih Allah yang begitu besar akan umat Yehuda dan Israel, maka Dia mengutus lagi nabi Yeremia untuk berbicara kepada mereka.
Kali ini Tuhan menggunakan model perumpamaan dan simulasi sederhana. Yakni dengan menyuruh dia pergi mengamati dan belajar tentang cara kerja tukang periuk.
Ketika dia sedang mengerjakan Periuk itu lantas rusak di tangannya, maka akan dihancurkannya kembali dan kemudian diukirnya sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah periuk yang berguna dan mendatangkan berkat bagi orang lain.
Tukang periuk dengan sabar mendesain ulang, mengukir dan membuat indah lebih indah dari semula. Sehingga, menghasilkan karya yang terbaik.
Tuhan pun demikian.
Setiap orang yang telah berdosa, jika bertobat, diubahkan-Nya dan diberkati-Nya, sehingga membuahkan hasil yang menghidupkan sesama.
Hidupnya bahagia sejahtera karena diampuni, dipulihkan dan diberkati, sedangkan orang di sekitarnya ikut menikmati buah-buah yang dihasilkannya itu.
Sudah tentu buah kebaikan karena proses Tuhan yang mendatangkan berkat itu.
Demikian firman Tuhan hari ini.
"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (ay 3-4)
Sahabat Kristus, kita hanyalah tanah dan buatan tangan Tuhan saja.
Tetapi oleh kasih karunia Sang Tukang Periuk Sejati, kita menjadi manusia yang mulia, dan luar biasa, seperti kita adanya saat ini.
Lihatlah tanah, tidak melawan tukang periuk. Maka jadilah dia Periuk yang indah yang bermanfaat bagi banyak manusia, dimulai dari diri kita dan keluarga serta orang-orang di sekitar kita.
Maka hormatilah Sang Penjunan Maha Agung, Tukang Periuk Sejati dan maha mulia, yang satu-satunya yang mampu mengubahkan segalanya dari yang tidak mungkin menjadi mungkin dan dari yang tidak ada menjadi ada bahkan istimewa, seperti kita adanya saat ini.
Puji dan muliakanlah Dia, Sang Penjunan Maha Agung. Jangan keraskan hati, apalagi melawan.
Pasrahlah mengikuti bentukan Tuhan.
Percayalah, semuanya pasti akan yang paling baik dan selalu tepat dan indah pada waktunya. Amin