TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno dikenal memiliki hubungan dekat dengan KH Abdul Rahman Ambo Dalle.
KH Abdul Rahman Ambo Dalle merupakan pendiri Pondok Pesantren Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso.
Sekretaris Dewan Syuro PKB Sulawesi Selatan, Wahyuddin Kessa, mengatakan Try Sutrisno menaruh hormat yang tinggi kepada KH Ambo Dalle.
Setiap kali berkunjung ke Sulsel, Try Sutrisno kerap menyempatkan waktunya menemui KH Abdul Rahman Ambo Dalle.
Salah satu pertemuan paling dikenang terjadi pada tahun 1993.
Try Sutrisno menggelar silaturahmi khusus dengan Gurutta Ambo Dalle.
Kedekatan keduanya tidak sekadar mencerminkan relasi formal antara pejabat negara dan ulama.
Baca juga: Sosok Dua Anak Try Sutrisno Pangkat Jenderal, Ada Peluang Jabat Panglima Ikuti Jejak Ayahnya
Lebih dari itu, hubungan tersebut terjalin sebagai ikatan batin layaknya ayah dan anak.
Semasa hidupnya Try Sutrisno merupakan sosok tentara profesional yang memiliki visi politik sipil yang sangat karismatik.
Ia dikenal sebagai jenderal yang intelektual, bijak, dan tidak meledak-ledak dalam mengambil keputusan.
“Beliau luar biasa. Kita jarang melihat tentara yang sebaik beliau. Banyak jenderal dan mantan panglima, tapi Pak Try Sutrisno ini memiliki kelebihan khusus,” ujar Wahyuddin, Senin (2/3/2026) usai mendengar kabar Try Sutrisno meninggal dunia.
Menurutnya, salah satu faktor yang membentuk karakter humanis Try Sutrisno adalah kedekatannya dengan para ulama, khususnya Gurutta Ambo Dalle.
Hubungan emosional keduanya terjalin erat sejak Try Sutrisno masih aktif di militer hingga menjabat Panglima ABRI dan Wakil Presiden.
“Gurutta Ambo Dalle wafat pada November 1996. Pak Try Sutrisno ini punya hubungan emosional yang sangat kuat dengan beliau,” kata Wahyuddin.
Wahyuddin mengaku mengenal Try Sutrisno sejak dirinya masih menjadi aktivis.
Ia mengikuti perjalanan karier almarhum mulai dari perwira, Pangdam, Panglima ABRI, hingga menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Soeharto.
“Menurut saya, Pak Try Sutrisno adalah salah satu jenderal yang benar-benar intelektual,” ujarnya.
Dalam pandangan Wahyuddin, ketegasan Try Sutrisno tidak pernah ditunjukkan dengan sikap represif.
Pada era 1990-an, ketika gelombang gerakan mahasiswa dan NGO prodemokrasi menguat, pendekatan yang ditempuh Try Sutrisno dinilai lebih humanis.
“Cara beliau mengatasi gerakan mahasiswa dan NGO waktu itu tidak terlalu represif. Bahkan cenderung dekat dengan para aktivis,” jelasnya.
Kisah yang paling membekas bagi Wahyuddin adalah ketika Try Sutrisno secara tulus mengangkat dirinya sebagai anak Gurutta Ambo Dalle.
Bukan dalam pengertian formal anak angkat, melainkan pengakuan batin seorang murid kepada guru spiritualnya.
“Saya tahu beliau jadi anak Gurutta Ambo Dalle saat Gurutta sedang sakit. Pak Try sendiri yang menyatakan dirinya sebagai anak, dan Gurutta pun mengakui, ‘iya, kamu memang anak saya’,” tutur Wahyuddin.
Ia juga mengenang momen saat mengunjungi Gurutta Ambo Dalle di masa sakitnya.
Saat itu, sang ulama menunjukkan sebuah selimut yang digunakan terakhir kali, yang disebut sebagai pemberian dari Try Sutrisno.
“Gurutta tidak banyak bercerita, tapi beliau bilang, ‘itu anak saya’. Bagi kami, itu menunjukkan betapa dalam hubungan keduanya,” kenangnya.
Kisah tersebut mencerminkan ketawadhuan Try Sutrisno sebagai seorang pemimpin negara yang menempatkan dirinya rendah di hadapan ulama.
“Itulah Pak Try Sutrisno. Seorang jenderal besar, tapi memilih merendah dan belajar pada ulama,” ujarnya.