TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN-Korwil SPPG Tarakan menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan Komisi IIDPRD Tarakan terkait banyaknya keluhan orang tua untuk menu MBG selama Ramadan 2026 yang disajikan di sekolah Tarakan, Kalimantan Utara dalam RDP pagi hingga siang yang berlangsung di Ruang Rapat Utama DPRD Tarakan, Senin (2/3/3036).
Dewi Korwil SPPG Tarakan menyampaikan pertama terkait adanya informasi menu tidak layak yang diklasifikasikan menu berulat dan basi.
"Untuk yang berulat, biasanya ada pada sayur dan saat menu kering ini ada pada buah kurma biasanya. Nah kalau pada sayur itu kita sudah melakukan SOP yang baik di dapur. Sayur datang dipilah, dicuci,dicucinya bahkan sesuai tiga kali," ungkap Dewi.
Kemudian lanjutnya, biasanya di dapur itu, sayur tidak langsung dioseng. Khususnya biasa ya untuk tumis.
Baca juga: Breaking News, Menu MBG Ramadan di Tarakan Dikeluhkan, Telur Hitam hingga Kurma Berulat
"Yang ada ulatnya itu biasa kacang panjang, buncis. Jadi mereka biasanya direbus dulu. Jadi ada dua kali nih, direbus baru ditumis biar lebih panjang. Sebelum ditumisnya tuh juga direbus dulu. Sebelumnya juga dsiram air panas, baru diangkat," urainya.
Ia mengungkapakan kemungkinan masih ada ulat di sayur di dala msayur kacang misalnya.
"Jujur jika ada laporan ada ulat kita sudah berusaha untuk mengantipasi hal itu.Jika ada terjadi seperti itu itu bisa dilaporkan ke SPPG-nya dan bisa diganti. Kemarin saat yang viral itu, itu makanannya sudah habis. Makanannya sudah habis. Tersisa hanya ulatnya. Itu yang di video sama mereka," paparnya.
Alur seharusnya saat ditemukan, maka disampaikan ke SPPG-nya jika belum dimakan dan nanti ditukar.
Selanjutnya berbicara kurma yang ditemukan bermasalah, lanjutnya selama inikurma disiapkan suplier. Jika ada aduan temuan ulat misalnya maka harus segera disampaikan. Langkah dilakukan pihaknya adalah menegur SPPG agar menegur supliernya.
Baca juga: Bahan Baku dan Harga Jadi Kendala Pendistirbusian MBG di KTT, Terpaksa Datangkan dari Tanjung Selor
"Seharusnya saat menu MBG isi kurma sampai di rumah, hrusnya jangan langsung dimakan tapi dibelah dulu dilihat. Itu kemasannya bagus. Kurma dibelikan kemasannya per kg. Tanggal kedaluwarsa jauh, dan saat dibuka ternyata bermasalah," paparnya.
Sehingga harus diperiksa betul-betul. Jika ada temuan di masyarakat maka masyarakat bisa dilaporkan dan nanti ditukar oleh SPPG.
Selanjuntnya Dewi juga menjawab persoalab kemasan. Di BGN sendiri lanjutnya sebenarnya memiliki SOP untuk menu MBG selama Ramadan. Di antaranya menggunakan totebag dan tujuannya mengurangi penggunaan sampah plastik berlebihan.
"Banyak SPPG meminta bantuan ke sekolah agar sampaikan ke anak-anaknya untuk dipindahkan ke wadah milik anak-anak. Di sisi lain ada juga sekolah memberikan masukan kalau tidak pakai plastik tidak simpel dibawa pulang. Jadi kami kemarin tampung semua masukan-masukan mana solusi terbaik," paparnya.
"Misalnya ada ayam ungkep, tempe ungkep maka harus divacum. Dan harusnya ditegur SPPG-nya kalau masih pakai plastik gula," terangnya.
Ia melanjutkan lagi, jika divacum tentu sangat baik. Lebih lanjut lagi kata Dewi dari sisi tampilan untuk vacum sangat baik.
Berbicara Harga Per Porsi (HPP), dihitung berdasarkan kebutuhan dan juga disiapkan spare untuk yang mengalami rusak. Misalnya beli ayam Rp40 ribu per kg. Dalam per kg dipotong menjadi 10 bagian maka mendapat harga Rp4000 per ayamnya.
"Belum lagi bumbunya. Sehingga antisipasu BGn mendapat komentar ini, di sosmed SPPG nanti disuruh cantumkan kandungan dan HPP. Karena ada porsi kecil dan porsi besar," tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah