TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kini berimbas pada arus penerbangan internasional lantaran adanya serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
Situasi ini bukan hanya berdampak pada jemaah yang tengah berada di Tanah Suci, tetapi juga memunculkan kekhawatiran di kalangan calon jemaah yang akan segera berangkat, termasuk dari Samarinda.
Salah satunya adalah Nuraini Dau, warga Samarinda yang telah mengantongi jadwal keberangkatan umrah usai Lebaran.
Baca juga: Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Harga Emas Antam Tembus Rp3 Juta per Gram
Namun, Nuraini mengakui hingga kini belum ada kepastian final terkait keberangkatan tersebut. Ia memilih menunggu informasi lanjutan dari biro perjalanan yang menaunginya.
“Saya berjadwal berangkat umrah Insya Allah habis lebaran. memang dapat jadwal setelah lebaran. Insya Allah kalau ngak ada perubahan tanggal 25,” ujarnya pada Tribun Kaltim, Minggu (1/3/2026).
Kondisi ketidakpastian ini, menurutnya, menjadi hal yang harus disikapi dengan kesiapan mental, termasuk kemungkinan terburuk apabila situasi keamanan semakin memburuk.
Ketika ditanya kemungkinan penundaan apabila situasi perang semakin memanas, Nuraini mengaku menyerahkan sepenuhnya pada kebijakan maskapai dan travel, termasuk terkait pengembalian dana.
“Misalnya batal tapi ada pengembalian 100 persen. Dan barangkali betul betul memang gak bisa itu di kembalikan 100 persen,” ucapnya.
Di balik ketidakpastian tersebut, ia tetap berharap keberangkatannya tidak terdampak konflik.
“Berharapnya gak ditunda. Takut juga kalau sampai perang. Tapi saya liat tergantung dimana transitnya. Saya soalnya mantau terus info info itu,” pungkasnya.
Pemerintah mengimbau jemaah menunda keberangkatan umrah hingga kondisi kembali kondusif usai serangan yang dilakukan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada Sabtu (28/1/2026).
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, imbauan itu disampaikan sebagai upaya memastikan keamanan seluruh warga negara Indonesia.
“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” kata Dahnil dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3/2026).
Pemerintah juga meminta seluruh jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi beserta keluarga di Tanah Air agar tetap tenang dan tidak panik.
Kementerian Haji dan Umrah RI bersama Kementerian Luar Negeri RI terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) guna memastikan jemaah yang mengalami penundaan kepulangan dapat tertangani dengan baik.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan PPIU agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” kata Dahnil.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Baca juga: Perang Amerika Serikat-Israel vs Iran Berimbas ke Piala Dunia 2026, Ini Sikap FIFA
Seluruh pihak diminta merujuk pada sumber resmi pemerintah guna menghindari kesimpangsiuran informasi yang dapat menimbulkan keresahan.
Terkait penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini belum terdapat dampak terhadap persiapan yang sedang berjalan.
Seluruh tahapan perencanaan dan koordinasi tetap berlangsung sesuai jadwal.
Dahnil menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen untuk terus memberikan informasi terkini dan memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh jemaah.
“Kami berharap kondisi segera normal dan semua pihak dapat menahan diri. Pemerintah akan terus memantau perkembangan dan
mengambil langkah yang diperlukan demi keselamatan serta kenyamanan jemaah,” imbuhnya.
Ribuan penerbangan di seluruh Timur Tengah dan kawasan Teluk dibatalkan pada Sabtu (28/2/2026) dan Minggu (1/3/2026), setelah sejumlah negara menutup wilayah udaranya menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Mengutip EuroNews, Bahrain, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di antara negara-negara yang mengumumkan penutupan sebagian wilayah udara mereka.
Kondisi tersebut, menyebabkan penangguhan, pembatalan, serta pengalihan penerbangan, sehingga puluhan ribu penumpang terlantar di berbagai belahan dunia.
Konflik ini juga memicu penutupan bandara-bandara utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, serta pembatalan lebih dari 1.800 penerbangan oleh maskapai-maskapai besar di Timur Tengah, menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium.
Dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 penerbangan atau sekitar 22,9 persen dibatalkan.
Untuk Minggu, sebanyak 716 dari 4.329 penerbangan yang dijadwalkan menuju Timur Tengah telah dibatalkan.
Sementara itu, situs pelacakan penerbangan FlightAware menyebutkan lebih dari 19.000 penerbangan tertunda secara global dan lebih dari 2.600 penerbangan dibatalkan pada pukul 02.30 GMT, Minggu.
