Tata Cara Salat Gerhana Bulan Resmi dari Kemenag, Terjadi Besok 3 Maret 2026
Machmud Mubarok March 02, 2026 07:35 PM

 

TRIBUNPRIANGAN.COM – Tribuners, tepat di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini, masyarakat Indonesia akan kembali menyaksikan momen Gerhana Bulan pada hari Selasa (3/3/2026).

Hal ini sudah resmi diumumkan langsung oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berdasarkan Almanak 2026 yang dirilis resmi.

Dimana fenomena ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam umbra atau bayangan inti Bumi ini, akan kembali bisa disaksikan seluruh masyarakat tanah air, tentunya tanpa alat bantu.

BMKG menyebutkan bahwa gerhana ini terlihat jelas di semua zona waktu di Indonesia, dengan fase puncak, Bulan akan tampak berwarna merah, sebuah fenomena yang dikenal sebagai blood moon.

Warna merah ini muncul akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi: cahaya biru tersebar lebih banyak, sementara cahaya berwarna merah tetap diteruskan hingga mengenai permukaan Bulan.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Tampak Jelang Buka Puasa di Jabar

Untuk umat muslim sendiri, gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam melainkan menjadi momen spritual untuk menyaksikan kebesaran Allah sekaligus beribadah kepada-Nya.

Untuk itu, ketika terjadi gerhana bulan ada ibadah khusus bagi umat Islam yang disebut dengan salat Khusuf.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Bisa Disaksikan Seluruh Indonesia, Ini Durasi Lengkap Amalannya

Hukum Melaksanakan Salat Gerhana Bulan

Nah Tribuners, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 2002), halaman 108 menjelaskan, hukum melaksanakan salat khusuf ini adalah sunnah muakkadah alias sunnah yang sangat dianjurkan.

Pelaksanaannya pun tidak jauh berbeda dengan gerakan salat sunnah pada umumnya.

Syekh Nawawi menjelaskan, salat gerhana memiliki tiga tingkatan. Pertama adalah paling minimal, yaitu dua rakaat sebagaimana salat sunnah zuhur.

Kedua adalah tingkat pertengahan dengan dua kali rukuk dan dua kali sujud.

Ketiga adalah tingkatan sempurna, yaitu setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat-surat panjang sesuai kemampuan, misalnya Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan Al-Ma’idah atau seukuran itu. Rukuk dan sujudnya pun dilakukan sesuai panjang bacaan surat tersebut.

Baca juga: Peristiwa Alam yang Langka di Bulan September, Ada Gerhana Matahari di Tanggal 21

Tata Cara Salat Gerhana Bulan

Tata cara melaksanakan salat gerhana bulan (khusuf) tingkat pertengahan adalah sebagaimana berikut:

1. Niat salat gerhana yang dibarengi takbiratul ihram. Lafal niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Latin: Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Saya niat sholat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

2. Membaca doa Iftitah.

3. Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah.

4. Membaca surat Alquran dengan jahr (lantang).

5. Rukuk pertama (lama).

6. Bangkit dari ruku (I‘tidal).

7. Membaca surat Al-Fatihah kembali.

8. Membaca surat yang lebih pendek dari surat pada poin 4.

9. Rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama).

10. Bangkit dari ruku (I‘tidal).

11. Sujud pertama.

12. Duduk di antara dua sujud.

13. Sujud kedua.

Selanjutnya berdiri untuk melaksanakan rakaat kedua dan tata caranya pun sama sebagaimana pada rakaat pertama. Namun, bacaan suratnya lebih pendek daripada bacaan surat pada rakaat pertama. Setelah itu, dilanjutkan melakukan tasyahud akhir dan ditutup dengan salam.

Tata cara salat khusuf atau gerhana bulan itu pada dasarnya adalah sama seperti sholat sunnah pada umumnya. Perbedaannya terletak pada jumlah rukuk dan sujud yang dilakukan di setiap rakaatnya.

Baca juga: Setelah Gerhana Bulan, Akan Menyusul Gerhana Matahari Parsial, Catat Ini Lokasi yang Bisa Saksikan

Hikmah Salat Gerhana Bulan

1. Untuk Menghormati Allah SWT

Dilansir dari The Spirit of Shalat yang ditulis oleh Al-Hafidz Qathabuddin Al-Qasthalani, salat gerhana sejatinya dilakukan untuk menghormati Allah SWT dengan melanggengkan rasa takut dan waspada.

Sebab, makhluk yang sebesar matahari dan bulan saja bisa dihilangkan kebahagiaan dan cahayanya dengan sangat mudah. Maka, tentu saja apa yang bisa membuat keduanya tampak begitu lemah adalah sesuatu yang lebih besar dan berkuasa, yaitu Allah SWT.

 

2. Pendekatan Diri kepada Allah SWT

Hikmah salat gerhana yang selanjutnya adalah bentuk pendekatan diri seorang hamba kepada Allah SWT agar terhindar dari hal yang ditakuti.

Gerhana matahari dan bulan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT dan peringatan dari-Nya. Dialah yang mengatur semua urusan termasuk pergerakan matahari dan bulan.

Jika saja Dia menghentikan rotasi keduanya, itu merupakan hal yang mudah. Dan hal tersebut tentu saja dapat membawa mala petaka bagi manusia.

Oleh sebbab itu, ketika mengalami gerhana matahari dan bulan, umat Islam disunahkan untuk melakukan salat gerhana sebagai bentuk meminta perlindungan kepada sang khalik.

Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah, matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah. Gerhana terjadi pada keduanya bukan karena kematian atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka pujilah Allah, besarkan dan sucikanlah Dia sampai gerhana hilang."

Baca juga: 2 Lokasi Pengamatan Gerhana Bulan Total Tengah Malam Ini di Bandung, Pantau via Live Streaming

3. Menyadari Kebesaran dan Kekuasaan Allah SWT

Hikmah salat gerhana yang ketiga adalah kita dapat menyadari betapa besar dan kuasanya Allah SWT.

Di mana proses gerhana adalah karena adanya sesuatu hal yang menutupi matahari atau bulan sehingga cahayanya tertutup dan tidak sampai di bumi, sebagaimana dijelaskan dalam buku Indahnya Syariat Islam yang ditulis oleh Ali Ahmad Al Jarjawi.

Sesungguhnya, matahari itu sangat besar. Tempatnya berada di langit keempat dan karena inilah kita hanya bisa melihatnya seperti bulatan kecil.

Makhluk yang besarnya sebagaimana matahari dan bulan saja tunduk patuh kepada Allah SWT. Sebagai hamba yang beriman, kita perlu menyadari betapa kuasanya Allah SWT. Dialah yang mengatur alam semesta dengan sebaik-baiknya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.