TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Tren olahraga padel menjalar di segala penjuru kota, termasuk Purwokerto.
Tarif sewa lapangan yang lebih terjangkau membuat olahraga ini perlahan diminati sebagai alternatif aktivitas olahraga sekaligus nongkrong.
Dalam waktu kurang dari setengah tahun, lapangan padel menjamur di berbagai sudut Purwokerto. Fenomena ini menandai munculnya olahraga baru yang cepat digemari, terutama oleh kalangan muda hingga profesional.
Pemain padel sekaligus pegiat olahraga padel di Purwokerto, Dedy Afrengki menceritakan, ia mengenal padel sekitar enam bulan lalu, seiring dengan masuk dan berkembangnya padel di kota tersebut.
Sejak lapangan padel pertama dibuka di Purwokerto, ia sempat diundang untuk melakukan tes lapangan dan mencoba bermain.
"Sebelumnya, saya memang memiliki dasar bermain tenis. Pengelola lapangan juga tahu bahwa saya cukup akrab dengan olahraga raket. Akhirnya kami diundang untuk mencoba, dan ternyata rasanya seru, fun, dan menyenangkan," katanya.
Menurut Enky, sapaannya, padel adalah olahraga yang cukup mudah untuk disukai.
Permainannya tidak sesulit tenis. Meskipun demikian ia tetap butuh coaching, latihan, dan teknik tertentu.
Yang membuatnya menarik bukan hanya permainannya, tetapi juga suasana di lapangan. Selain olahraga, interaksi sosial di lapangan juga terasa seru dan menyenangkan.
Dalam empat sampai lima bulan terakhir, ia mengaku cukup intens bermain.
Rata-rata seminggu bisa dua sampai tiga kali.
Terkait tarif sewa lapangan, menurutnya, mahal atau murah itu sebenarnya relatif. Namun biaya padel di Purwokerto masih cukup terjangkau dibandingkan kota lain.
Ia bercerita saat ini ada sekitar tiga sampai empat tempat lapangan padel di Purwokerto.
Lapangan yang paling mahal pun tarifnya hanya sekitar Rp185.000 per jam.
Biaya itu juga tidak ditanggung sendiri, karena biasanya bermain minimal berempat.
"Jadi kalau Rp185.000 dibagi empat orang, jatuhnya relatif lebih terjangkau. Tarif tersebut belum termasuk sewa raket bagi yang belum memiliki. Sewa raket biasanya dikenakan biaya tambahan," ungkapnya.
Di Purwokerto juga ada lapangan yang lebih murah, dengan tarif sekitar Rp100.000 sampai Rp110.000 per jam. Kalau bermain dua jam dan pemainnya empat sampai delapan orang, biayanya akan terasa lebih ringan lagi.
Enky menambahkan, kebanyakan pemain padel menjadikannya sebagai olahraga selingan.
Mereka tetap menjalani olahraga utama, seperti tenis, lalu padel menjadi aktivitas tambahan untuk variasi.
"Menurut saya, padel mulai memengaruhi pola gaya hidup, terutama di kalangan anak muda hingga usia 40 tahun ke atas. Sebelumnya, kegiatan nongkrong lebih identik dengan kafe atau klub. Sekarang, banyak yang menghabiskan waktu di lapangan padel," jelasnya, beberapa waktu lalu.
Mereka datang berkelompok, misalnya delapan orang, patungan sewa lapangan, lalu bermain dari sore hingga malam. Ada juga yang bermain setelah jam kantor, mulai pukul 19.00 hingga 22.00 atau 23.00.
Aktivitas nongkrong kini beralih menjadi nongkrong sambil olahraga. Lapangan padel juga biasanya dilengkapi fasilitas seperti kafe, sehingga pemain tetap bisa memesan makanan dan minuman. Karena itu, padel mulai dianggap sebagai bagian dari gaya hidup.
Padel memang identik dengan olahraga berbiaya tinggi. Menurutnya investasi juga cukup mahal. Misalnya, harga raket bisa diatas Rp2 juta, tetapi ada juga yang jauh lebih mahal. Alternatifnya, pemain bisa menyewa raket dengan biaya sekitar Rp25.000 per sesi.
Ia berpandangan secara akses, sebenarnya semua orang bisa bermain, hanya saja belum ada lapangan padel gratis.
Untuk di Purwokerto, tarif tertinggi sekitar Rp180.000 per jam. Bahkan di kota besar seperti Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya, tarif lapangan bisa mencapai Rp350.000 per jam.
