'Sepak Bola Barongsai' Ramaikan Kampung Cina Manado Jelang Cap Go Meh
Rizali Posumah March 02, 2026 01:22 AM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Kawasan Kampung Cina Manado, Sulawesi Utara mendadak riuh, Minggu (1/3/2026) malam.

Menjelang perayaan Cap Go Meh 2026, ratusan warga hingga wisatawan mancanegara memadati pelataran Kelenteng Kwan Kong dan Kelenteng Ban Hin Kiong untuk menyaksikan atraksi Barongsai yang tak biasa.

Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya delapan Barongsai tampak lincah "wara-wiri" berburu angpao.

Menariknya, para Barongsai ini memiliki trik khusus untuk menarik perhatian pengunjung, terutama anak-anak.

Strategi ini terbukti ampuh; anak-anak yang gemas pun langsung merayu orang tua mereka agar bersedia merogoh kocek untuk mengisi amplop merah.

Setelah angpao diikat pada sebatang buluh, Barongsai akan menjemputnya dengan gerakan atraktif, mengangguk santun sebagai tanda terima kasih, bahkan memberikan "ciuman" hangat kepada si anak pemberi angpao.

Barongsai adalah tarian tradisional Tiongkok yang memiliki sejarah panjang, berakar dari mitologi dan legenda kuno.

Tarian ini, yang menampilkan dua penari di dalam kostum singa, atau naga, dipercaya sebagai simbol keberanian, keberuntungan, dan kekuatan untuk mengusir roh jahat.

Ada pemandangan unik saat antrean angpao sedang sepi.

Bukannya beristirahat, kelompok Barongsai ini justru menyuguhkan aksi langka dengan bermain sepak bola.

Sebuah benda menyerupai bola digigit, lalu ditendang dengan lincah dari satu Barongsay ke Barongsai lainnya.

Kemeriahan kian memuncak saat malam semakin larut.

Di Kelenteng Ban Hing Kiong, pertunjukan semakin lengkap dengan hadirnya Liong.

Gerakan naga yang melesat cepat memburu mustika tersebut sukses membuat penonton, termasuk turis asing, berdecak kagum.

Di balik gemuruh musik dan gerakan akrobatik, suasana toleransi kian terasa kental.

Pengunjung dari berbagai latar belakang agama tampak berbaur secara alami tanpa sekat.

Bahkan, tak sedikit warga non-Tionghoa yang antusias ikut memberikan angpao.

Kendel, salah satu warga yang membawa serta istri dan anaknya, mengaku sangat menikmati momen tahunan ini.

"Ini hiburan gratis yang menghibur," tuturnya.

Ia menceritakan betapa anak-anaknya sangat antusias hingga enggan diajak pulang.

"Paling senang dengan ini adalah anak anak, saat diminta pulang mereka ngotot tinggal, katanya mau lihat Barongsay," tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Andi.

Baginya, momen di Kampung Cina bukan sekadar soal tontonan, melainkan soal kedamaian dalam perbedaan.

"Di sana saya bertemu dengan teman teman dari agama yang berbeda, sangat indah dan sejuk," pungkasnya. (Art)

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.