SERAMBINEWS.COM - Memasuki hari ke-12 Ramadhan 1447 Hijriah, duka akibat musibah banjir besar yang melanda Aceh pada 28 November 2025 lalu rupanya belum sepenuhnya menguap.
Di balik khidmatnya lantunan ayat suci di masjid-masjid, masih ada ribuan penyintas yang harus berbuka dan sahur di tengah keterbatasan di hunian, sementara maupun rumah kerabat, lantaran kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Fenomena sosial dan spiritual ini menjadi pembahasan utama dalam program "Serambi Ramadhan" yang tayang di kanal YouTube Serambinews.com, Senin (2/3/2026).
Menghadirkan Pengurus DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk. Burhanuddin, MA, diskusi tersebut mengupas tuntas tema "Di Tengah Lumpur dan Doa: Makna Puasa bagi Penyintas Banjir Aceh".
Program ini merupakan kerja sama Serambi Indonesia dengan ISAD Aceh dan didukung Bank Aceh Syariah. Selama Ramadhan, program tersebut tayang setiap hari pukul 14.30 WIB dan dipandu host Gina Zahrina.
Baca juga: Bagaimana Hukum Berpuasa dalam Keadaan Berjunub? Simak Penjelasan Tgk Salman dalam Serambi Ramadhan
Musibah banjir Aceh yang terjadi pada (28/11/2025) masih menyisakan persoalan serius.
Sejumlah warga terdampak hingga kini belum memiliki rumah layak huni. Sebagian lainnya kehilangan sumber penghasilan, seperti toko, kebun, dan sawah.
Di tengah kondisi tersebut, para penyintas memasuki bulan Ramadhan dengan keterbatasan. Banyak yang masih tinggal di hunian sementara atau menumpang di rumah keluarga.
Harapan dan doa menjadi penguat utama mereka untuk bangkit dari keterpurukan.
Dalam perspektif Islam, Tgk. Burhanuddin menekankan bahwa musibah merupakan tazkirah (pengingat) untuk meningkatkan keimanan.
Bagi para penyintas, kesabaran dalam menghadapi ujian ini diyakini akan berbuah pahala berlipat ganda, terutama di bulan suci Ramadhan.
“Bagi penyintas banjir, mereka mendapatkan pahala berkali lipat jika menyadari bahwa ujian ini adalah bagian dari kecintaan Allah. Nabi mengajarkan kita untuk berdoa agar musibah ini diganti dengan yang lebih baik,” ujarnya.
Baca juga: Tgk Mustafa Husen Woyla Jelaskan Makna Keihklasan dan Keridhaan dalam Bincang Serambi Ramadhan
Namun, Tgk. Burhanuddin juga menegaskan bahwa ujian ini bukan hanya milik para korban, melainkan juga ujian bagi masyarakat yang memiliki kelapangan rezeki.
Ia mengetuk pintu hati publik untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum emas dalam menyalurkan sedekah dan infak.
Kepedulian sosial sangat dibutuhkan saat ini, terutama bagi para korban yang kini kehilangan sawah, kebun, hingga toko yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarga mereka.
Menurutnya, musibah merupakan ujian sekaligus pengingat (tazkirah) agar manusia meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat kesabaran, empati, dan kepedulian sosial.
Ia menegaskan, penyintas banjir yang bersabar dan tetap berikhtiar akan mendapatkan pahala berlipat ganda.
Dalam ajaran Islam, ujian adalah bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa ketika tertimpa musibah: Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha.
Yang artinya “Ya Allah, berikan aku pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah dengan yang lebih baik darinya.”
Baca juga: Ketua ISAD Aceh Jelaskan Makna Keihklasan dan Keridhaan dalam Bincang Serambi Ramadhan
Doa tersebut, kata dia, menjadi penguat batin agar musibah justru menambah keimanan, bukan sebaliknya.
Menurutnya, sikap mental pertama yang harus dimiliki adalah rida terhadap takdir.
Dengan sikap rida, seorang hamba akan tetap mampu mengingat Allah dan menemukan kedamaian batin meski berada dalam kondisi yang sangat sulit secara ekonomi maupun fisik.
Mengakhiri diskusi tersebut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mendekat kepada Allah saat dalam keadaan sempit, tetapi juga menunjukkan ketakwaan saat dalam kondisi lapang dengan cara berbagi.
Semangat solidaritas yang kuat diharapkan dapat menjadi mesin penggerak bagi percepatan pemulihan Aceh secara kolektif.
Dengan saling bahu-membahu, duka akibat banjir diharapkan dapat segera terhapus oleh kehangatan persaudaraan di bulan yang penuh berkah ini.
(Serambinews.com/Gina Zahrina).