Eks Loper Koran Jadi Wapres, Kisah Try Sutrisno yang Ternyata Bukan Pilihan Utama Presiden Soeharto
Tsaniyah Faidah March 02, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kabar duka datang dari keluarga besar Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno yang dilaporkan meninggal dunia pada hari ini, Senin (2/3/2026).

Sosok yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-6 periode 1993–1998 ini meninggalkan catatan sejarah panjang yang bermula dari kehidupan yang sangat sederhana di Surabaya.

Lahir pada 15 November 1935, Try Sutrisno bukan datang dari keluarga elite atau kalangan bangsawan.

Ia tumbuh di tengah situasi sulit masa penjajahan yang memaksanya menjadi tulang punggung keluarga di usia 10 tahun.

Saat itu, ayahnya pergi bergabung dengan para pejuang untuk membela NKRI, sementara perhiasan ibunya sudah habis terjual demi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Try mencari cara untuk menghasilkan uang.

"Karena tidak punya modal saya hanya beli kendi. Saya berikan air. Saya jual di stasiun," ungkap Try Sutrisno, melansir dari YouTube Metro TV.

Setelah mengumpulkan modal dari hasil berjualan air, ia mengembangkan usahanya dengan menjadi loper koran hingga penjual rokok keliling.

Aktivitas ini ia lakukan di sela-sela waktu sekolah dasarnya.

"Ada untung. Nah itulah untuk hidup sehari-hari," ujarnya.

Menjadi Tobang dan Meniti Karier Militer

Keluarga Try sempat mengungsi ke Kediri, di mana ia kemudian menjadi 'tobang' atau pelayan bagi para pejuang.

Tugasnya saat itu adalah membersihkan senjata dan melayani kebutuhan para tentara.

Pengalaman ini membentuk karakter disiplin dan mental pejuangnya sejak usia dini hingga akhirnya ia memutuskan masuk militer melalui Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1956.

Motivasi utamanya masuk militer adalah semangat juang tentara yang ia lihat di masa perang serta keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang fakultas.

Baca juga: Potret Istri Try Sutrisno Tuti Sutiawati, Tegar Saat Pemakaman, Beri Salam Perpisahan Pusara Suami

Titik balik penting dalam kariernya terjadi saat ia ditunjuk menjadi ajudan Presiden Soeharto. 

Selama lima tahun menjadi ajudan, Try memanfaatkan posisinya untuk belajar tentang kepemimpinan nasional melalui diskusi langsung dengan Pak Harto mengenai isu kabinet hingga tamu negara.

Nama Try Sutrisno semakin diperhitungkan saat ia menjabat sebagai Panglima ABRI.

Puncak karier politiknya terjadi pada tahun 1993 ketika ia terpilih menjadi Wakil Presiden RI ke-6.

Namun, posisi ini diraih melalui proses politik yang kompleks di MPR.

Pada masa itu, BJ Habibie sebenarnya menjadi kandidat kuat yang didukung oleh kalangan teknokrat dan partai berbasis Islam. 

Namun, kalangan ABRI memiliki agenda sendiri dan mendorong Try Sutrisno sebagai sosok yang secara struktur militer lebih bisa diterima.

Akhirnya, fraksi-fraksi di MPR memilih Try, dan Presiden Soeharto menyetujuinya meskipun Try disebut bukan pilihan utama sang Presiden untuk posisi tersebut.

Sebagai Wakil Presiden, Try ditugaskan di bidang Wasrik Pembangunan (Pengawasan dan Pemeriksaan Pembangunan).

Tugas ini ia jalankan secara terstruktur selama lima tahun.

Dua setengah tahun pertama ia gunakan untuk meninjau langsung pembangunan di seluruh provinsi.

Sementara dua setengah tahun berikutnya digunakan untuk melakukan pemeriksaan di tingkat kementerian sebelum menyerahkan laporan kepada presiden.

Kini, sosok yang memulai kariernya dari seorang penjual air minum di stasiun itu telah tutup usia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.