Laporan Reporter Tribunbengkulu.com, Yayan Hartono
TRIBUNBENGKULU.COM, SELUMA - Dugaan praktek jual beli jabatan dalam mutasi 149 kepala sekolah yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Seluma pada 13 Februari lalu perlahan mulai terkuak.
Sumber Tribunbengkulu.com, mantan kepala sekolah di wilayah Dapil 4 Seluma, membenarkan praktek jual beli jabatan terjadi saat mutasi tersebut.
"Saya ditawari oleh oknum Dikbud itu, tapi saya tidak mau. Alhasil, saat ini saya tidak lagi menjabat kepala sekolah," ucap sumber Tribunbengkulu.com yang minta namanya tidak ditulis, Senin (2/3/2026).
Dijelaskannya, sebelum mutasi digelar, oknum pejabat Dikbud tersebut berkunjung ke sekolah yang dipimpinnya. Saat itu, oknum tersebut mulai mengarahkan pembicaraan yang intinya menawarkan jika ingin menjabat kepala sekolah kembali.
"Saya rasa bukan saya saja yang dihubungi atau ditawarkan seperti itu. Miris ya, kayaknya susah maju pendidikan Seluma kalau oknum seperti ini terus dipertahankan," tambahnya.
Sumber yang sama juga menilai mutasi kepala sekolah ini sangat amburadul. Dampaknya, banyak guru menumpuk di satu sekolah sehingga tidak mendapatkan jam mengajar.
"Ini juga membuktikan, kalau mutasi ini amburadul. Jika kajian dan analisanya tepat, tidak akan ada guru menumpuk. Sampai tidak mendapat jam mengajar," ungkapnya.
Ia berharap Bupati dan Wakil Bupati Seluma dapat mengevaluasi mutasi yang telah dilaksanakan Dikbud Seluma, agar ke depan tidak ada oknum yang berani bermain saat mutasi kepala sekolah.
"Saya tidak mempersoalkan saya tidak lagi menjabat kepala sekolah. Namun saya harap pak bupati bisa mengevaluasi Dikbud Seluma. Tujuan pak bupati untuk memajukan pendidikan, susah terwujud jika oknum jual beli jabatan ini masih ada," pungkasnya.