SURYA.co.id, MOJOKERTO - Mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto memperdayakan masyarakat, melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dari bekas minyak goreng (Jelantah).
Peserta pelatihan mayoritas adalah emak-emak, mereka begitu antusias membuat lilin aromaterapi sembari ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa.
Produk lilin aromaterapi ini bernilai ekonomi, sekaligus menjadi solusi penanganan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan khususnya bagi warga Desa/ Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.
Mahasiswa Universitas Uluwiyah Mojokerto, M. Rafinda Alfredo (22) mengatakan, kegiatan pelatihan diikuti ibu rumah tangga yang digelar di kediaman pelaku UMKM di Desa Pungging.
Baca juga: Breaking News: Kecelakaan di Tol Jombang Mojokerto, Truk Tangki Terjun ke Sungai Gedeg
Inovasi sederhana berupa lilin aromaterapi dari jelantah ini, dapat dimanfaatkan warga untuk mengolah limbah jelantah dan membuka peluang ekonomi baru.
"Kita ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna, ternyata dapat menjadi peluang usaha jika dikelola inovatif," ujar Rafi sekaligus Ketua Kelompok KKN tersebut, Senin (2/3/2026).
Menurut Rafi, ide pelatihan kreatif ini berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan, mayoritas masyarakat menganggap selama ini minyak jelantah dari aktivitas rumah tangga dibuang begitu saja.
Limbah jelantah yang dibuang tanpa diolah berpotensi mencemari lingkungan setempat.
"Mahasiswa KKN Kelompok 1 berinisiatif menggelar pelatihan kreatif, mengubah limbah jelantah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekaligus bernilai ekonomi," bebernya.
Pelatihan berlangsung interaktif, peserta ibu-ibu rumah tangga dilatih membuat lilin aromaterapi dari nol.
Peserta memahami proses penyaringan minyak, teknik pencampuran bahan tambahan, pemberian aroma terapi, hingga pencetakan dan pengemasan produk agar tampil menarik dan layak dipasarkan.
"Produk ini memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan menjual minyak bekas secara mentah," pungkas Rafi.
Rafi menambahkan, kegiatan ini juga mendorong kemandirian ekonomi dan edukasi pada masyarakat untuk lebih peduli lingkungan.
"Dengan mengolah minyak jelantah menjadi produk kreatif, warga secara tidak langsung ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan desa," tukasnya.
Satu liter minyak jelantah bisa menghasilkan sekitar 8-10 lilin aromaterapi, ukuran sedang dengan aneka warna yang beragam.
"Prosesnya tidak sulit dan hasilnya cantik, ini bisa menjadi peluang usaha rumahan,” kata warga setempat.
Dosen Pembimbing Lapangan, Afidatusholikha mengungkapkan, program ini merupakan bagian dari pengabdian Mahasiswa KKN Uluwiyah Kelompok 1 fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dengan semangat ekoteologi.
"Ekoteologi disini diartikan sebagai menumbuhkan nilai-nilai ajaran agama tentang pelestarianl lingkungan hidup, untuk menjadi solusi permasalahan lingkungan hidup yang muncul akibat industrialisasi. Misalnya, nengolah limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ini merupakan contoh konkret," jelas Afidah.
Afidah berharap, inovasi sederhana ini dapat terus dikembangkan menjadi usaha bersama dan berkelanjutan memberi dampak jangka panjang bagi perekonomian Desa Pungging.
"Melalui kreativitas dan kolaborasi, limbah rumah tangga yang sebelumnya terabaikan kini berubah menjadi lilin aromaterapi yang bukan hanya harum, tetapi juga membawa harapan baru bagi warga," tutupnya.