Belum jelas berapa lama gangguan operasional penerbangan ini akan berlangsung, sehingga membuat penumpang berada dalam ketidakpastian perjalanan.
Sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, yakni Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA.
Baca juga: SBY Ingatkan Ancaman Perang Modern: Jika Jakarta Diserang Udara, Apa yang Kita Lakukan?
Tiga maskapai utama di kawasan Teluk, yakni Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari yang melintasi pusat-pusat penerbangan tersebut, bahkan lebih banyak lagi pelancong yang menuju berbagai tujuan di Timur Tengah, menurut Cirium.
Pejabat di Bandara Internasional Dubai, bandara terbesar di UEA dan salah satu yang tersibuk di dunia, menyatakan empat orang terluka.
Sementara itu, Bandara Internasional Zayed melaporkan satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan pesawat tak berawak.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait.
“Bagi para pelancong, tidak ada cara untuk memperhalus kenyataan ini,” kata Henry Harteveldt, analis industri penerbangan sekaligus presiden Atmosphere Research Group.
“Anda harus bersiap menghadapi penundaan atau pembatalan penerbangan dalam beberapa hari ke depan karena serangan-serangan ini terus berkembang dan, semoga, segera berakhir.”
Mengutip NPR, gelombang awal serangan udara AS dan Israel dimulai setelah matahari terbit di Iran pada Sabtu (28/2), dengan ledakan besar menggema di ibu kota Teheran.
Video awal menunjukkan kepulan asap tebal membumbung tinggi.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut, serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasionalnya.
Dalam sebuah pernyataan, disebutkan bahwa serangan udara tersebut menghantam target militer dan sipil.
Kelompok bantuan Palang Merah Iran mengatakan, lebih dari 200 orang tewas dalam serangan di seluruh wilayah Iran.
Media pemerintah Iran menyebut, salah satu serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran selatan, menewaskan sedikitnya 85 anak, menurut kantor kejaksaan setempat.
Para jaksa menyatakan, masih banyak anak perempuan yang terkubur di bawah reruntuhan.
Sabtu merupakan awal pekan sekolah dan kerja di Iran. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak, memperluas konflik ke wilayah yang lebih luas.
Baca juga: 6 Fakta Perang Komentar Netizen Korea vs Asia Tenggara, Awal Mula hingga Amanda Zahra Jadi Pemersatu
Sirene serangan udara meraung di Israel ketika sejumlah rudal menargetkan Tel Aviv dan Yerusalem pada Minggu pagi.
Menurut layanan penyelamatan Israel, 24 jam pertama konflik terbaru ini menyebabkan satu orang tewas dan 121 orang terluka.
Beberapa negara Teluk juga melaporkan serangan Iran, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Pemerintah Yordania, yang juga menjadi tuan rumah pangkalan militer utama AS, melaporkan telah menembak jatuh 49 pesawat tak berawak dan rudal balistik yang mengancam wilayahnya.
Di Dubai, asap terlihat mengepul dari bandara internasional tersibuk di dunia dan pelabuhan utamanya, sementara puing-puing akibat tabrakan sistem pertahanan udara dengan drone Iran menyebabkan sejumlah orang terluka di daerah permukiman.
Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negaranya.
Media resmi Iran, IRNA dan Fars, menyebut Khamenei wafat di kantornya saat sedang menjalankan tugas pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Dilansir Al-Jazeera, Minggu (1/3/), pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Hingga kini, belum ada detail lebih lanjut mengenai kronologi pembunuhan yang diumumkan secara resmi.
Serangan rudal AS dan Israel sejak Sabtu menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel serta ke beberapa negara Arab yang menampung pasukan AS, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan kematian Khamenei.
Ia menyebut Khamenei sebagai “salah satu orang paling jahat.”
Kematian Khamenei menandai eskalasi besar dalam konflik kawasan, dengan potensi dampak geopolitik yang meluas di Timur Tengah dan dunia internasional.
Baca juga: Kapal Perang Hingga Drone Kamikaze Siaga Tempur di Perairan Babel, Marinir Tembakkan Roket MLRS
Media pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan berkelanjutan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut.
Laporan yang sama menyebut putri, menantu, dan cucu Khamenei turut menjadi korban.
Selain itu, media pemerintah melaporkan sedikitnya 108 orang tewas akibat serangan di sebuah sekolah di Iran selatan.
Secara keseluruhan, korban jiwa disebut mencapai sedikitnya 201 orang yang tersebar di 24 provinsi.
Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional.
Meski demikian, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kronologi maupun lokasi pasti serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi tersebut.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 28 Februari menyatakan melalui media sosial bahwa Khamenei meninggal dunia setelah serangan militer besar-besaran oleh AS dan Israel.
Pernyataan itu mengindikasikan Washington mengklaim telah mengonfirmasi kematian tersebut dalam operasi gabungan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyebut terdapat banyak tanda bahwa Khamenei tidak lagi hidup.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup, memunculkan perbedaan informasi terkait kondisi sebenarnya.
Eskalasi perang Iran dan Israel berpotensi mengguncang pasar energi global.
Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 67 dollar AS per barel kini telah menembus level 80 dollar AS per barel.
Jika konflik meluas dan Selat Hormuz sampai ditutup, harga minyak bahkan berpotensi melesat hingga 100 dollar AS per barel.
Baca juga: Jadwal Badminton Indonesia Masters 2026 Hari Ini, Ada 3 Perang Saudara, Ubed vs Unggulan, Live Score
Dampaknya, Indonesia sebagai negara pengimpor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar harus bersiap menghadapi tekanan fiskal serta potensi kenaikan harga BBM.
Pengamat energi dan ekonom Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan lonjakan harga minyak sudah terlihat sejak serangan pertama dalam konflik di Timur Tengah.
Bila eskalasi perang semakin luas, situasi berpotensi makin memburuk.
“Yang jelas serangan pertama itu sudah menaikkan harga minyak. Kalau eskalasi perang meluas, itu pasti akan memicu kenaikan lebih tinggi lagi, bahkan bisa mendekati 100 dollar AS per barel,” ujar Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3).
Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent ditutup di level 72,48 dollar AS per barel, naik 2,45 persen.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,78 persen ke posisi 67,02 dollar AS per barel.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari 2026.
Negara Republik Islam itu juga memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital dalam perdagangan minyak dunia.
Selain lonjakan harga, penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai menjadi ancaman serius bagi rantai pasok global. Jalur tersebut merupakan rute utama pengangkutan minyak, gas, dan berbagai komoditas dunia.
Gangguan di jalur ini tidak hanya memukul kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak luas ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Fahmy menjelaskan, Indonesia masih mengandalkan impor minyak sekitar 1,2 juta barel per hari.
Sebagai net importer BBM, kenaikan harga minyak dunia otomatis memperbesar beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.
“Kalau harga mendekati 80 dollar AS per barel, Indonesia sebagai net importer BBM—sekitar 1,2 juta barel per hari—akan menghadapi tekanan APBN. Apalagi untuk subsidi, bebannya makin berat,” paparnya.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit. Untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax dan sejenisnya, harga relatif bisa disesuaikan mengikuti pasar.
Namun untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar, keputusan kenaikan harga menjadi sangat sensitif.
Jika harga BBM subsidi tidak dinaikkan, beban subsidi akan membengkak dan menekan fiskal negara.
Baca juga: Perang Amerika Serikat-Israel vs Iran Berimbas ke Piala Dunia 2026, Ini Sikap FIFA
Sebaliknya, jika dinaikkan, dampaknya bisa memicu inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, serta menghambat pertumbuhan ekonomi.
Tak hanya sektor BBM, industri berbasis gas dan energi juga berpotensi terdampak.
Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya produksi industri yang pada akhirnya bisa diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.
Untuk mengantisipasi dampak lebih besar, Fahmy menilai pemerintah perlu mengambil dua langkah strategis.
Pertama, pemerintah harus transparan menyampaikan perkembangan harga minyak dunia beserta konsekuensi fiskalnya kepada publik.
Menurutnya, selama harga minyak masih di bawah 100 dollar AS per barel, sebaiknya harga BBM subsidi belum dinaikkan.
Namun jika sudah menembus level tersebut, kenaikan menjadi opsi yang sulit dihindari dan perlu dikomunikasikan secara terbuka.
Kedua, pemerintah perlu mencari alternatif pasar ekspor dan jalur distribusi di luar kawasan Timur Tengah.
Mengingat sebagian arus perdagangan Indonesia melewati Selat Hormuz, diversifikasi tujuan dagang menjadi penting untuk meminimalkan gangguan rantai pasok.
“Harus mencari negara-negara alternatif di luar Timur Tengah sebagai pengganti sasaran ekspor. Saya kira dua hal itu yang harus dilakukan,” ungkapnya. (*)