- Tersangka pembacokan mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau, Raihan Mufazzar (22), mengaku tidak berniat membunuh korban, Faradilla Ayu Pramesti (23).
Hal itu terungkap dalam rekaman pemeriksaan yang dilakukan penyidik kepolisian terhadap Raihan, usai peristiwa pembacokan yang terjadi di lingkungan kampus UIN Suska Riau pada Kamis (26/2/2026) pagi.
Saat kejadian, korban tengah berada di ruang sidang kampus untuk bersiap mengikuti ujian akhir.
Raihan mendatangi korban dan sempat menyampaikan rasa sakit hatinya.
Tanpa perdebatan panjang, pelaku kemudian mengeluarkan senjata tajam dan membacok tangan kiri serta kepala korban.
Dalam kondisi bersimbah darah, Faradilla berusaha menyelamatkan diri dengan berlari keluar ruangan untuk mencari pertolongan.
Pengakuan Raihan
Saat pihak kepolisian melakukan interogasi, penyidik secara tegas mempertanyakan tujuan Raihan saat melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam.
“Dek, adek, Tujuan kau, target kau melakukan pembacokan itu apa? Cacat atau mati?” tanya penyidik kepada Raihan.
Raihan yang terduduk di lantai dengan tangan terborgol, membelakangi jendela kaca, mendongak ke arah penyidik dan tampak terkejut saat mendengar pertanyaan tersebut.
Ia terlihat mendengarkan setiap pertanyaan penyidik dengan saksama.
Saat mencoba menanggapi, Raihan menggelengkan kepala dan menjawab singkat sambil menunduk, dengan tatapan kosong.
“Tidak mati,” ucap Raihan.
Penyidik kemudian menekankan bahwa alat yang digunakan tersangka merupakan senjata mematikan.
“Kalau kau tidak mau bikin mati, tapi alat yang kau gunakan itu alat yang bikin mati. Kau gunakan kampak dan parang. Tujuan kau mau mati kan?” ujar penyidik.
Raihan kembali menggeleng dan membantah hingga berulang kali.
“Tidak,” katanya.
Meski demikian, penyidik menilai tindakan Raihan menunjukkan indikasi kuat adanya niat serius melukai korban, terutama karena serangan diarahkan ke bagian kepala dan wajah.
Raihan tetap bersikeras bahwa dirinya tidak memiliki niat menghabisi nyawa korban, meskipun penyidik menilai penggunaan kapak dan parang berpotensi mematikan.
“Sudah jelas mau dibunuh ini,” kata penyidik dalam pemeriksaan.
“Tapi target kau mati ya, mau membunuh ya,” lanjut penyidik menegaskan.
Pengakuan Raihan itu memperkuat dugaan bahwa serangan dilakukan secara sadar dengan sasaran vital, meski tersangka mengklaim hanya ingin membuat korban cacat, bukan membunuh.
Motif Raihan
Sebelumnya, Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, mengatakan motif pembacokan dipicu rasa sakit hati yang berkaitan dengan hubungan pribadi antara pelaku dan korban.
Anggi membenarkan bahwa Raihan dan Faradilla sempat terlibat hubungan tanpa status sebelum peristiwa tersebut.
“Bisa dibilang si pelaku ini memiliki harapan atau perasaan lebih terhadap korban, namun korban tidak menanggapinya dengan yang diharapkan sesuai dengan keinginan pelaku. Mungkin bahasa sekarang hubungan tanpa status,” kata Anggi, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Anggi, selama menjalin hubungan tersebut, pelaku menganggap relasinya dengan korban sudah seperti pacaran.
Namun, korban tidak merasakan hal yang sama.
“Si pelaku merasa dia ke korban itu sudah seperti layaknya pacaran, namun korban tidak merasakan hal yang sama,” ujarnya.
Raihan disebut semakin emosi setelah Faradilla memutuskan hubungan tanpa status yang telah mereka jalani selama beberapa bulan.
“Pelaku menyatakan memang sakit hati saja kepada korban karena menurut pelaku korban menyudahi hubungan yang sudah dijalani beberapa bulan ke belakang,” kata Anggi.
Saat ini, Raihan telah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani proses hukum lebih lanjut atas perbuatannya, sementara korban masih menjalani perawatan akibat luka serius yang dialaminya.
(*)
# SADIS # RAIHAN # Wajah # Mahasiswi UIN # Cacat # Membunuh # Faradilla Ayu Pramesti # Raihan Mufazzar # Suska Riau # Cacat #