"Kalau bermain dua jam, biayanya sekitar Rp700.000. Dibagi delapan orang, masing-masing hampir Rp100.000.
Jika bermain tiga kali seminggu, dalam sebulan bisa menghabiskan lebih dari Rp1 juta. Itu yang membuat padel dianggap sebagai olahraga mahal," ucapnya.
Namun, untuk konteks Purwokerto, biayanya masih relatif terjangkau, meski belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Gaya hidup
Munculnya olahraga padel di Purwokerto belum sepenuhnya menggeser minat masyarakat terhadap olahraga lain seperti tenis.
Sejumlah pengelola lapangan menyebut kedua olahraga tersebut masih berjalan berimbang.
Nurfanani, pemilik usaha lapangan tenis di Purwokerto, menyebut kehadiran olahraga padel sebagai gaya hidup baru mulai menarik perhatian masyarakat.
Namun, menurutnya, pergeseran dari tenis ke padel belum terjadi secara signifikan.
"Pada prinsipnya, mereka yang sejak awal bermain tenis dan sudah lama menekuninya biasanya tetap bermain tenis. Hanya saja, ada beberapa yang menjadikan padel sebagai selingan," ujarnya.
Ia menilai, padel masih dianggap sebagai permainan baru oleh sebagian orang, sehingga banyak yang masih ragu untuk mencoba.
"Ada yang masih maju mundur, mau main padel atau tidak. Bahkan, beberapa orang yang dasarnya dari badminton menganggap padel itu sekadar permainan saja," katanya.
Menurutnya, minat terhadap padel juga dipengaruhi faktor usia. Kalangan muda dinilai lebih terbuka untuk mencoba, bahkan berpotensi menjadi atlet.
"Kalau usia masih muda, mereka mungkin ingin jadi atlet. Kesempatannya masih terbuka luas. Tapi secara umum, tenis dan padel saat ini masih berimbang," jelasnya.
Nurfanani mengaku baru lima bulan ini mencoba menghadirkan fasilitas padel di tempat usahanya.
Selain usaha di bidang olahraga, ia juga memiliki usaha lain di bidang kesehatan. Terkait respons masyarakat, ia menilai padel menawarkan permainan yang lebih singkat dan menyenangkan.
"Dalam padel, ada beberapa sistem permainan, termasuk skor, yang membuat durasi pertandingan tidak terlalu lama. Jadi kesan fun-nya lebih terasa. Tenis sebenarnya juga bisa, tetapi karena satu game bisa panjang, pemain jadi lebih cepat lelah," pungkasnya.
Fasilitas
Perbedaan harga antar lapangan biasanya dipengaruhi posisi dan kenyamanan.
Misalnya, sirkulasi udara, kedekatan dengan area nongkrong, dan penataan lapangan. Rp150.000 per jam, ada juga yang Rp110.000 sampai Rp120.000 per jam.
Dari segi fasilitas, sebenarnya hampir sama. Semua menyediakan toilet bersih, kamar mandi yang baik, dan fasilitas standar lainnya.
"Saat ini, lapangan yang dianggap paling eksklusif adalah yang berada di kawasan Andang Pangrenan, dengan tarif sekitar Rp 185.000 per jam," katanya.
Sementara lapangan yang dekat Mie Gacoan justru menjadi yang paling ekonomis, dengan tarif sekitar Rp 110.000 per jam. Bahkan saat bulan puasa, tarifnya pernah turun hingga Rp50.000 per jam.
Enky mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, akan ada sekitar empat lapangan baru yang segera dibuka, antara lain: di belakang Rita Mall (area Menara), Perumahan Graha Timur, belakang pom bensin Berkoh, dan kawasan Teras Bumi
Padel pertama di Purwokerto mulai sekitar September atau Oktober 2025.
Mulai Menjangkau Lebih Banyak Kalangan
Pengelola berharap olahraga ini bisa menjangkau kalangan lebih luas. Beberapa tempat bahkan menurunkan tarif hingga Rp50.000 per jam.
"Jika dibagi empat orang, biayanya hanya sekitar Rp12.500 per orang. Namun tetap ada biaya lain, seperti bola yang harus dibeli. Meski raket bisa disewa, bola biasanya harus dibeli sendiri," katanya.
Banyak pemain awalnya hanya menyewa raket.
