Selat Hormuz Ditutup Imbas Perang Iran vs AS-Israel, Ini Dampak untuk Indonesia Termasuk di Priangan
ferri amiril March 02, 2026 03:19 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Pecahnya perang berkepanjangan yang kembali menyita perhatian dari negara Iran dengan Amerika Serikat juga Israel pada tanggal sejak akhri Februari 2026, menjadi isu global yang banyak dibahas belakangan ini.

Bukan tanpa alasan, perasi militer yang menyasar berbagai fasilitas strategis di Iran yang berpuncak pada 1 Maret 2026 kemarin ini, diketahui menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Konflik tersebut mendorong kawasan Timur Tengah menuju konflik baru dan memicu kekhawatiran besar di pasar komoditas global.

Meskipun sektor industrinya telah bertahun-tahun berada di bawah tekanan sanksi Amerika Serikat, Iran diketahui tetap memegang peranan krusial dalam peta ekonomi dan energi global, yang berdampak besar terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Lantas apa sebenarnya maksud dari penutupan Selat Hormuz di Iran dan apa dampaknya bagi Indonesia, terutama di Jabar?

Baca juga: Iran Makin Sangar, Serang Pangkalan Militer Amerika di Qatar, Trumph Umumkan Gencatan Senjata

Pemblokiran Selat Hormuz

PENUTUPAN JALUR SELAT HORMUZ
JALUR SELAT HORMUZ - Iran diketahui tetap memegang peranan krusial dalam peta ekonomi dan energi global, yang berdampak besar terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia. (Tangkapan layar akun @rigitrogot)

Iran menjadi negara dengan posisi geografis yang sangat strategis sebab menjadi jalur laut paling penting di dunia, dengan adanya jalur Selat Hormuz.

Keberadan selat yang hanya berukuran lebar 21 mil tersebut menjadi titik ekonomi global yang bisa saja mencekik perekonomian dunia dengan sekejap mata.

Ya, selat yang terletak di di antara Teluk Persia dan Laut Oman, jalur ini setiap harinya dilintasi sekitar 30 persen produksi minyak global.

Sekitar 20 barel ditambah sejumlah pasokan LNG yang menjadi penggerak mobilitas seluruh kehidupan di eropa melintas di jalur penting ini.

Jika kenyataan pahit jalur ini ditutup, maka yang terjadi adalah keterlambatan dan menumpuknya sistem angkutan minyak dunia sebab harus memutar jalur lintasan yang lebih jauh yakni Afrika.

Baca juga: Parlemen Iran Setujui Penutupan Selat Hormuz Imbas Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran, Ini Efeknya

Hal ini menyebabkan keterlambatan berminggu-minggu dan menelan biaya besar dari pada biasanya.

Disinilah titik masalah sebenarnya secara global, sebab harga minyak akan naik, inflasi meningkat, dan perdagangan global akan melambat dalam skala besar. 

Adapun terdapat sejumlah dampak global ini sangat pasti bersimbas ke tanah air, diantaranya:

1. Naiknya harga bahan bakar yang tinggi

Pengamat Ekonomi Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, menyebut perang Amerika Selatan dan Israel kepada Iran yang terjadi saat ini membawa konsekuensi luas. Salah satunya efek domino perekonomian. 

Aknolt menjelaskan, pertama, dampak perekonomian global salah satunya terjadi kenaikan harga energi. 

Pemerintah kemudian mengambil langkah untuk menjawab situasi ini, per 1 Maret 2026 harga BBM non-subsisi resmi naik. 

Meski begitu, harga BBM subsidi masih tetap di angka Rp10 ribu. 

Tidak hanya itu, negara-negara yang membutuhkan (importir) energi seperti Jepang, India, dan negara-negara Eropa akanmenghadapi tekanan inflasi tambahan. 

Aknolt menyoroti dalam konteks yang lebih luas, situasi ini akan menyebabkan risiko stagflasi global, dimana pertumbuhan ekonomi melambat atau bahkan stagnan dan tingkat inflasi naik. 

Kenaikan harga BBM turut menggerus daya beli rumah tangga. Padahal, pemerintah tengah berupaya menjaga konsumsi domestik agar ekonomi riil tetap bergerak.

Kenaikan biaya produksi dan penurunan permintaan bisa memicu pengurangan tenaga kerja. Menjelang Idul Fitri, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) tentu menjadi kekhawatiran tersendiri.

Baca juga: 3 Fasilitas Nuklir Dibom Amerika, Iran Balas Serang Israel, Luncurkan Puluhan Rudal Hancurkan Haifa

2. Disrupsi rantai pasok dan perdagangan

Situasi di Timur Tengah membuat pelaku industri menghentikan atau mengalihkan jalur aktivitas bisnisnya di wilayah Timur Tengah. 

Kenaikan biaya ini bukan tanpa alasan. Tambahan jalur atau rute logistik yang tentu membutuhka biaya dan bahan bakar lebih banyak. 

Ketegangan geopolitik global mulai menunjukkan dampaknya ke pasar keuangan. 

3. Pengalokasian Anggaran Pembangunan dari Pemerintah ke arah Perlindungan Sosial

Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak. 

Sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia secara nasional.

Sebab indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor minyak yang bisa saja mengalami fluktuasi dikemudian hari.

4. Rupia Melemah

Pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS.

Hal ini tidak menutup kemungkinan akan memicu inflasi barang impor karena banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.

5. Memicu Gerakan Radikal Transnasional dan Sentimen Anti-Barat di Tanah Air

Kuatnya instabilitas di Timur Tengah juga bisa mengundang stigma dan kepercayaan nasional mengenai Sentimen Anti-Barat atau Radikal Transnasional.

Pasalnya, Indonesia sediri merupakan satu dari sekian negara yang tumbuh beriringan dengan konflik di beberapa daerah.

Dimana pemantik-pemantik tersebut bisa saja memanfaatkan situasi dan menyerang dari dalam.

Pasalnya, jika hal ini terjadi bisa dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara.

Ditengah situasi geopolitik yang sangat kompleks dan tidak stabil saat ini, bahkan hanya akan menghitung jam lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan.

Untuk itu, pemerintah juga perlu memperkuat fondasi ekonomi untuk fokus pada pembangunan ekonomi dalam negeri, terutama sektor energi. 
Hal ini demi mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.

Diversifikasi energi dapat meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.