Selain itu, potensi keterlibatan kelompok Houthi di Laut Merah juga membuka risiko gangguan di Bab el-Mandab.
Jika jalur itu terganggu, arus perdagangan yang melewati Terusan Suez dan Mesir terancam tersendat. Kapal-kapal terpaksa memutar lewat Afrika, memicu kenaikan ongkos logistik global dan harga barang.
Oleh sebab itu, Nailul mengingatkan lonjakan harga minyak akan membebani fiskal.
Kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan memperbesar subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
“Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” kata dia.
Nailul pesimistis, pemerintah bisa mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global.
Opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.
Ia pun menyebut, kenaikan harga energi akan mendorong biaya freight dan premi asuransi yang dampaknya akan ke pelaku usaha berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi risiko berlapis.
“Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation,” katanya.
Hal senada juga disampaikan, Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi.
Ia menyebut, kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan Selat Hormuz akan memengaruhi harga solar domestik, komponen utama biaya operasional transportasi darat.