Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Perang sarung yang nyaris pecah di wilayah Kabupaten Cirebon memantik keprihatinan banyak pihak.
Fenomena yang kerap muncul saat Ramadan itu dinilai bukan bagian dari tradisi, melainkan bentuk kenakalan brutal yang berpotensi mengarah pada tindak pidana.
Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Musahwi M. Sosio menegaskan, perang sarung tidak bisa dibenarkan dengan alasan budaya.
“Perang sarung itu kan sebenarnya tawuran biasa. Itu tindakan brutal yang sering kali terjadi di anak-anak jalanan. Apalagi ini momentumnya bulan Ramadan, jangan sampai bulan Ramadan malah tercederai oleh perang sarung yang namanya juga saling menyakiti. Itu semua termasuk tindakan pidana,” ujar Musahwi saat diwawancarai Tribun, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, maraknya perang sarung saat Ramadan hanya persoalan momentum, bukan karena ada kaitan nilai religius di dalamnya.
“Fenomena tawuran itu sebenarnya sering kali marak di generasi remaja, khususnya anak-anak SMP atau SMA. Mungkin perbedaannya hanya karena sekarang memasuki bulan Ramadan, sehingga seolah-olah dianggap ada kaitannya dengan Ramadan, padahal sebenarnya tidak ada kaitannya secara langsung,” ucapnya.
Ia menegaskan, menyebut perang sarung sebagai tradisi adalah kekeliruan persepsi.
“Tradisi atau budaya itu tujuannya meninggikan derajat manusia, mendidik orang. Kalau misalkan itu menghancurkan orang lain atau kelompok lain, itu bukan tradisi. Itu perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, itu namanya patologi sosial,” jelas dia.
Musahwi menilai, penanganan fenomena ini tidak bisa dibebankan hanya kepada aparat kepolisian. Diperlukan kolaborasi lintas sektor.
Baca juga: Perang Sarung Nyaris Pecah di Losari Cirebon, Polisi dan Ulama Turun Tangan, 3 Remaja Bikin Surat
“Tokoh agama, guru, tokoh masyarakat dan orang tua harus ikut bersama-sama melakukan kontrol, di samping peran aparat. Aparat memang sangat penting untuk terus melakukan penjagaan di malam hari, terutama di waktu-waktu rawan saat anak-anak berkumpul,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan pola aktivitas remaja selama Ramadan.
“Momentum Ramadan ini anak remaja sering tidur di siang hari dan justru keluyuran di malam hari. Semangat mereka sedang tinggi-tingginya. Semangat itu harus kita arahkan bersama. Kalau tidak, mereka bisa terjerumus ke hal-hal negatif,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar Ramadan dimaknai sebagai bulan pengendalian diri.
“Ramadan itu harus dijadikan sebagai media untuk menahan diri. Jangan gunakan Ramadan untuk hal-hal negatif. Ramadan adalah waktu untuk kontrol diri dan kontrol sosial secara bersama-sama,” ucap Musahwi.
Ia pun berpesan khusus kepada generasi muda.
“Pesan saya untuk anak-anak remaja: Ayo, lebih baik kita mengaji, beribadah, dan melakukan hal-hal positif lainnya. Hindari berkumpul untuk hal yang tidak penting. Mari kita gunakan waktu malam hari untuk kegiatan yang bermanfaat saja,” jelas dia.
Baca juga: Teror Jalan Rusak di Jalur Alternatif Cirebon–Kuningan, Pengendara Kerap Jadi Korban Setiap Malam
*Video Viral dan Pembinaan Polisi*
Sebelumnya, perang sarung nyaris pecah di Desa Panggangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.
Peristiwa itu viral setelah video berdurasi 15 detik beredar di media sosial, memperlihatkan seorang pemuda diamankan warga usai diduga terlibat tawuran pada dini hari, Minggu (22/2/2026).
Merespons kejadian tersebut, jajaran Polresta Cirebon melalui Polsek Losari bergerak cepat melakukan pembinaan.
Kapolsek Losari, AKP Sugiono mengatakan, pihaknya menggelar imbauan dan arahan kepada remaja yang diduga akan melakukan perang sarung.
“Kami melaksanakan imbauan dan arahan kepada anak-anak Desa Panggangsari yang akan melakukan perang sarung. Kami tegaskan agar tidak mengulangi perilaku negatif tersebut,” ujar Sugiono dalam keterangan tertulisnya.
Tiga remaja yang diduga terlibat diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Kegiatan tersebut melibatkan unsur UPT Pendidikan, tokoh ulama, aparat desa, serta orang tua.
Polisi menegaskan perang sarung bukan sekadar kenakalan remaja, tetapi berpotensi mengarah pada tindak pidana.
“Tidak ada yang diuntungkan dalam kegiatan tawuran. Anak-anak siap menerima konsekuensi hukum apabila kegiatan perang sarung terjadi kembali,” ucap Sugiono.
Aparat desa berkomitmen meningkatkan patroli bersama guna mencegah tawuran selama Ramadan.
Sementara tokoh ulama mengingatkan agar bulan suci diisi dengan kegiatan ibadah, bukan aksi anarkis.
Polsek Losari memastikan patroli dan pembinaan akan terus ditingkatkan demi menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif selama Ramadan di wilayah Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.