TRIBUNTRENDS.COM – Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026), konflik Iran meluas ke berbagai negara di Timur Tengah.
Serangan balasan Iran menyasar kapal dan pangkalan militer AS, sementara ledakan dan aksi protes terjadi di kota-kota regional.
Ketegangan yang meningkat ini menimbulkan risiko serius bagi keamanan, pelayaran internasional, dan stabilitas global.
Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Minggu mengeklaim telah menyerang kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di wilayah Teluk.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, Iran menyebut kapal induk tersebut “dihantam empat rudal balistik”.
Serangan itu diklaim sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
“Darat dan laut akan semakin menjadi kuburan bagi para agresor,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, dikutip dari AFP.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat terkait klaim tersebut.
Di tempat lain, sebuah kapal yang berlayar di lepas pantai Uni Emirat Arab, dekat Selat Hormuz, dilaporkan mengalami kebakaran setelah terkena proyektil tak dikenal, Minggu (1/3/2026).
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), menyatakan insiden terjadi sekitar 17 mil laut di barat laut Mina Saqr.
“Petugas keamanan perusahaan melaporkan bahwa kapal tersebut terkena proyektil tak dikenal yang menyebabkan kebakaran. Api telah berhasil dipadamkan dan kapal berencana melanjutkan pelayaran. Otoritas saat ini sedang melakukan penyelidikan,” demikian pernyataan UKMTO.
Iran memblokir Selat Hormuz sebagai respons keamanan atas serangan atau ancaman militer dari AS dan Israel.
Mereka menjadikan jalur vital yang melintasi 20-30 persen pasokan minyak dunia ini sebagai alat tekanan geopolitik.
Efeknya adalah lonjakan harga minyak global, potensi krisis energi, gangguan pelayaran internasional, dan peningkatan risiko militer di Teluk.
Pemerintah Inggris melalui Kementerian Luar Negeri pada Minggu meminta warganya di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk “berlindung di tempat” atau shelter in place.
Sebagaimana dilansir Sky News, Inggris juga memperbarui imbauan perjalanan dengan menyarankan agar warganya tidak bepergian ke negara-negara tersebut kecuali untuk keperluan mendesak.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengatakan serangan balasan Iran bersifat “tanpa pandang bulu”, termasuk peluncuran dua rudal balistik ke arah Siprus, meski tidak diyakini menargetkan pulau tersebut.
Dikutip dari Reuters, Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV, menyerukan penghentian “spiral kekerasan” di Timur Tengah.
Di saat yang sama, sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv dan ledakan terdengar saat sistem pertahanan udara Israel mencegat rudal yang diluncurkan dari Iran.
Militer Israel mengumumkan serangan skala besar kembali dilancarkan ke “jantung” Teheran.
Israel juga mengeklaim telah menghancurkan sekitar setengah stok rudal Iran dalam konflik sebelumnya pada Juni 2025, sementara Iran disebut terus memproduksi puluhan rudal setiap bulan.
Di tempat lain, sistem pertahanan udara AS mencegat drone di Erbil, Irak.
Pemerintah AS juga memperingatkan warganya di Bahrain untuk menghindari hotel di Manama, serta staf kedutaan di Yordania diminta menghindari kompleks kedutaan karena risiko serangan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “deklarasi perang terhadap umat Muslim” dan berjanji akan membalas.
Pejabat keamanan Iran, Ali Larijani, bahkan menyatakan Iran akan menyerang AS dan Israel dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk dalam dewan kepemimpinan sementara bersama presiden dan kepala kehakiman hingga pemimpin baru ditetapkan.
Iran juga dilaporkan menyerang pangkalan militer AS di Kurdistan Irak dan kawasan Teluk Persia.
Ledakan terdengar di berbagai kota, termasuk Jerusalem, Dubai, Manama, dan wilayah Qatar. Seorang pejabat Uni Emirat Arab memperingatkan Iran agar tidak menyeret negara-negara tetangga dalam konflik.
Aksi massa terjadi di berbagai wilayah Iran, termasuk Teheran dan Yazd, menuntut balas dendam atas kematian Khamenei.
Di Irak, ratusan demonstran mencoba menerobos Zona Hijau di Baghdad yang menjadi lokasi Kedutaan Besar AS.
Di Pakistan, sembilan orang tewas saat massa mencoba menyerbu konsulat AS di Karachi.
Demonstrasi juga terjadi di Kashmir yang dikelola India, dengan ribuan peserta meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan negaranya bersiap mengevakuasi warga dari Timur Tengah menggunakan pesawat militer atau charter.
Badan energi atom PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA), mengagendakan pertemuan darurat terkait Iran pada Senin (2/3/2026).
Pertemuan ini digelar atas permintaan Rusia, sekutu utama Teheran.
Sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel, termasuk kepala intelijen kepolisian Gholamreza Rezaian.
Kepala staf angkatan bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, juga dilaporkan tewas bersama sejumlah jenderal senior lainnya. Nama Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh juga disebut dalam laporan media pemerintah.
Baca juga: Usia Para Pemimpin Dunia ketika Perang Dunia 3 di Depan Mata, Donald Trump Sudah 79 Tahun
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu dini hari. Media Iran juga melaporkan anggota keluarganya turut menjadi korban.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan, “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas".
Trump juga menegaskan serangan akan terus berlanjut dan memperingatkan Iran akan menghadapi kekuatan “yang belum pernah terlihat sebelumnya” jika melakukan balasan.
Iran mengonfirmasi kepala Garda Revolusi, Mohammad Pakpour, serta penasihat keamanan Ali Shamkhani tewas dalam serangan.
Garda Revolusi sebelumnya menyatakan akan melancarkan operasi “paling ganas” dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan militer AS.
United Nations Security Council atau Dewan Keamanan (DK PBB) menggelar pertemuan darurat.
Perwakilan Iran menuduh AS dan Israel melakukan kemungkinan “kejahatan perang” dengan menyerang warga sipil.
Sejumlah negara seperti Iran, Irak, Kuwait, Suriah, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Israel menutup wilayah udara mereka.
Banyak maskapai juga membatalkan penerbangan ke Timur Tengah, menyebabkan gangguan perjalanan internasional.
Dikutip dari AFP, usai AS-Israel serang Iran dan tewaskan Khamenei, kekerasan telah meluas ke sejumlah wilayah, termasuk:
Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran ini menunjukkan situasi yang semakin kompleks dan berisiko meluas, dengan dampak tidak hanya pada keamanan kawasan, melainkan juga stabilitas global.