TRIBUNPEKANBARU.COM - Kabar duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno wafat pada Senin (2/3/2026) pagi ini pukul 06.58 WIB.
Di balik sosoknya yang dihormati, ternyata ada perjalanan panjang kehidupan yang bisa menjadi inspirasi banyak orang.
Ia bukan serta merta berada di puncak karir sebagai orang nomor dua di Indonesia.
Karir politiknya dilalui dari kehidupan sederhana menuju puncak kekuasaan negara.
Baca juga: Kabar Duka, Wakil Presiden Ke-6 RI Try Sutrisno Wafat, Ini Profil Singkatnya
Baca juga: Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Wafat, Kondisi Kesehatan Menurun Sejak 16 Februari 2026
Try Sutrisno lahir bukan dari keluarga elite.
Ia justru meniti karier dari bawah.
Mantan ajudan Presiden Soeharto itu pernah menjadi penjual rokok, loper koran, hingga pedagang air minum di stasiun.
Tak banyak yang tahu, masa kecil Try dipenuhi kisah getir.
Dia bukan anak jenderal, bukan pula keturunan bangsawan.
Untuk membantu keluarganya, ia harus berjualan air minum di stasiun, menjadi loper koran, hingga penjual rokok keliling.
Latar hidup sederhana itu menjadikan Try figur yang tak pernah lupa akar perjuangan rakyat kecil, bahkan saat dirinya sudah menjabat sebagai orang nomor dua di republik ini.
Siapa sangka, lelaki kelahiran Surabaya, 15 November 1935, itu kemudian menjelma menjadi Wakil Presiden RI ke-6, mendampingi Soeharto pada periode 1993–1998.
Ironisnya, dia justru bukan sosok yang diinginkan oleh Soeharto sendiri untuk posisi strategis itu.
Dilansir dari intisari.grid.id, karier militer Try Sutrisno dimulai tahun 1956 saat dia diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).
Hanya setahun menimba ilmu, ia sudah diterjunkan langsung ke medan tempur, memperlihatkan dedikasi dan keberaniannya sejak muda.
Namanya makin diperhitungkan saat menjabat Panglima ABRI, posisi yang membuatnya begitu dekat dengan struktur kekuasaan Orde Baru.
Dia juga dikenal sebagai ajudan Soeharto pada periode sebelumnya, namun kedekatan itu tak lantas membuatnya jadi pilihan utama sang Presiden.
Kisah Try Sutrisno adalah refleksi nyata bahwa jalan menuju kekuasaan bisa hadir dari rute yang tak terduga.
Meski bukan pilihan utama Soeharto, dia membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi, dan kerja keras bisa mengantar siapa pun ke panggung tertinggi republik, dari penjual air minum menjadi Wakil Presiden RI.
Pada 1993, BJ Habibie yang kala itu menjabat Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan dikenal sebagai teknokrat ulung, menjadi kandidat kuat Wakil Presiden.
Dia bahkan mendapat dukungan dari partai berbasis Islam seperti PPP.
Namun di sisi lain, kalangan ABRI punya agenda sendiri.
Mereka mendorong Try Sutrisno, sosok yang secara struktur militer lebih bisa diterima sebagai pendamping Soeharto.
Akhirnya, dalam proses politik yang kompleks, Try-lah yang naik mendampingi RI 1, meskipun tanpa restu langsung dari Presiden Soeharto.
Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935.
Istri almarhum bernama Tuti Sutiawati.
Jejak Karier Militer
Try Sutrisno meniti karier panjang di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain:
Karier Politik
Sumber: WartaKotalive.com