TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/3/2026) berpotensi melemah, seiring memanasnya kawasan di Timur Tengah setelah serangan Israel-AS ke Iran.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437, dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.
"Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20–25 persen distribusi minyak dunia, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan," papar Imam.
Baca juga: Dampak ke Masyarakat Indonesia Adanya Perang Israel-Amerika Vs Iran
Menurutnya, ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Namun demikian, bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi.
"Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi diuntungkan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait," ujarnya.
Dalam kondisi global yang tidak pasti, kata Imam, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
Di sisi lain, jika eskalasi konflik menyebabkan lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan nilai tukar Rupiah dapat meningkat.
Menurutnya, kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui kenaikan nilai impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas Rupiah.
"Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," papar Imam.
Adapun pilihan saham yang direkomendasikan IPOT yakni, PT Energi Mega Persada (ENRG) beli di level Rp1.820 dengan target Rp2.000, tetapi jual rugi jika berada di bawah Rp1.755 per saham.
Kemudian, PT Archi Indonesia Tbk/ARCI (entry Rp1.900, target Rp2.030, Stop Loss Lalu, HM Sampoerna/HMSP (entry Rp910, target Rp980, Stop Loss Hal yang sama juga disampaikan, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda. Ia menyebut, pecahnya konflik AS-Israel dan Iran menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar, termasuk IHSG. "Untuk panic selling besar-besaran, kemungkinannya relatif terbatas kecuali terjadi eskalasi lanjutan yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, seperti gangguan serius pasokan energi dunia," ungkap Reza, Minggu (1/3/2026). Reza memprediksi IHSG akan bergerak dengan support di area 8.100–8.150 pada awal pekan. Jika tekanan global cukup besar, bukan tidak mungkin IHSG menguji area tersebut pada awal sesi. Namun selama level ini bertahan, peluang technical rebound tetap terbuka. Resistance terdekat berada di kisaran 8.350–8.400. Secara umum, IHSG berpotensi volatil dan menguji support pada awal perdagangan. Jika sentimen memburuk, indeks bisa turun di bawah 8.100. Namun tanpa eskalasi lanjutan, peluang rebound tetap ada. "Risikonya ada, tetapi belum mengubah tren secara signifikan," tandas Reza. Sedangkan untuk pilihan saham di tengah konflik geopolitik, Ia merekomendasikan sejumlah saham, yakni; Saham Migas Harga minyak yang berpotensi menguat bisa menjadi katalis positif bagi saham sektor energi. Saham Emas Kenaikan harga emas global dan sinyal teknikal Golden Cross membuka peluang penguatan lanjutan menuju resistance US$ 5.400 per ons troi dalam jangka pendek.