Dedi Mulyadi Menangis Merasa Gagal Jadi Gubernur Soroti Kasus TPPO dan Masalah Sosial di Jabar
Hilda Rubiah March 02, 2026 12:44 PM

TRIBUNJABAR.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi emosional saat membahas kasus Tindak Pidanan Perdagangan Orang (TPPO) di Jawa Barat yang belakangan jadi sorotan.

Setelah menangani kasus 13 perempuan asal Jawa Barat jadi korban TPPO di Maumere, NTT, baru-baru ini, Dedi Mulyadi juga dimintai bantuan oleh WNI yang jadi korban TPPO di China dengan modus pengantin pesanan.

Mengenai kasus TPPO tersebut, Dedi Mulyadi mengaku sedih hingga banyak menangis.

Hal ini disampaikan Dedi Mulyadi saat Safari Ramadhan dan Tarling di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (28/2/2026) malam.

“Hari ini saya tidak ke mana-mana, hari ini air mata saya banyak jatuh (menangis),” ucap Dedi Mulyadi, dikutip dari tayangan Lembur Pakuan, Senin (2/3/2026).

Baca juga: Safari Ramadan di Cirebon, Dedi Mulyadi Janji Jemput Vina: “Kamu Masih Punya Pemimpin di Jabar”

Dedi Mulyadi mengaku menangis karena melihat sosok di media sosial yang dilihatnya seolah tak berhenti.

Gubernur Jabar itu pun menggambarkan sosok tersebut memiliki wajah cerah, membawa kedamaian dan dinilai hidupnya penuh dengan keyakinan tanpa rasa takut apapun, ucapannya pelan tapi menghujam.

Namun, Dedi Mulyadi tak menjelaskan sosok yang dimaksud, ia menyebut sosok tersebut memiliki penuh keyakinan hanya untuk Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Lantas, Dedi Mulyadi mengaku bermuhasabah, membandingkan dirinya dengan sosok tokoh tersebut.

Ia merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sosok tersebut.

Hal itu pun lantas membuatnya merasa gagal menjadi seorang pemimpin.


“Saya merasa jadi pemimpin, kok aku ini gak ada apa-apanya di banding dia, saya nangis dari tadi, gak ke mana-mana hanya mengurung diri, kok aku ini gak ada apa-apanya di banding dia, dia hebat sekali ya, tidak ada rasa takut, hidupnya ada satu untuk Allah dan Rasulullah, luar biasa,” ujarnya.

Lantas, Dedi Mulyadi menjelaskan alasan dirinya menangis karena merasa kufur nikmat.

Di balik kondisinya yang serba berkecukupan, di sisi lain dirinya banyak menemui kesengsaraan dialami warganya.

Ia mengaku merasa sangat sedih saat membandingkan kehidupan anaknya yang manja dengan nasib anak-anak perempuan Jawa Barat korban TPPO di Jawa Barat yang disiksa dan kelaparan hingga meninggalkan utang sehingga minta dijemput.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa jika warga sampai menjual diri karena lapar, maka itu adalah kesalahan pemimpinnya yang terlalu banyak menggunakan uang negara bukan untuk perut rakyat.

“Saya selalu berpikir kalau di Jawa Barat masih banyak orang nakal karena laparnya menjual diri, itu Gubernurnya belum bisa memberikan makan yag kenyang bagi rakyat,” ujarnya.

Dedi mengatakan bahwa sisi lain di balik banyaknya kasus TPPO itu bukan salah para korban melainkan juga kesalahan pemimpin.

Lalu, Dedi Mulyadi menyampaikan pesan moral, ia mengajak para pecinta Rasulullah untuk menunjukkan kecintaan melalui perilaku nyata, seperti menyayangi anak yatim, tidak sombong, dan rela menunda makanan demi orang yang merintih kelaparan.

Pembahasan tersebut dilanjutkan dengan menyanyikan karya lagunya tentang kerinduannya pada Rasulullah di tengah dunia yang dikepung angkara.

Saat lagu tersebut dinyanyikan, tampak Dedi Mulyadi menangis. Sesekali ia menyeka air matanya yang perlahan membasahi pipinya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ngamuk Trotoar Baru Dibangun Dirusak Proyek Kabel Optik, Mandor Disemprot

Soroti Masalah Sosial Peran Orang Tua dan Pendidikan Anak

Lebih lanjut, Gubernur Jawa Barat itu juga menyoroti masalah sosial di Jawa Barat. Ia menekankan bahwa infrastruktur yang mulus tidak akan berarti tanpa moralitas anak-anak yang dididik oleh orang tuanya.

Dedi Mulyadi mengingatkan agar orang tua harus tegas dan tidak membela anak yang berbuat salah di sekolah atau saat berkelahi.

Menurutnya, lebih baik anak menangis karena tidak dibelikan barang mewah daripada orang tua menderita utang demi gaya hidup anak.

Karena hal itu, Dedi Mulyadi menekankan bahwa pendidikan dan masa depan anak adalah prioritas utama yang patut diperjuangkan, bahkan jika harus berutang sekalipun.

Demi mensukseskan anak-anak, ibu-ibu diminta untuk rajin berpuasa dan berdoa.

Dedi Mulaydi pun menceritakan kisah ibunya yang buta huruf namun mampu membesarkan sembilan anak hingga sukses dengan gaji pensiun yang kecil karena kerelaannya untuk lapar demi anak-anaknya.

Dari kisah ibunya, sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi menerapkan prinsip pemimpin pun harus mau "puasa" dan mengurangi biaya hidup serta perjalanan dinas agar anggarannya bisa dialihkan untuk kepentingan rakyat, seperti membangun sekolah dan memperbaiki jalan.

Di akhir pidatonya, Dedi Mulyadi juga menyoroti masalah sosial anak muda di Cirebon, mulai dar tawuran, minuman keras, dan obat-obatan terlarang (eximer).

Dedi menyatakan perang terhadap para penjual barang haram tersebut karena telah merusak masa depan generasi muda. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.