"Saya sendiri baru membeli raket sekitar dua bulan lalu, setelah yakin akan rutin bermain. Kalau hanya bermain sekali dua kali, menyewa raket masih masuk akal. Tapi kalau sudah rutin, biasanya orang memilih membeli raket sendiri," paparnya.
Enky juga menyinggung soal lifestyle padel yang berbeda. Secara umum, outfit padel mirip dengan tenis atau bulu tangkis.
"Yang penting nyaman dan sesuai untuk olahraga. Namun, kecenderungannya memang banyak pemain yang tampil dengan outfit seragam dan merek tertentu. Karena padel sering dikaitkan dengan gaya hidup, banyak yang menggunakan perlengkapan dari brand mahal," ucapnya.
Rata-rata pemain padel berasal dari kalangan yang relatif mapan secara finansial dan waktu. Mereka punya fleksibilitas untuk rutin bermain.
Harga raket sangat bervariasi. Ada yang di bawah Rp1 juta, tetapi ada juga yang sangat mahal. Misalnya, ada pemain yang menggunakan raket seharga Rp12 juta. Bahkan ada raket edisi khusus dari merek tertentu yang harganya bisa mencapai Rp30 juta. Perbedaan harga biasanya dipengaruhi bahan, seperti karbon, yang membuat kontrol dan pantulan bola lebih baik.
Tren gaya hidup baru
Menurut Dr Tyas Retno Wulan, Sosiolog Unsoed Purwokerto, fenomena olahraga padel yang awalnya berkembang di kota-kota besar kini mulai merambah Purwokerto.
Kehadiran lapangan-lapangan padel baru memunculkan tren gaya hidup sekaligus ruang sosial baru bagi masyarakat.
Ada sisi positif yang bisa dilihat dari tren olahraga tersebut, terutama dalam konteks kondisi sosial saat ini.
Ia menilai, dunia saat ini sedang menghadapi berbagai persoalan, baik ekonomi maupun politik.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat membutuhkan ruang untuk menjadi pribadi yang tangguh atau resilien.
Sekarang ini dunia rasanya tidak baik-baik saja. Banyak persoalan ekonomi dan politik, sehingga orang membutuhkan cara atau ruang untuk menjadi resilien.
Resilien itu artinya tangguh, tidak mudah menyerah ketika menghadapi perubahan.
Salah satu cara untuk membangun resiliensi, menurut teori sosiologi, adalah melalui olahraga.
Aktivitas fisik dapat membantu seseorang menjaga kesehatan fisik dan mental, sehingga lebih kuat menghadapi tekanan hidup.
Dalam konteks itu, kehadiran padel di Purwokerto sebagai sesuatu yang positif.
Di Purwokerto saja sekarang banyak komunitas olahraga lari. Itu juga berbayar dan tidak murah, tetapi tetap diminati.
Harapannya, ruang-ruang seperti itu membuat orang lebih sehat. Kalau orang sehat, dia jadi tangguh.
Di sisi lain, fenomena padel tidak lepas dari aspek gaya hidup dan tren sosial.
Motif orang berolahraga ini tidak selalu tunggal. Sebagian orang mungkin terdorong oleh fenomena FOMO (fear of missing out), yakni rasa takut ketinggalan tren.
Ada yang memang ingin sehat, tapi ada juga yang ingin posting di media sosial, tidak mau dianggap ketinggalan zaman, ingin terlihat update atau sosialita.
Itu bukan berarti negatif, tetapi memang ada efek ikutan dari tren yang positif tadi.
Selain itu, fenomena padel juga menunjukkan adanya perubahan sosial di Purwokerto. Bertambahnya jumlah lapangan padel menandakan adanya pasar dan minat masyarakat.
Kalau sekarang ada empat lapangan, bahkan akan bertambah lagi, berarti memang ada pasarnya, ada peminatnya.
Padel, sebagai ruang sosial bagi kalangan tertentu, bisa berfungsi sebagai sarana membangun relasi. Mungkin memang tidak seperti golf, tetapi dari yang saya amati, padel menjadi tempat orang menjalin relasi, termasuk relasi bisnis. Sekarang dunia memang membutuhkan jejaring yang lebih luas.
Di beberapa tempat, bahkan terdapat fasilitator yang mempertemukan pemain dari berbagai komunitas agar bisa bermain bersama. Hal ini menunjukkan bahwa padel tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga ruang interaksi sosial. (Permata Putra Sejati)