TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gelombang konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang pecah sejak Sabtu (28/2/2026) berdampak langsung pada ribuan warga Indonesia di Tanah Suci.
Tercatat sekitar 58.000 jemaah umrah asal Indonesia belum dapat kembali ke Tanah Air karena situasi keamanan kawasan yang memburuk.
"58 ribu lebih jamaah kita masih tertahan di Arab Saudi," kata Ichsan Marsha, Jubir Kementrian Haji dan Umroh dikutip dari Youtube Kompas TV, Senin (2/3/2026).
Memanasnya situasi perang membuat sejumlah penerbangan dihentikan. Penutupan rute udara di beberapa wilayah turut memicu kekhawatiran maskapai, sehingga pembatalan jadwal terbang tak terhindarkan.
Kondisi ruang udara yang dinilai berisiko menjadi alasan utama pembatalan tersebut. Sejumlah negara transit juga memberlakukan penutupan akses penerbangan, mempersempit pilihan jalur kepulangan para jemaah.
Ichsan menjelaskan pihaknya tengah mengupayakan berbagai cara agar para jemaah yang tertahan dapat segera dipulangkan dengan aman.
"Berkaitan dengan skema, kita akan lakukan koordinnasi dengan PPU selaku penanggung jawab pemberangkatan dan pemulangan jamaah dan juga otoritas penerbangan," katanya.
"Karena ini berkaitan dengan penutupan ruang udara di berbagai negara transit," imbuhnya.
Menurutnya, langkah yang disiapkan masih bersifat opsi dan menyesuaikan dinamika situasi di lapangan. Aspek keselamatan jemaah menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan.
Beberapa alternatif yang dipertimbangkan antara lain pengalihan rute penerbangan, penjadwalan ulang kepulangan, hingga kemungkinan skema lain sesuai perkembangan kondisi.
Selain itu, koordinasi juga terus dijalin dengan otoritas di Arab Saudi untuk mengantisipasi kebutuhan tempat tinggal apabila masa tunggu para jemaah berlangsung lebih lama dari perkiraan.
"Untuk pengawasan dari kita kepada jamaah juga telah membentuk tiga tim yang dihadirkan di Terminal 1, Terminal 2 dan Terminal Haji di Jeddah untuk berkoordinasi dan memantau jamaah kita yang berada di tanah suci," katanya.
"Kita sudah melakukan pendataan, kita imbau akomodasi yang layak untuk jamaah. Sudah ada tim-tim yang membersamai jamaah kita di sana," ungkapnya.
Di sisi lain, dorongan agar pemerintah bergerak cepat juga datang dari parlemen. Anggota Komisi VII DPR RI, Selly Andriany Gantina, meminta adanya rancangan pemulangan yang jelas bagi jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Selly menegaskan negara memiliki tanggung jawab penuh untuk melindungi warganya yang tengah menjalankan ibadah di kawasan Timur Tengah.
"Negara harus memastikan adanya skema pemulangan yang jelas, terukur, dan memiliki kepastian waktu," kata Selly Andriany Gantina dalam keterangan di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
"Jemaah tidak boleh dibiarkan berada dalam ketidakpastian akibat dinamika global yang berada di luar kendali mereka."
Konflik di kawasan tersebut dinilai menempatkan jemaah umrah Indonesia dalam situasi yang rawan. Ketidakpastian jadwal perjalanan, aspek keamanan, hingga layanan selama menunggu kepulangan menjadi perhatian serius.
Selly juga menanggapi pernyataan KBRI Riyadh yang menyampaikan bahwa pemerintah terus mengikuti perkembangan serta telah melakukan langkah antisipasi.
Meski pernyataan tersebut dinilai sebagai pijakan awal yang penting, ia menekankan perlunya tindak lanjut yang konkret dan terstruktur agar proses pemulangan benar-benar terjamin.
