TRIBUNJATENG.COM - Refpin, Asisten Rumah Tangga (ART) asal Kabupaten Muratara, Sumsel tak pernah mengakui perbuatan mencubit anak majikan.
Untuk itu ia bahkan sudah sujud di depan polisi.
Tak ada saksi atau CCTV dalam peristiwa itu.
Namun, kasusnya tetap berjalan. Kini Refpin masih ada di penjara untuk menjalani semua proses peradilan.
Refpin dilaporkan mencubit anak majikannya yang seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkulu.
Baca juga: Penderitaan Bocah Sukabumi yang Meninggal Penuh Luka, Disebut Tak Hanya Disiksa Ibu Tiri
Baca juga: Gerhana Bulan Total Warnai Malam ke-14 Ramadan, Ini Waktu Terbaik Melihat Blood Moon di Purwokerto
Adapun peristiwa ini terjadi ada Agustus 2025 di rumah kediaman anggota dewan tersebut.
Akibat kejadian tersebut, kini Refpin telah mendekam dalam jeruji atas perbuatan yang tak pernah diakuinya dilakukan sama sekali.
Siska, Pihak Yayasan Peduli Kerja Mandiri (PKM) selaku penyalur Refpin mengungkapkan, kejadiannya bermula tanggal 20 Agustus 2025 lalu saat Refpin kabur dari rumah majikannya dan kembali ke yayasan.
"Ketika kabur pulang ke yayasan, saat itu dia mengatakan bahwa tidak betah bekerja," ungkap Siska saat dihubungi Tribunsumsel.com, Minggu (1/3/2026).
Awalnya majikannya memberi kabar kepada admin yayasan PKM dengan mengatakan Refpin kabur dan telah mencuri dengan total kerugian Rp 5 juta.
Setelah itu, dua hari kemudian, tiba-tiba tanggal 22 Agustus pihak yayasan mendapat surat PDF, menyatakan bahwa Refpin dilaporkan atas tuduhan penganiayaan terhadap anak majikannya tempatnya bekerja.
"Kemudian setelah itu berproses sudah panjang sekali, sudah bolak-balik Bengkulu dan Repfin sudah ditanya-tanya juga ditambah tidak ada rekaman CCTV dan saksi melihat," ungkapnya.
Bahkan dalam pertemuan itu, di kantor Polisi Refpin sempat dipaksa diminta mengakui perbuatannya dengan nada di bawah ancaman.
Ancamannya bila perkaranya mau selesai Refpin harus mengakui perbuatannya.
"Refpin ini sujud depan Polisi Bengkulu dan suami saya kebetulan anggota juga, dia Cium kaki majikan dan mengaku memang kabur, tapi, disuruh ngaku mencubit anaknya, dia tidak mau, karena tidak dilakukannya sama sekali," ujarnya.
Karena merasa iba Siska mengaku sempat mempraperadilkan perkara tersebut, beruntung saat viral di Bengkulu banyak pihak yang membantu sampai sekarang, walaupun perkaranya tetap jalan.
Bahkan ketika viral dan ada salah satu ketua partai di Bengkulu sempat menyarankan agar perkara ini ditempuh jalan damai, namun, istrinya dari anggota dewan ini kekeuh tidak mau damai.
"Kami sempat praperadilan Alhamdulillah ada pengacara yang bantu Repfin dan beberapa tim tetap bantu sampai sekarang," ujarnya.
Karena proses hukum terus berjalan Refpin sudah ditahan karena perkaranya tengah dalam persidangan.
Siska pun mengungkapkan sebelum dilaporkan pihak majikannya ke polisi, ketika dua Minggu pertama bekerja Refpin mengatakan memang sudah tidak betah bekerja dengan majikannya.
"Refpin ini mengaku tidak nyaman bekerja ditempat itu. Ada catatannya, sudah dirangkum, memang tidak betah sama sekali," bebernya.
Siska menambahkan dan berharap perkara ini cepat selesai, karena kasihan Refpin ini anak orang susah, dapat gaji sedikit saja langsung transfernya ke keluarga dan ia sendiri tidak pernah menikmatinya.
Bahkan, selama terjerat hukum Refpin ini tidak pernah menghubungi keluarganya dari pertama masuk sel tahanan sampai sekarang.
"Anaknya kuat, masuk tahanan pun tidak didampingi keluarga. Hanya didampingi kuasa hukum karena memang tidak ingin merepotkan keluarga. Bapaknya ingin dampingi dia tidak mau, dia anak mandiri," ujarnya.
Harusnya, lanjut Siska perkara ini tidak perlu masuk meja hijau dan sampai ke pengadilan, apalagi mantan majikannya anggota dewan yang terhormat.
"Padahal anaknya tidak sakit, apalagi sampai masuk rumah sakit tidak, tapi mungkin dia menganggap Penganiayaan seperti apa, tapi selama masih sehat dan bisa sekolah apa salahnya dimaafkan," tutupnya. (Tribun Sumsel)