Cerita Jamaah Umrah Asal Cirebon
Di tengah imbauan pemerintah agar calon jemaah menunda keberangkatan umrah akibat situasi keamanan di Timur Tengah yang dinamis, sebanyak 40 jemaah asal Cirebon yang diberangkatkan Salam Tour Travel dipastikan tetap menjalankan ibadah dengan lancar di Makkah.
Owner Salam Tour Travel, KH Dede Muharam mengatakan, hingga Senin (2/3/2026), belum ada pembatalan penerbangan maupun penutupan bandara yang berdampak pada rombongannya.
“Alhamdulillah, hari ini program grup yang sedang di Makkah itu hari terakhir. Insyaallah nanti malam waktu Maghrib Jeddah, mudah-mudahan tidak ada halangan, akan take off dari Jeddah ke Jakarta,” ujar KH Dede Muharamx saat berbincang dengan Tribun, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan, sampai saat ini kondisi penerbangan masih normal.
“Sampai hari ini baik dari airport maupun dari penerbangan tidak ada informasi pembatalan dan tidak ada informasi penutupan,” ucapnya.
Rombongan tersebut diketahui berangkat delapan hari lalu, tepatnya pada 23 Februari 2026.
Selama berada di Tanah Suci, aktivitas ibadah berjalan tanpa gangguan berarti.
“Alhamdulillah semua kegiatan lancar sampai pagi ini. Ini kan waktu Subuh di sana sekarang, baru selesai Subuh. Tidak ada hiruk-pikuk yang mengganggu ibadah,” jelas dia.
KH Dede menyebutkan, jumlah jemaah yang tengah menjalani ibadah umrah saat ini sekitar 40 orang.
“Ada 40-an grup kami,” katanya.
Mereka dijadwalkan kembali ke Indonesia pada Senin malam waktu setempat, langsung dari Jeddah menuju Jakarta.
Salam Tour juga telah menjadwalkan keberangkatan berikutnya pada 17 Ramadan mendatang.
Hingga kini, belum ada informasi pembatalan untuk jadwal tersebut.
“Tidak ada, dari penerbangan dan dari airport itu tidak ada,” ujarnya.
Terkait imbauan pemerintah, KH Dede membenarkan, bahwa informasi tersebut sudah diterima seluruh biro perjalanan.
“Sudah, semua sudah. Asosiasi travel se-Indonesia juga sedang menyampaikan terkait dengan imbauan dari Wakil Menteri Haji,” ucap KH Dede.
Namun menurutnya, selama belum ada larangan resmi atau penutupan akses penerbangan, perjalanan umrah masih memungkinkan dilakukan.
“Karena selama penerbangan tidak dilarang atau tidak ditutup, juga airport masih berjalan. Visa sudah siap, hotel sudah siap, tiket sudah siap,” jelas dia.
Ia juga menjelaskan, potensi risiko lebih besar justru berada di jalur penerbangan transit yang melewati sejumlah negara tertentu.
“Yang kemungkinan riskan itu yang melalui Qatar, Dubai atau Abu Dhabi. Jalur transit itu yang lebih riskan dibanding yang langsung ke Jeddah. Kalau kami menggunakan Saudi Airlines sehingga tidak ada transit,” katanya.
Belum Ada Jemaah yang Refund
Di tengah kekhawatiran situasi keamanan, KH Dede memastikan belum ada calon jemaah yang membatalkan keberangkatan atau meminta pengembalian dana.
“Alhamdulillah tidak ada. Tidak ada yang refund. Semua aman,” ujarnya.
Adapun, Salam Tour Travel sendiri berkantor di Andalus City Cirebon Lantai 1, Simpang 6 Kebon Pelok, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.
Sebagaimana diketahui, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengimbau calon jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatan sebagai langkah kehati-hatian pemerintah menyusul situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang dinamis dan belum sepenuhnya kondusif.
Imbauan tersebut ditegaskan sebagai bentuk perlindungan negara terhadap keselamatan warga Indonesia yang akan menjalankan ibadah di Tanah Suci.